Kerendahan Hati Menurut St. Ignatius Loyola

ignatius2Oleh: Rm. Yohanes Ari Purnomo, Pr ~ Santo Ignatius Loyola, pendiri Serikat Jesus pernah menulis, bahwa kerendahan hati adalah syarat mutlak untuk memperoleh keselamatan kekal. Untuk memperoleh sikap kerendahan hati ini, St Ignatius menuliskannya dalam Latihan Rohani, sebuah buku penuntun retret bagi setiap orang yang hendak mengikuti Kristus secara lebih dekat. Dengan kerendahan hati, hidup kita pun berpusat pada Allah, sumber segala sesuatu. Dengan demikian, seluruh hidup kita hanya berdasarkan kehendakNya saja. Dan tujuan hidup kita hanyalah demi kemuliaan Allah yang lebih besar, sebagaimana tujuan hidup dan karya St. Ignatius Loyola beserta para kudus yang mencintai Kristus dengan begitu total.

D

alam buku Latihan Rohani, St. Ignatius Loyola menyebutkan ada tiga macam kerendahan hati. Ketiga macam kerendahan hati tersebut adalah:

1.  Kerendahan Hati Tingkat I. Kerendahan hati ini tercapai bila aku sudah menundukkan dan merendah­kan diriku sedapat mungkin-sampai dalam segala hal aku taat kepada hukum Allah Tuhan kita. Sekalipun aku diangkat jadi tuan segala ciptaan di dunia ini, sekalipun nyawaku sendiri terancam, tak akan terjadi aku sampai mempertimbangkan mau melanggar satu perintah yang diwajibkan atas dosa-berat, entah dari Allah, entah dari manusia datangnya.

2.  Kerendahan Hati Tingkat II. Lebih sempurna daripada yang pertama, yakni bila aku sudah ada pada suatu taraf jiwa tertentu: sampai tak mencari-cari atau menginginkan kekayaan melebihi kemiskinan, tak menghendaki penghormatan melebihi penghinaan ataupun mengharap-harapkan hidup panjang melebihi hidup pendek, asalkan semua itu sama artinya bagi pengabdian kepada Tuhan kita dan keselamatan jiwaku sendiri; sekalipun aku akan diberi segala barang ciptaan atau ada bahaya aku akan kehilangan nyawa, tak akan terjadi aku sampai mempertimbang­kan mau melakukan satu dosa ringan saja.

3.  Kerendahan Hati Tingkat III. Paling sempurna. Setelah kerendahan hati I dan II tercapai, asalkan sama artinya bagi kehormatan dan kemuliaan Allah yang Mahaagung, supaya dapat meneladan dan lebih menyerupai Kristus Tuhan kita dalam kenyataan, aku menghendaki dan memilih kemiskinan bersama Kristus, yang miskin, melebihi kekayaan; peng­hinaan bersama Kristus yang dihina, melebihi penghormatan; aku memilih dianggap bodoh dan gila demi Kristus yang lebih dahulu dianggap begitu, daripada dianggap pandai dan bijaksana di dunia ini.

Ketiga macam kerendahan hati ini merupakan sebuah peziarahan jiwa dalam mencapai sikap miskin di hadapan Allah, memusatkan hidup demi taat kepadaNya. Dalam perjuangan untuk mencapai sikap rendah hati tersebut, St. Ignatius Loyola memberikan tuntunan dengan mengajak setiap pribadi merenung­kan dan mengkontemplasikan misteri kehidupan Tuhan kita Yesus Kristus yang merupakan kerendahan hati Allah demi keselamatan kita. Sebab sumber kerendahan hati adalah kasih Allah bagi manusia demi keselamatan manusia, dan kita diajak untuk menanggapi kasih Allah itu dengan taat sepenuhnya pada Allah.

Dalam dunia sekarang ini, mungkin dalam memperjuangkan ketiga macam kerendahan hati tersebut akan sangat sulit bagi kita. Namun kita diberi anugerah oleh Kristus untuk selalu terbuka akan segala macam anugerah­Nya. Salah satu anugerah itu adalah rahmat pengampunan dosa yang kita terima melalui sakramen tobat. Dengan menerima sakramen tobat, kita diajak untuk selalu terbuka akan rahmat penyempurnaan Allah bagi kita. Saat itulah kita diajak berdamai kembali dan dimampukan untuk selalu belajar dari segala hal di dunia ini agar semakin memusatkan diri kepada Allah. Dengan demikian, kita pun diajak untuk belajar semakin rendah hati di hadapan Allah dan sesama. Itu semua demi kemuliaan Allah yang lebih besar dan juga keselamatan jiwa kita.

Selain dengan sakramen tobat, kita pun belajar rendah hati dengan selalu terbuka pada persatuan dengan Tuhan melalui sabda dan tubuhNya dalam Ekaristi. Ketika kita masuk dalam Perayaan Ekaristi, kita diajak untuk bergabung dalam perjamuan Tuhan, menerima roti dari roti yang sama yakni tubuh-Nya. Dan sesudahnya, kita pun diutus untuk menjadi bagian dari roti yang sama itu dan dibagikan kepada sesama demi kehidupan banyak orang. Karena Allah pertama-tama mencintai kita dengan begitu besarnya, hingga menyerahkan puteraNya sendiri sebagai makanan jiwa kita, maka kita pun diutus untuk membagikan cinta itu demi keselamatan banyak orang, agar sesama kita pun merasakan kasih Allah itu yang juga tercurah bagi mereka. Dengan demikian, pusat segala hidup ini bukan pada diri kita sendiri tetapi dalam pelaksanaan hukum Tuhan dan ketaatan kepada kehendakNya.

Akhirnya, kerendahan hati merupakan sikap iman kita kepada Tuhan sebagai tanggapan atas karunia kasihNya yang begitu besar. Meski harus berjuang berat dalam melepaskan segala pusat diri demi memusatkan pada Tuhan, hal ini menjadi perjalanan peziarahan yang akan menghantar pada keselamatan. Inilah peziarahan iman yang akan terus menerus kita perjuang­kan selama kita di dunia ini. Sumber dari segala peziarahan ini adalah karunia Tuhan yang tidak pernah habis tercurah pada kita.

Untuk memperjuangkan sikap iman melalui kerendahan hati ini, St. Ignatius Loyola mengajari kita untuk melakukan discernment (pemeriksaan batin). Discernment ini berguna untuk melakukan pembedaan roh. Dengan melakukan discernment, kita diajak untuk peka terhadap dorongan-dorongan diri yang berasal dari roh jahat atau roh baik. Ketika kita semakin peka terhadap dorongan-dorongan itu, kita bisa berjuang untuk mengalahkan roh jahat dan memilih roh baik, dan dengan demikian kita menjadi semakin rendah hati seturut kehendak Tuhan.***

.