Kemerdekaan Sejati

bendera_indonesiaOleh: Vincensia Maria – Kemerdekaan identik dengan upacara bendera, seragam yang rapi, lagu wajib hari Merdeka atau 17 Agustus, dipadu dengan bendera merah putih, umbul-umbul di sepanjang jalan maupun di kampung-kampung. Rutinitas untuk mengenang para pejuang yang dengan pertumpahan darah merebut kembali NKRI dari penjajah. Tapi sudahkah kita ”Merdeka?”

Tentu saja kita akan menjawab ”Ya sudah merdeka.”, tapi menurut saya belum merdeka sepenuhnya. Jika yang dimaksud kemerdekaan itu dikaitkan dengan kemerdekaan dari dosa dan maut. Kristus telah memerdekakakn kita dari dosa (lihat Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia ”Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah tegak dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.”(Galatia 5:1)

Lain apabila kemerdekaan yang dimaksud dikaitkan dengan kemerdekaan dari segi kehidupan manusia secara keseluruhan, kita belum merdeka sepenuh¬nya. Kita lihat masih banyak anak bangsa yang terbelenggu oleh kelaliman dan kekerasan, eksploitasi anak di bawah umur yang seharusnya masih dalam masa belajar, menuntut ilmu untuk kehidupan di masa mendatang tapi terpaksa harus bekerja karena kemiskinan, terjadilah oleh dosa amoral, diperbudak obat-obatan terlarang, narkoba, ekstasi, banyaknya pengangguran kemiskinan.

Apabila keadilan dan kebenaran yang sudah jungkir balik, sehingga penjajahan supremasi hukum terjadi di segala segi, maka kita sebagai anak bangsa melihat kondisi seperti ini, sebagai umat Tuhan harus bisa mengisi kemerdekaan ini.

Enampuluh tujuh tahun sudah kemerdekaan Indonesia, dari segi catatan sejarah, kita bisa melihat bahwa kemerdeka¬an bangsa ini kita perjuangkan melalui proses yang panjang, mulai jaman Majapahit, kolonialisme Belanda, Kebangkitan Nasional sampai Sumpah Pemuda. Sebagai bagian dari suatu bangsa, kita patut bangga dengan kedaulatan bangsa Indonesia melalui proklamasi, namun sebagai individu sudahkah kita merdeka? Jawabnya berpulang kepada kita diri kita sendiri, ini yang menjadi permenungan kita.

Dalam kehidupan yang masih ”terjajah”, umat pilihan Tuhan harus terpanggil untuk menjadi garam dan terang dunia. Kristus telah memerdekakan kita, karena itu berdirilah dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. (Galatia 5:1).

Kemerdekaan yang terjadi dalam kehidupan kita merupakan anugerah Kristus Yesus, sehingga kehidupan kita tidak lagi berada dalam belenggu dosa, ini merupakan karya Tuhan Yesus melalui wafat dan kebangkitan-Nya. Secara cuma-cuma kemerdekaan ini diberikan kepada manusia yang percaya kepada-Nya. Janganlah kemerdekaan yang sudah diberikan Tuhan kepada kita lantas kita sia-siakan tanpa mengisinya dengan hal-hal yang baik.

”Saudara-saudara, memang kamu dipanggil untuk merdeka, tetapi janganlah kamu pergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”(Galatia 5:13).

Kita mengalami kemerdekaan karena karya Kristus dan itu harus terwujud nyata dalam kehidupan kita keseharian. Kita harus menyadari perubahan yang telah Allah kerjakan dalam diri kita, harus mulai bertindak sesuai dengan posisi atau sifat kita yang baru. Untuk itu kita perlu bertobat dari semua dosa, serta keterlibatan kita dengan kuasa gelap dna menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Tuhan. Kadang-kadang masih banyak kita melihat orang Kristen yang belum berjalan dalam kemerdekaan di dalam Kristus. Walaupun mereka percaya kepada Yesus, namun kenyataannya hidup mereka belum bahagia karena masih ada keterlibatan dengan kuasa gelap yang mempengaruhi dan menghalangi pertumbuhan rohani mereka.

Oleh karena itu dibutuhkan pertobatan yang sungguh-sungguh dan pembaharuan yang terus-menerus sehingga dosa dan kejahatan tidak lagi menjajah kehidupan kita. Kemerdekaan yang digunakan untuk melampiaskan hawa nafsu bukanlah kemerdekaan, melainkan perbudakan baru dengan ”tuan” yang lain. Dahulu sebelum merdeka ”tuan” kita adalah bangsa lain, sekarang setelah merdeka ”tuan” kita adalah ”kepentingan diri sendiri”. Kemerdekaan sejati tentunya digunakan untuk berbuat kebenaran, melainkan hal-hal yang benar dengan benar. Tidaklah cukup kalau hanya merdeka dari penjajah, kita harus merdeka di dalam kebenaran. Dan kebenaran hanya ada dalam Yesus Kristus.

Kita pantas bersyukur atas kemerdekaan yang Tuhan Yesus berikan, sehingga kita tidak dikuasai oleh dosa, namun kita dibentuk makin sempurna serupa dengan Dia sebagai insan yang mengalami kemerdekaan rohani, maka Tuhan menginginkan kita untuk mempertahankan kemerdekaan itu, bahkan mengisinya dengan melayani sesama dengan penuh kasih, menjadi sinar bagi masyarakat di sekitar kita yang masih banyak terjajah dan terbelenggu oleh dosa dan problem hidup.

Sebagai pengikut Kristus, marilah kita doakan bangsa Indonesia yang sudah menghirup udara kemerdekaan selama 67 tahun ini mengalami kemerdekaan yang sejati.***

Penulis tinggal di Lingkungan Monica Candi, Sragen