Penutupan Gelar Budaya Paroki Sragen bersama Arswendo Atmowiloto

DSC_0372_resize_resizeParoki Sragen (LENTERA) – Gelar Seni Budaya dan Pameran- Lelang selama sepekan ditutup Sabtu (8/12). Kegiatan ini memperingati HUT ke-55 Paroki Sragen sekaligus merayakan Tahun Iman. Di samping menggali kebudayaan daerah di masing-masing wilayah juga menggali dana untuk pembangunan Taman Doa di Ngrawoh. Budaya setempat yang telah tenggelam ditelan arus zaman digali lagi dan dikemas menjadi sebuah pementasan, tontonan dan tuntunan apik. Iman Katolik bersahabat erat dengan Inkulturasi budaya daerah yang ada, dengan demikian tak ada salahnya bila budaya lokal (lokal genius) yang tinggal nama diangkat kembali.

Hadir dalam acara penutupan gelar seni budaya ini, budayawan kenamaan Arswendo Atmowiloto. Di sini Bang Wendo, begitu sapaan akrabnya, menjadi  narasumber sarasehan seni budaya. Kegiatan yang di selang – seling dengan atraksi lain seperti musikalisasi puisi oleh Romo Ari, dkk, penampilan penyanyi keroncong beken Anastasia Astutie tersebut sungguh memukau audien.

Seniman dan budayawan gaek kelahiran Solo tahun 1948 dalam penampilannya sebagai narasumber ceplas-ceplos tanpa beban. Banyolan khas orang yang malang melintang di jagad seni budaya inilah yang membuat terpesona. Kebanyakan masyarakat yang hanya bisa melihat sosok Arswedo melalui media cetak dan elektronik malam itu bisa bertatapan langsung.

Di dalam sharring imannya penulis buku “Mengarang Itu Gampang” tak ada rahasia mengungkapkan ketika menjalani kehidupan di hotel prodeo di Cipinang. Lima tahun di Lembaga Pemasyarakatan lantaran dijebloskan setelah membuat kuis “INI DIA” di tabloid Monitor yang ia pimpinnya. Tabloid Monitor dibredel di era Presiden Soeharto. Sang Pemred (Arswendo, Red) dipaksa menjalani hidup damai di Seminari (sebutan LP menurut bang Wendo) yang damai. Ternyata benar, Tuhan Yesus menemaninya. Lantunan doa para rohaniwan/wati selalu tertuju selama kurang dari lima tahun hidup bersahabat dengan para napi lain, lebih singkat daripada putusan resmi hakim lima tahun.

Optimismenya dalam kepasrahan hidup, bagai burung dalam sangkar ini, membawa berkat. Ia lebih mengutamakan kelihaiannya dalam menulis, terutama menulis buku dan skenario sinetron. Meski sedang dikucilkan oleh berbagai kalangan dan karya-karyanya dibuat tidak laku, Si Gondrong ini hanya menjalaninya dengan senyum. Ia mengerti meski sedang di dalam kegelapan Tuhan Yesus pasti membukakan jalan untuk memampukan melihat seberkas cahaya terang.

Kesaksiannya menginspirasi gejolak kaum muda Paroki Sragen yang sedang mencari jati diri tentang dunia seni dan budaya. Ia menjadi besar karena sering mengalami jatuh bangun. Dan menghargai proses itu penting.

Upacara penutupan dilakukan dengan ditandai prosesi tarian penutup dan  berkat penutup oleh Romo Hardi. Menyusul kemudian melepas lima pasang burung merpati hitam dan putih, lambang ketulusan hati di usia 55 tahun Paroki St. Perawan Maria Sragen, Romo Paroki, Ketua Panitia, Arswendo, dan panitia lain.( Andre AS)