Senyuman Dahlia

seOleh: V. Sri  Murdowo – Hampir sebagian besar dari kita ingin menjadi pemimpin dan ingin selalu tampil di depan, namun tak jarang pula seorang pemimpin tidak mampu melakukan tugasnya atau mengapresiasikan impiannya itu dengan baik. Artinya, apa yang sudah dipercayakan dan diharapkan banyak orang, ternyata tidak bisa  memberikan hasil seperti yang diharapkan. Sebaliknya, kesempatan emas yang sudah diraihnya itu justru seringkali mendatangkan masalah, kesulitan, ketidakpuasan, hujatan, bahkan protes atau demo secara terang terangan !

Menjadi pemimpin yang ideal memang tidak mudah, sebab begitu banyak aspek yang harus dipertimbangkan. Intelektualitas dan kondisi fisik yang prima saja belum cukup, karena seseorang dituntut untuk menguasai banyak hal, seperti kemampuan berkomunikasi, bisa bergaul dengan banyak orang, memiliki attitude yang baik, dan tentu saja memiliki semangat untuk melayani  dan bukan dilayani !

Ibu ibu serta sobat wanita yang terkasih dalam Kristus, ada serpihan cerita tentang seorang ibu,……. sebut saja bu Dahlia, yang sudah hampir tiga puluh tahun mengabdikan hidupnya sebagai pengurus sekaligus pemimpin per­pustakaan disebuah perguruan tinggi.

Hari demi hari dijalaninya dengan senang dan enjoy! Meja tulisnya yang antik dan tua dimakan usia dan lingkungan kerjanya yang hampir penuh sesak oleh rak-rak buku, tanpa televisi, apalagi AC, ternyata tidak mengurangi semangatnya untuk bekerja. Selain mencatat dan  menata ulang buku buku yang dipinjam para mahasiswa atau mahasiswi yang ada disana, hampir setiap saat ia terlihat sibuk menata rak, memungut buku-buku yang jatuh berserakan, dan merapikan kembali ke tempatnya semula.

Setiap hari begitu dan selalu begitu! Mungkin bagi orang lain, rutinitas tersebut akan terasa mem­bosankan ! Itu belum seberapa ! Ibu Dahlia terlihat begitu sabar dan tetap tersenyum  menghadapi ulah mahasiswa yang terkadang  berbicara kasar ,tidak sopan dan tidak tertib! Semua dihadapinya dengan tenang! Kalau lagi jenuh, paling paling ia keluar sebentar untuk menenang­kan hati, berjalan jalan dipojok taman kampus, atau bersenandung ringan untuk mengurangi beban perasaan yang mulai menyesak di rongga dada !

Suatu kesempatan, Ibu Dahlia dibuat pusing dan bingung karena ada beberapa buku yang hilang ! Ia sudah mencari ke sana kemari, bahkan hampir seharian ia tidak pulang demi menemukan buku yang hilang itu. Setiap sudut ditengok­nya, dan setiap jengkal tempat yang ada disitu dirabanya, namun hingga malam hari buku buku tersebut tak jua ditemukannya. Sesampai di rumah ia tidak bisa makan dan sulit tidur, karena ia tahu buku-buku di perpustakaan itu adalah buku buku yang harganya mahal dan sangat dibutuhkan oleh banyak orang.

Didorong oleh rasa tanggung jawabnya yang besar,  Ibu Dahlia pun akhirnya mengganti buku yang hilang itu dengan uang pribadi. Baginya adalah sebuah kesalahan yang besar apabila ia sampai tak mampu mengembalikan apa yang sudah dipercayakan kepadanya.

Hari itu perpustakaan tampak lengang!  Tak ada lagi seseorang yang duduk sambil  mengakrabi buku buku yang ada disitu. Bu Dahlia, wanita paruh baya yang hobby membaca dan melukis itu ternyata telah tiada!  Dalam hitungan menit ruangan yang tidak begitu luas itu dipenuhi dengan isakan tangis yang datang silih berganti. Ternyata kepergiaan Ibu Dahlia telah membuat kehilangan seluruh komponen di kampus tersebut.

Ia adalah sosok yang patut diteladani, terlebih karena sikapnya yang santun, sederhana, rendah hati dan setia dengan pekerjaannya. Ia rela bekerja dengan gaji ala kadarnya, siap melayani begitu banyak orang, dan akhirnya Tuhan memanggilnya dalam damai dengan sesungging senyum disudut bibirnya.

Ibu ibu yang terkasih,….begitulah ceritanya, semoga ada sisi positif yang dapat kita petik ! Sampai  jumpa pada edisi mendatang,  teriring salam  kasih untuk semua orang yang ada disamping anda ! GOD BLESS  YOU !***