Berserah Diri Meneladan Maria

Our-Lady-of-FatimaOleh: V.Sri MurdowoSalam damai Kristus, bahagia rasanya kita dapat bertemu lagi melalui rubrik wanita. Harapan pengasuh, anda semua senantiasa dalam keadaan sehat, damai  sejahtera dalam lindungan Tuhan yang maha pengasih dan maha penyayang.  Mudah mudahan apa yang tersaji kali ini dapat mendatangkan manfaat bagi kita sekalian.

Sobat wanita terkasih, tak terasa kita sudah memasuki bulan Oktober, saat dimana kita kembali mengakrabkan diri dengan Bunda Maria, Bunda Penebus dan Bunda segala bangsa, yang setiap saat selalu hadir di tengah tengah kita, baik dalam suasana suka maupun duka.

Sesungguhnya, banyak hal dan peristiwa yang datang silih berganti, mewarnai perjalanan hidup kita masing masing.  Mulai dari peristiwa kelahiran, pernikahan, pengalaman sakit, perpisahan dengan orang orang terkasih, dan seterus­nya. Sebagai wanita dan ibu, tentu saja momen-momen seperti itu tak jarang membuat hati dan perasaan kita menjadi larut. Ada rasa bahagia, bangga, cemas, bahkan juga tangis kesedihan yang datang mengharu biru !

Mari kita sedikit merefleksi diri,  manakala  mengalami  peristiwa penting dan menjadi sejarah dalam hidup kita, manakala kita mengantar putra putri ter­cinta menuju gerbang pernikahan, ketika mereka duduk berdampingan didepan altar, diberkati Romo dan didampingi para saksi, handai taulan, serta keluarga. Apa pula yang kita rasakan, ketika putra putri kita melakukan sungkeman, kemudian berdoa di depan Bunda Maria? Duh, sudah jelas semuanya tumpah ruah menjadi satu,  sangat sulit untuk diterjemahkan dengan kata kata.

Air mata kebahagiaan seakan menyatu dengan rasa syukur, sekaligus terharu mengingat anak anak kita sudah memasuki jenjang kehidupan baru,  dan dengan rasa ikhlas kita harus melepas mereka untuk membangun keluarga yang baru pula !

Itulah saatnya kita memasrah­kan segenap harapan dan rencana kita sejalan dengan kehendak­NYA. Dan melalui Bunda Maria, kita memohon perlindungan, pendampingan dan kekuatan, agar putra putri kita mampu menemukan kebahagiaan sejati, mampu menjadi pasutri yang baik, menjadi ayah ibu yang baik dan kelak memiliki  keturunan yang baik pula sesuai harapan orang tua , selalu hidup rukun, tentram, saling setia,saling mengasihi, serta mampu meneladan Keluarga Kudus Nasaret.

Berserah diri, bukan berarti pasrah tanpa mau berbuat sesuatu , namun kepasrahan yang tulus lahir dari sikap batin yang selalu dipenuhi rasa syukur, sumèlèh, tidak  menyombongkan diri, akan tetapi senantiasa mengandalkan kuasa dan campur tangan Tuhan.  Disitulah kita yakin dan percaya Bunda Maria akan selalu hadir di tengah tengah kita, memberi kelegaan dan penghiburan.***

Terima kasih Bunda,

Engkau telah mengajarkan kesetiaan

Terima kasih Ibu,

Engkau telah mengajarkan keutamaan

Dalam kepiluan dan kebimbangan

Engkau menjadikanku lebih bersabar

Dalam suka cita dan keberhasilan,

Engkau buat diriku tidak menjadi sombong

Hadirlah ketengah tengah umatmu

Terlebih di ulang tahun Paroki kami tercinta

Seiring peringatan Hari Pangan Sedunia

Agar kami semakin sadar ,

betapa indahnya saling berbagi

Bersatu, seiring sejalan , untuk saling melayani

Profisiat  …….. TUHAN  MEMBERKATI  KITA  SEMUA ***