Rm. Jost Kokoh Prihatanto, Pr

josttttPembaca LENTERA, sejak bulan Oktober 2012, Paroki Sragen kedatangan Imam baru yang akan membantu Romo Robertus Hardiyanta, Pr dan Romo Yohanes Ari Purnomo, Pr melayani umat Paroki Sragen, sehingga kini ada 3 imam yang bertugas di Sragen.

Rm. Jost Kokoh Prihatanto, Pr ,  imam dari Keuskupan Agung Jakarta, yang terlahir pada 14 November ini, sebelumnya bertugas di Paroki Keluarga Kudus Pasar Minggu Jakarta Selatan dan mengajar di Universitas Nasional Jakarta. Ia menjadi moderator “SOCIUS – Rumah Singgah buat para mantan narapidana dan korban narkoba” serta “LOJF-Light Of Jesus Family – Komunitas Orang Muda Katolik” di bilangan Sudirman, Jakarta Pusat. Beberapa bukunya yang diterbitkan Kanisius, al: “BBM – Beriman Bersama Maria” (2008), ”TANDA – Kata, Angka dan Nada” (2009), “Mimbar Altar” (2009), “Pasar” (2009), “Reguklah Hari Bersama St Maria” (2010), “Reguklah Hari Bersama Santo/Santa” (2010), “XXI – Interupsi” (2010), “XXX – Family Way” (2010), “3 Bulan, 5 Bintang, 7 Matahari” (2011), Herstory (2012), Carpe Diem Requiem (2012), Carpe Diem Otak Atik Gathuk (2012), Via Veritas Vita (Gn. Sopai Press, 2012), 80 Dara Masuk Desa (Gn. Sopai Press, 2012).

Bicara soal hobi: segala macam olahraga ditaksirnya, apalagi yang namanya petualangan alam, kayak naik gunung: ‘kalo sudah ketemu gunung, dia bisa cuek berat, bebek aja bisa kalah cuek.’ Membaca, menulis, traveling dan makan ayam goreng kampung adalah hobinya yang lain (www.romojostkokoh.com, www.lojf-indo.org, www.rumahsocius.com)

Mengenal romo ini, tak hanya berarti mengenalnya sebagai jejaka muda belia lagi jenaka dari pasangan ayah J. Soedibjo dan ibu J. Lestari. Tak berati pula hanya mengenalnya sebagai anak sulung dari 3 bersaudara yang mencoba menapaki panggilan suci karena awalnya ‘jatuh cinta’ dengan kebaikan para romo parokinya dan katut dengan bulek-paklek/bude-pakdenya yang menjadi biarawan/wati. Menjabat erat romo ini berarti memahami kerapuhan, keterbatasan serta kekhasannya dan sekaligus memperkaya hidup imamatnya dengan doa, sapa, canda,  dan ‘CINTA’, sebagai seorang teman seperjalanan segenap umat di Sragen.  Berkah Dalem.***