Frater Robertus Hendy Kiawan

hendyKonon sebelum dilahirkan di Rumah Sakit Panti Wilasa Semarang, terdengar suara burung yang berteriak-teriak “endi bocahe…endi bocahe…”. Ibuku takut berat. Sekonyong-konyong bakal ada apa dengan anak yang akan dilahirkannya. Mencuri dan segera membawaku lari –begitu menurut cerita ibu-.

Saat munthup-munthup hendak keluar pun, ternyata gawan bayi aku sudah nakal. Aku sudah menyusahkan ibu. Lagi-lagi menurut dongeng dari ibuku, aku lahir dengan pertanda wat kidang. Artinya, saat dilahirkan yang keluar pertama kali bukan air ketuban tapi darah. Sungguh menyakitkan. Namun, puncak dari seluruh ketegangan tertanggal 19 Maret 1988 jam 18.00 tetaplah akhirnya tangisan pertama kali menyeruak di Rumah Sakit Panti Wilasa Semarang. Usai penantian, aku lahir ketika adzan magrib berkumandang. Kata orang Jawa itu “julung caplok”, pertanda sukerta. Mungkin, yang selama di Rumah Sakit berteriak menyambut kelahiranku adalah Bathara Kala.

Oleh pasangan Timmotius Trimo Triyoso dan Fransisca Christiana Udji Sutarwati –demikianlah nama kedua orang tuaku-, aku diberi nama Hendy Kiawan. Sebenarnya nama itu hanyalah plesetan dari cendikiawan. Dibawanyalah aku di rumah Jln. Patriot VII/ K 14 yang ikut paroki Katedral Semarang. Dari kecil aku digadang-gadang untuk dapat menjadi orang pintar maka diberi nama plesetan dari cendikiawan. Akan tetapi, aku harus meminta maaf sebab sampai sekarang aku belum dapat membahagia¬kan banyak orang dengan kepandaianku. Mungkin karena dilahir¬kan dengan pratanda wat kidang, aku angel dicekel, mbeling, tur nglithis. Lahir menjadi anak sukerta memang perlu diruat. Namun, cukuplah ruatan dengan baptisan. Bersama adikku satu-satunya –Theresia Nenny Triana- aku dibaptis di gereja Kedungjati saat natal tahun 1990, tepat tiga belas hari setelah adikku lahir.

Sungguh diluar dugaan banyak orang, aku mendaftar di Seminari Mertoyudan setelah lulus SMP. Awalnya sempat ngojok-ngojoki teman-teman sepermainan SMP bahwa di Seminari Mertoyudan mempunyai lapangan sepak bola dan voli istimewa. Maklum, dulu aku sangat hobi kluyuran bersama teman-teman. Seminari Mertoyudan pun menjadi saran buat ngluyur. Beberapa dari kami diterima dan kamipun berangkat bersama-sama. Namun, sayangnya, walau berat, aku harus merelakan teman-temanku untuk pulang karena Tuhan sudah menyiapkan jalan panggilan yang lebih cocok untuk mereka. Sedangkan aku masih tuman hidup di Seminari hingga kini. Di Mertoyudan aku disadarkan untuk memutar balik kisah hidupku. Ternyata banyak pengalaman-pengalaman yang ajaib seperti kejegur sumur, kecanthol pager, kecelakaan berkali-kali, hingga keli ning kali. Pengalaman-pengalaman itu membuat aku bertanya-tanya, apa sing dikersaake Gusti marang uripku? Sampai sekarang aku belum tahu jawabannya dan aku cari sampai sekarang dengan cara meniti jalan panggilan menjadi imam karena aku ingin membalas cinta Tuhan bagi sesama.

Sabtu, 7 Juli 2012, diantar Rm. Budi Setyo, aku memasuki pintu gerbang Maria Fatima Sragen. “Kula badhe sianu lan saestu nyuwun bimbingan saking para umat tuwin para Rama. Menawi kula lepat dipunandani, menawi perlu dipundukani. Kula ugi badhe nyuwun pangapunten. Bilih kula taksih ndableg kula saged dipunjewer….matur nuwun. Ing wasana…kleting kuning priyayi prasaja mila bisa mulya, kangge piwelin, kula nyuwun donga supados gangsar dadi rama….hehe…^ ^, ***