Bagda dan Rahmat Kemerdekaan

logo-hut-ri-67Oleh: Frater Robertus Hendy Kiawan – Waktu saya kecil, menjadi kebiasaan keluarga untuk masak-masak dan “munjung” tetangga di hari Natal. Saya ingat betul, ibu memasak ketupat, opor ayam dan sambel goreng ati. Penuh penasaran, saya bertanya “Lho Ma…kan ora bagda, kok gawe kupat?” Ibu pun menjawab “Lha iki ya bagda kok le…”

Sebentar lagi saudara-saudara kita umat muslim merayakan lebaran. Lebih populer dalam tradisi kita juga menyebutnya dengan bagda. Kata bagda ini merupakan bahasa pemersatu. Semua golongan berhak memakainya secara merdeka seperti cerita saya waktu kecil dulu yang menyebut Natal dengan kata bagda. bisa juga 17 Agustus ini, disebut bagda bagi seluruh bangsa Indonesia. Kesatuan semacam ini toh juga yang dicita-citakan oleh seluruh bangsa Indonesia. Namun faktanya, banyak terjadi bahasa-bahasa pemecah belah dan parahnya lagi disertai dengan kekerasan.

Seringkali, huru-hara atas nama keagamaan dipicu oleh bertumbuh kembangnya massa negatif yang dengan pandangan sempitnya meniliai “yang lain” sebagai lawan. Massa negatif begitu identik dengan kekerasan dan dengan caranya sendiri, mampu mempengaruhi masyarakat untuk bertindak anarkis. Mereka menyimpan kekuatan untuk mengatakan “yang kuat yang bertahan”. Sistem norma dan budaya menjadi kacau balau atas kehadiran kelompok tersebut. Namun sebaliknya, ada pula massa yang mencoba untuk tetap setia menggunakan rasionalitasnya untuk mempengaruhi orang supaya tetap berada dalam kesadarannya sebagai manusia. Sayang sekali, kelompok ini kurang mampu mensosialisasikan bahasa damai mereka sampai ke akar rumput untuk mengubah masyarakat dan beberapa pribadi/ kelompok orang yang sadar akan dialog masih berada dalam bayang-bayang mayoritas dan minoritas.

Untuk membangun kesadaran masyarakat secara bersama, muatan lokal masing-masing keutamaan keagamaan yang mengedepankan kesatuan dan kasih antar sesama perlu mendapat tempat mulai dari pendidikan baik formal maupun informal (termasuk keluarga dan masyarakat). Dengan pendidikan tersebut, diharapkan mengembalikan tatanan lingkungan manusiawi yang rusak akibat tuna adab. Kemelekan terhadap pluralitas menjadi kunci pokok untuk menumbuhkan semangat saling menghormati antar sesama manusia; tanpa batasan suku, agama, golongan dan rasial. Bukankah hal ini juga menjadi keutamaan dalam setiap agama?

Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang menjadi mantra kesatuan Indonesia dapat dipinjam sebagai salah satu penyemangat untuk mempererat persaudaraan. Belajar dari konteks kerajaan Majapahit, founding fathers Indonesia sejak awal sudah mencoba mendamaikan perbedaan dan pluralisme. Kesadaran bahwa Indonesia merupakan negara multi etnis, agama dan kebudayaan digali dalam semboyan yang berarti “berbeda-beda namun tetap satu jua” tersebut. Meskipun Indonesia terdiri dari beribu-ribu suku, kesatuan sebagai satu bangsa menjadi potensi untuk membangun kehidupan “kita satu saudara”. Indonesia hanya menjadi minatur bagi dunia yang lebih beraneka ragam. Kata “bagda” itu pun mampu menjadi humus untuk memupuk jalinan cinta kasih antar sesama manusia yang berbeda agama dan keyakinan yang secara nyata sudah terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.

Banyak anggapan bahwa toleransi adalah sarana ampuh untuk membendung dan menyelesaikan konflik. Namun sikap menghargai, membiarkan, dan memperbolehkan pendirian yang berbeda saja belum mencukupi. Kehadiran kita sebagai orang Katolik juga diajak untuk menawarkan cinta kasih dan persaudaraan sebagai budaya dalam kehidupan. Ketika relasi didasari dengan cinta, perbedaan semacam apapun malah dapat menyuburkan dan menguatkan relasi tersebut. Konflik yang terjadi justru dapat menjadi sarana untuk berekonsiliasi bersama demi menciptakan kesejahteraan bersama. Pola saling mencintai dan menjaga keharmonisan ini sekiranya dapat menjadi jawaban untuk menumbuh kembangkan kedamaian di antar agama mempunyai dasar keagamaan yang kuat, serta menumbuhkembangkan bahasa yang menghidupkan bukan mematikan. Salah satunya “bagda” yang mengajak kita untuk kembali kepada situasi berahmat sebagai manusia hingga tiada hentinya kita diajak untuk selalu bersyukur atas persaudaraan.***

Logo HUT RI 67