MISA NOVENA VI GOA MARIA FATIMA NGRAWOH: ”Sesarengan Ibu Maria, Ambangun Pasedhèrèkan Sejati.”

331642_3798305868412_1845184402_o(1)Ngrawoh (LENTERA) – Perayaan Ekaristi Novena VI putaran II di Taman Doa & Goa Maria Fatima Ngrawoh, Kamis (02/08) terkesan sangat Istimewa. Kesan ini tampak mulai dari perayaan Ekaristi diadakan selebrasi, (Rm. Agustinus Supriyadi, Pr dan Rm. Robertus Hardiyanta, Pr) dan hadirnya segenap Dewan Paroki, dan segenap panitia pembangunan Taman Doa & Gua Maria Fatima Ngrawoh, serta kedatangan umat kurang lebih 750 orang yang hadir sejak sore, baik dari paroki Sragen maupun luar paroki Sragen. Keistimewaan juga tampak / terlihat Ekaristi pada malam itu disemarak¬kan oleh iringan gendhing serta koor dari para “pangrawit” dan paduan suara (para pesindhen) dari Wilayah Bartolomeus Sidoharjo, Pimpinan Bapak Sutarno. Ditambah lagi petugas liturgi dari OMK Paroki Santa Perawan Maria Fatima Sragen.

Ekaristi kali ini dengan tema: ”Sesarengan Ibu Maria, Ambangun Pasedherekan Sejati”. Yang merupakan kelanjutan refleksi umat Paroki Santa Perawan Maria Fatima Sragen dalam usaha mewujudkan tempat Ziarah berupa Taman Doa dan Gua Maria. Dalam mengawali renungan Rm. Agustinus Supriyadi, Pr merasa kesulitan menghubungkan antara Tema, Bacaan I dan Bacaan Injil yang dibacakan pada malam itu. Tetapi setelah di cermati dengan memulai dari pertanyaan “Sesami kula punika sinten?” Rm. Agustinus dengan cerdas, elegan mampu mengupas secara piawai, tuntas dan pas sesuai dengan tema.

Lebih lanjut Rm. Agus (panggilan akrab Rm. Agustinus Supriyadi, Pr) mengajak umat untuk mencontoh tindakan Orang Samaria yang baik hati: mau berkorban untuk orang yang sedang menjadi korban, menyerahkan dua dinar (seluruh yang dia punya) dan kesanggupan untuk membayar waktu kembali. Seperti Bunda Maria yang baik hati: mau berkorban, menyerahkan diri dan memiliki kesanggupan untuk membayar semua.

Sekalipun orang Samaria yang dipakai oleh Yesus dalam membuat perumpamaan pada bacaan Injil itu tidak sehebat Bunda Maria tetapi perlu diteladani. Dan kita perlu menghindari sikap sombong yang melupakan Tuhan bahkan melawan kehendak Tuhan seperti yang dilakukan oleh orang – orang Babilonia yang ingin membangun menara yang puncaknya mencapai langit.

Dalam mengakhiri renungannya Rm.Agus “nyekar” dengan suara emasnya diiringi gendhing mengajak seluruh umat yang hadir, untuk mewujudkan tempat ziarah yaitu Taman Doa dan Goa Maria Fatima Ngrawoh itu dengan cara membangun persaudaraan sejati seperti yang dilakukan orang Samaria, lebih – lebih seperti yang dilakukan oleh Bunda Maria sendiri yang berani mengandalkan kuat, kuasa dan kerahiman Tuhan. Jangan seperti orang – orang babilonia.

Selanjutnya sebelum memasuki ritus penutup diadakan pemberkatan dan peletakan batu pertama (batu penjuru) oleh Rm. Agustinus Supriyadi, Pr dan Rm. Robertus Hardiyanta, Pr didampingi oleh Ketua penitia harian dan pelaksana teknis, serta beberapa tenaga teknis (tukang) sebagai tanda dimulainya secara resmi pembangunan fisik. (P.Wid/GKrT)