Pemimpin yang mampu membangun sikap rendah hati

Samuel-Saul-David-Jonathan-JonatanOleh: Ibu Ateng ~ Bicara tentang pemimpin, ada banyak tokoh dalam Perjanjian Lama yang patut dijadikan contoh – terlepas dari segala kekurangan dan kelemahannya. Sebut saja misalnya: Musa, Yosua, Debora dan Gideon. Mereka adalah pahlawan di hajamannya. Satu lagi tokoh yang juga patut disampaikan yaitu: YONATAN.

Memang, seumpama dalam film, Yonatan bukanlah tokoh utama. Perannya kalah pamor dibanding Daud atau bahkan Saul, ayahnya. Dalam Kitab 1 Samuel yang memuat kisahnya, lebih banyak menyoroti Daud dan Saul. Boleh dikata peran Yonatan hanya peran pembantu.

Namun Yonatan mempunyai reputasi baik. Suatu hal yang perlu dimiliki oleh pemimpin dimanapun. Bahkan bisa jadi reputasinya itu juga lebih baik dibanding Daud dan Saul.

Daud memang raja Israel yang sangat cemerlang. Daud berhasil mempersatukan seluruh Israel Raya. Namun, perbuatan­nya menghamili Betsyeba dan kemudian merekayasa kematian Uria, prajuritnya yang setia, suami Betsyeba, benar-benar telah mencoreng reputasinya.

Sedangkan Saul, lebih parah lagi. Betul, ia adalah raja Israel yang pertama, tetapi iri hati dan kedengkiannya terhadap Daud telah menjerumuskannya ke dalam tindakan-tindakan amat tercela.

Lebih dari itu, Yonatan juga memiliki karakter yang baik untuk menjadi seorang pemimpin. Yaitu:  Pertama,Obyektif: benar ya benar, salah ya salah. Yonatan tahu betul bahwa konfliknya dengan Daud, Saul lah yang salah. Kecemburuan­nya terhadap keberhasilan Daud telah membutakan akal sehat dan nurani Saul, sehingga ia membenci dan ingin menyingkirkan Daud.

Dan Yonatan tidak tinggal diam. Sekalipun Saul adalah ayahnya, kalau salah ya tetap salah. ”Mengapa ia harus dibunuh? Apa yang dilakukannya?” tanyanya kepada Saul (1 Samuel 20:32).

Lawan dari obyektif adalah subyektif: mencampur adukkan penilaian dengan perasaan pribadi. Benar dan salah, baik dan buruk, lebih ditentukan oleh perasaan suka dan tidak suka atau oleh kedekatan hubungan. Kalau seseorang itu disukai atau kerabat dekat, dianggapnya selalu benar; seakan ia tidak ada celanya, lalu dibela mati-matian. Namun, sebaliknya kalau seseorang itu tidak disukai, dan tidak punya hubungan apa-apa, dianggapnya selalu salah; seakan dalam diri orang itu tidak ada kebaikannya sama sekali, lalu dicela habis-habisan. Orang yang subyektif tidak layak menjadi pemimpin.

Kedua, setia pada komitmen. Yonatan memang sama sekali tidak menyetujui sikap Saul. Dalam sebuah perjamuan mereka bertengkar hebat. Keduanya sama-sama marah. Saul tidak dapat mengendalikan diri, ia lantas melemparkan tombak ke arah Yonatan. Dan Yonatan meninggalkan perjamuan itu dengan kemarahan yang menyala-nyala (1 Samuel 20:33-34). Selain tentunya ia juga sedih menerima perlakukan Saul seperti itu.

Namun toh Yonatan tidak meninggal­kan ayahnya itu. Sekalipun kalau mau, bisa saja ia pergi dan tidak peduli lagi dengan Saul. Bahkan ketika kekuatan Saul mulai runtuh dan kehancuran sudah di depan mata, Yonatan tetap bersama-sama dengan Saul. Sampai akhir hayat­nya, Yonatan tidak pernah jauh dari Saul. Mereka sama-sama dalam menjalankan peperangan (1 Samuel 31:1-4).

Ketiga, tidak ambisius mengejar kekuasaan. Rupanya ada alasan lain kenapa Saul sampai begitu membenci Daud. Dan alasan itu sebetulnya demi Yonatan juga. ”Sebab sesungguhnya selama anak Isai itu hidup di muka bumi, engkau dan kerajaanmu tidak  akan kokoh,” begitu kata Saul (1 Samuel 20:31).

Dengan kata lain, Saul mempunyai harapan besar bahwa kelak Yonatanlah yang akan menggantikan kedudukannya sebagai raja. Akan tetapi ternyata Daud sangat populer. Di mata rakyat, kepahlawanan Daud benar-benar telah menjadi legenda. Hal itu jelas bisa jadi ancaman besar bagi Yonatan. Maka, tidak ada jalan lain, satu-satunya cara adalah Daud harus disingkirkan.

Di dunia ini, dari dulu sampai sekarang, ada banyak pemimpin seperti Saul. Yang hanya memikirkan kekuasaan dan kepentingan pribadi. Yang membuta­kan diri terhadap kenyataan, bahwa ada orang lain yang lebih potensial dan lebih pantas, yang malah melihat orang-orang itu sebagai ancaman, lalu dengan cara halus maupun kasar berusaha untuk disingkirkan.

Yonatan tidak demikian. Ia tidak silau dengan jabatan dan kekuasaan. Karenanya Yonatan tidak kehilangan obyektivitasnya. Andai saja semua pemimpin di dunia ini seperti Yonatan, betapa akan damainya dunia ini. Minimal tidak akan seburuk sekarang. Sebab tidak dapat disangkal hal-hal buruk yang terjadi di muka bumi ini paling banyak di­sumbang­­kan oleh para pemimpin yang buruk.***

Penulis tinggal di Candi Asri I Sragen