Wedangan Pattimura 2: Diskusi dan Nonbar Film “Soegija”

nontonParoki Sragen (LENTERA) – Minggu (23/09) diadakan diskusi dan nonton film “Soegija” di dalam gereja. Acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT dan Pesta Nama Pelindung Gereja St. Maria di Fatima Sragen ke-55. Pada kesempatan kali ini, secara khusus Team Wedangan Pattimura 2 menghadirkan eksekutif produser film “Soegija” yakni Rama Y. I. Iswarahadi, SJ dan dimeriahkan oleh kelompok akustik dari OMK.

Dalam acara tersebut, umat yang hadir meluber dan melampauhi prediksi panitia. Kurang lebih tujuh ratus umat paroki memadati gereja, bahkan meluas hingga di halaman dan parkiran gereja. Antusiasme umat pun tampak saat diskusi. Pertanyaan-pertanyaan cerdas muncul selama jalannya diskusi tersebut.

Selama proses diskusi, Rama Iswara mencoba secara detail menjelaskan proses produksi film yang memecahkan beberapa rekor MURI sebagai film dengan jumlah pemain dan pemakaian bahasa terbanyak. Rama Iswara juga memberikan penekanan tentang semangat Mgr. Soegija yang senantiasa mengobarkan cinta kasih dan budaya damai tanpa kekerasan.

Di akhir diskusi, Rama Iswara mencoba mengutip kata-kata dalam buku harian Mgr. Soegija ““Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar. Satu keluarga besar, di mana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian bebau kekerasan, tidak menuliskan kata-kata bermandi darah, janganlagi ada curiga, kebencian dan permusuhan.” Estafet pembebasan ini diteruskan oleh Gereja yang dinamis untuk menggali hidup beriman secara militan yakni terlibat menghayati panggilan rela berkorban. Keutamaan ini menjadi salah satu cara untuk ikut ambil bagian dalam karya pembebasan Allah yang telah terjadi sepanjang sejarah.

Berdasarkan penuturan Rama Iswara, beliau sangat salut dengan kreatifitas team Wedangan untuk mempertemukan umat dan membahas topik-topik aktual dan bermanfaat. Menghibur diri dan belajar sesuatu inilah yang menjadi kesan khas. Dalam acara Wedangan ini tampak jelas bahwa umat rindu untuk membangun kebersamaan sambil memperoleh wawasan baru.

Dalam wawancara singkat dengan team Lentera via email, Rama Iswara berpesan agar suasana paguyuban umat harap terus dibangun supaya virus-virus individualisme dan keterpecahan dapat diatasi bersama. Semoga dengan usia paroki yang ke-55 ini, umat semakin bisa membumikan imannya sehingga tidak uthak-uthek di sekitar altar saja. Kita perlu mencontoh Mgr Soegija yang mengaktualkan imannya di tengah krisis bangsanya. Kegiatan sosial membantu yang terkena bencana patut terus ditingkatkan. OMK juga perlu terus dimotivasi untuk aktif dalam kegiatan pewartaan iman dan sosial ini. (FH)