Pendidikan Yang Berwawasan Kemandirian

Pendidikan-Karakter_1328233176Oleh: C. Dwi Atmadi – Sejatinya , pendidikan tak boleh menghasilkan manusia bermental benalu dalam masyarakat, yakni lulusan pendidikan formal yang hanya menggantung¬kan hidup pada pekerjaan formal semata. Pendidikan selayaknya menanamkan kemandirian, kerja keras dan kreatifitas yang dapat membekali manusianya agar bisa survive dan berguna dalam masyarakat. Justru dari kemandirianlah manusia mampu mencapai level self esteem dan aktualisasi dirinya sebagaimana diungkapkan dalam teori Kebutuhan Maslow.

Betapa banyak produk benalu dalam masyarakat, deretan manusia yang menjadi pengangguran sejati, menjadi beban dalam keluarganya, dan buruknya, mengarah ke rawan kriminalitas.

Mengingat kita saat ini berada pada dunia dengan iklim yang sangat kompetitif, kompetensi kuantitatif bisa saja menjadi satu-satunya parameter yang diakui namun absurd. Apalah artinya keunggulan kompetitif itu jika tak disertai dengan kompetensi kualitatif, berupa kepekaan moralitas dan budi pekerti, kemandirian yang humanis. Sistem pendidikan yang menyeimbangkan kedua kompetensi itu serta merta mampu menghasilkan sistem negara madani, adil dan makmur.

Melawan neo-liberalsme global saat ini, dalam kerangka dialektika, pendidikan dapat mengatasi kapitalisme dengan menggerakkan penduduk dari segala kelas secara keseluruhan untuk memiliki modal dan faktor-faktor produksi yang disesuaikan dengan keahliannya. Kapitalisme juga bisa dikontrol dengan menanamkan kepribadian dan semangat kerja keras menghasilkan karya yang bersendikan pada keadilan sosial dan pengakuan akan hak-hak pribadi dan berkemanusiaan.

Kegagalan Pendidikan

Pendidikan tak boleh menghasilkan masyarakat penghayal, hanya memimpi¬kan kehidupan mewah bak sinetron, menghasilkan pseudo community, masyarakat pura-yang menjadikan kehidupan pribadi bak panggung sandiwara, memarginalkan peran lembaga pernikahan dengan gemar kawin cerai, atau hanya berharap datangnya superhero yang kemunculannya mampu mengatasi segala kesulitan hidup, tanpa perlu mengandalkan kekuatan diri pribadi.

Kegagalan pendidikan yang paling fatal adalah ketika produk didik tak lagi memiliki kepekaan nurani yang berlandas¬kan moralitas, sense of humanity. Padahal substansi pendidikan adalah memanusia¬kan manusia, menempatkan kemanusiaan pada derajat tertinggi dengan memaksi¬mal¬kan karya dan karsa. Ketika tak lagi peduli, bahkan secara tragis, berusaha menafikkan eksistensi kemanusiaan orang lain, maka produk pendidikan berada pada tingkatan terburuknya.

Pendidikan yang mendewasakan

Mari berkaca pada kisah Suster Rabiah, sang Suster Apung, berbekal pendidikan kesehatan dari bangku sekolah, bertugas sebagai perawat selama 28 tahun hingga sekarang di kepulauan Liukang Tangaya di selatan Pulau Sulawesi, dekat perairan laut Flores. Ia harus menembus ganasnya gelombang laut dan melawan batas kewenangannya sebagai perawat, serta tidak menyerah oleh keterbatasan fasilitas yang ada di tempat-tempat terpencil tersebut. Contoh yang lain, adalah Saur Marlina “Butet” Manurung, cendekia yang menanggalkan pekerjaan formal untuk mengajar baca tulis bagi suku Anak Dalam di kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas dan Bukit Tiga Puluh Jambi.

Juga ada dr Diana Bancin, dokter muda berusia 24 tahun yang mengabdi sebagai tenaga PTT di Pulau Maya Karimata di sebelah barat pulau Kalimantan. Daerah tersebut sudah 9 tahun tidak memiliki dokter dengan tingkat pemahaman masyarakat yang rendah tentang kesehatan, mereka menghadapi ancaman epidemi malaria.

Dokter Diana mencoba melakukan apa yang dia bisa untuk kesehatan masyarakat, dalam kondisi daerah yang terisolasi, sulit air bersih, dan minim fasilitas kesehatan. Juga ada kisah seorang warga desa ilir – Indramayu yang bernama Solikin (64 tahun) mencoba menyelamat¬kan Pantai Utara Jawa di tengah abrasi dengan cara meraklamasi pantai walau mendapatkan berbagai pertentangan dari warga sekitar. Faktor ekonomi menjadi faktor kesekian dalam motivasinya, bahkan nihil. Inilah contoh pendidikan yang memotivasi dan menggerakkan, membentuk kepribadian pengabdian kepada kemanusiaan tanpa tergeser oleh faktor ekonomi.

Sesungguhnya kita tak perlu berharap banyak bagi munculnya banyak ragam pendidikan hybrid yang lebih mengutama¬kan keunggulan kuantitatif daripada kualitatif secara short time/instant. Mungkin kita akan merasa kehilangan romantisme sistem pengajaran masa lalu yang lebih menekankan pada imple¬mentasi budi pekerti yang sudah tak tercantum lagi dalam slot kurikulum kita. Kita teramat berharap pada sistem pendidikan yang tak hanya optimal, tapi juga mampu menumbuhkan kearifan-kearifan lokal yang menyentuh nurani, membesarkan hati, mendewasakan sikap dan perilaku, namun juga mampu menghidupkan secara ekonomi. Satu hal yang mungkin teramat sulit bagi pemerintah kita saat ini.***

(dari berbagai sumber)