Kitab Suci: Kompas Menuju Keselamatan

injilOleh: Rm. Yohanes Ari Purnomo – Ajaran Gereja Katolik mengenai kebenaran Kitab Suci terkait erat dengan ajaran tentang Wahyu Ilahi. Gereja memahami bahwa wahyu adalah kebaikan dan kebijaksanaan Allah yang berkenan mewahyukan diri serta memaklumkan rahasia kehendak-Nya (Ef 1:9); berkat rahasia itu manusia dapat menghadap Bapa melalui Kristus, Sabda yang menjadi daging, dalam Roh Kudus, dan ikut serta dalam kodrat Ilahi (Ef 2:18; 2 Ptr 1:4).

Ajaran ini termuat dalam Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi (Dei Verbum) Konsili Vatikan II. Rahasia kehendak Allah dalam menyelamatkan manusia ini berpuncak dalam hidup, karya dan misteri Paskah Kristus (sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya). Atas pewahyuan diri Allah ini, manusia menanggapi dengan ketaatan iman. Ketaatan iman ini ditunjukkan dengan selalu terbuka akan Sabda Allah yang telah terungkap dalam diri Tuhan kita Yesus Kristus. Keterbukaan akan sabda Allah ini terwujud dalam kesediaan untuk menghidupi sabda Tuhan dan mewartakan kepada segala makhluk. Pewartaan Sabda Tuhan ke segala makhluk ini menjadi bagian dari salah satu ketaatan iman yang merupakan bentuk meneruskan wahyu ilahi.
Penerusan wahyu ilahi ini dilakukan oleh para murid dengan menjadi saksi Injil. Untuk mewartakan kebenaran wahyu Allah ini, para murid mewartakan ke segala makhluk dan segala tempat dengan menuliskannya sebagai Kitab Suci. Dalam hal ini, Gereja Katolik menyatakan bahwa apa yang telah diwahyukan oleh Allah dan yang termuat serta tersedia dalam Kitab suci telah ditulis dengan ilham Roh Kudus. Sebab Bunda Gereja yang kudus, berdasarkan iman para Rasul, memandang Kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Baru secara keseluruhan, beserta semua bagian-bagiannya, sebagai buku-buku yang suci dan kanonik, karena ditulis dengan ilham Roh Kudus (lih. Yoh 20:31; 2Tim 3:16; 2Ptr 1:19-21; 3:15-16), dan mempunyai Allah sebagai pengarangnya, serta dalam keadaannya demikian itu diserahkan kepada Gereja (DV, art.11). Dengan demikian, Kitab Suci menjadi buku suci, sebuah buku iman yang memuat sabda Tuhan karena ditulis dengan ilham Roh Kudus dan sebagai bagian dari tanggapan iman para rasul untuk meneruskan wahyu ilahi.
Di dalam Gereja Katolik, Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mendapat tempat istimewa karena merupakan sebuah buku iman yang mengarahkan segenap umat kepada wahyu ilahi yakni Tuhan Yesus Kristus, Sang Sabda Allah. Kitab Suci menjadi semacam kompas yang akan menunjukkan umat beriman kepada keselamatan sejati yakni Allah Bapa di dalam diri Kristus dan Roh Kudus. Di dalam Kitab Suci itu, umat beriman sungguh dapat menemukan pesan-pesan rahasia Allah yang ditujukan bagi manusia agar manusia selamat. Pesan-pesan ini pertama-tama bukan seperti halnya pesan untuk sebuah komunikasi biasa, tetapi lebih sebagai komunikasi iman dan hidup. Sehingga, Kitab Suci tidak hanya dimengerti sebagai petunjuk praktis, atau semacam kumpulan tips-tips untuk hidup bahagia, tetapi lebih merupakan dialog iman antara manusia dan Allah di dalam diri dan peristiwa Kristus. Karena pesan itu disampaikan sebagai sebuah komunikasi iman, maka juga melibatkan keseluruhan akal budi manusia untuk memahami pesan tersebut. Sebab iman tidak pernah bertentangan dengan akal budi. Perjuangan akal budi untuk memahami pesan itu sebagai wujud pertanggungjawaban iman dalam menanggapi pewahyuan Allah.
Mengingat pentingnya Kitab Suci di dalam hidup iman umat, maka Gereja merasa perlu untuk semakin mendekatkan umat kepada Kristus melalui Kitab Suci. Dengan semakin akrab pada kitab suci, harapannya umat akan semakin hidup berdasarkan dan berdayakan Sabda Allah yang hidup dalam diri Kristus. Umat beriman semakin membiasakan diri, bahwa dalam hidup ini, makanan kita tidak hanya ‘roti’ saja, tetapi juga setiap sabda yang keluar dari mulut Allah. Keakraban dengan Kitab Suci ini akan memperluas jiwa manusia seperti ladang yang siap ditanami oleh benih-benih kebenaran Sabda Allah.
Dalam konteks Indonesia, Gereja Katolik mengajak segenap umat untuk semakin akrab dan mencintai Kitab Suci pada bulan September. Setiap bulan September, umat beriman Katolik mengadakan Bulan Kitab Suci Nasional. Selama bulan September, umat diajak untuk semakin akrab dengan Kitab Suci melalui pendalaman Kitab Suci yang dibuat di lingkungan-lingkungan, wilayah dan juga tingkat Paroki.
Maka, marilah kita semakin akrab dengan Kitab Suci. Untuk semakin akrab dengan Kitab Suci, ada banyak hal yang bisa kita lakukan misalnya: mengikuti Perayaan Ekaristi setiap hari, membaca renungan harian yang mengulas tentang bacaan Kitab Suci pada hari itu, ikut tergabung dalam pelayanan lektor, dan juga rajin mengikuti pendalaman Kitab Suci di lingkungan setempat. Dengan semakin akrab pada kitab suci, jiwa kita pun akan terbentuk untuk semakin didayai oleh Sabda Itu dalam seluruh hidup ini. Akhirnya, Sabda Tuhan tidak hanya untuk kita dengarkan saja, tetapi juga menjadi makanan bagi jiwa kita yang menjadi sumber hidup serta pelayanan kita. Sabda Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci ini akhirnya akan berperan sebagaimana Kompas yang menunjukkan ke arah keselamatan, yakni Tuhan Yesus Kristus. Dengan semakin mengenal Kristus, kita semakin mencintaiNya, dan hidup seperti DIA.***