Oleh-Oleh Refleksi Natal: “Ma…..Papa,,,, gendonggg……!!”

keluarga kudusOleh: Rm. Jost Kokoh Prihatanto, Pr – Sepenggal kalimat lugas bernas di atas keluar dari mulut centil seorang gadis manis, ceriwis, berwajah agak melankolis. Bening manis-klasik garis wajah manjanya. Mata bening cerdasnya seperti burung gelatik zaman Adam Hawa. Segar canda tawanya, pecicilan-lincah penuh improve. Dialah sosok bayi belia jenaka yang penuh gaya ceria. Anastasia Larasati namanya. Atik-panggilannya. Nama yang indah bukan? Ia kini tinggal di panti asuhan, selatan kota Yogyakarta.

Bicara seputar Atik kecil dan teman-teman seumurannya kerap tak ada habisnya. Misalnya, ditilik dari sejarah: Dahulu, Kaisar Barbarosa (Kaisar Jerman: Friedrich, si janggut merah, 1152-1190) pernah bermaklumat agar setelah lahir, para bayi langsung dirawat oleh para perawat. Instruksi mutlaknya: Bayi-bayi itu harus dijaga agar jangan sampai mendengar suara atau bahasa manusia. Kaisar berharap agar para bayi berbincang dengan bahasa ilahi-khas taman firdaus, bahasa yang seasli-aslinya: “yang asli lengket di hati”. Perkiraan kaisar, bahasa yang akan muncul dari para bayi itu datang langsung dari ilham Tuhan sendiri. Survey membuktikan:…..”gatot alias gagal total!” Bayi-bayi itu malahan berbicara tak karuan, bahkan ada beberapa yang jatuh sakit.

Dari penggalan cerita tersebut, sepakat dengan Philippe Aries dalam Centuries of Childhood, kita meyakini bahwa wajah dan hati anak yang baru lahir adalah wajah dan hati tanpa dosa. Bukankah Yesus pernah berujar: “Biarlah anak-anak datang padaKu. Barangsiapa tidak bisa menjadi seperti anak-anak, tidak bisa masuk ke dalam Kerajaan surga.”

Dalam bahasanya hadits nabi: “bukankah setiap anak lahir dalam keadaan suci?”  Kini, waktu ternyata tak hanya berputar, tapi juga berlari. Kita memasuki pelbagai bahasa baru: kaya warna-nuansa pun citra. Celakanya, ketika bahasa baru dunia kita berlari kencang-tunggang langgang tanpa kendali. Ketika banyak orang bergumul dalam bisingnya lalulintas hidup modernitas, banyak sesama kita juga mengalami situasi tercerabut dari akar, serba terpencar, lepas dari ikatan teritorial yang tetap dan tercerai berai. Dunia kita yang dulunya kosmos, teratur kini kerap menjadi khaos, amburadul: Pembantaian jemaat jelata, pemerkosaan warga minor sahaya, pembunuhan legal kaum urban papa, penjarahan penuh rekayasa, permainan kotor elit keprabon, bunglonisasi kriminalitas, sandiwara politik tak berujung. Fenomen ini tampak jelas lewas rentengan potret berdarah dari Aceh, Ambon, Sampit, Timor, Papua, Kuta Bali Makassar, Solo sampai Jakarta.

Kerap tampak, korbannya melulu adalah orang kecil. Tak luput juga, anak-anak: mereka menjadi terlantar, miskin, cacat, sakit, tak jelas asalnya! Seperti tulisan harian Anne Frank, seorang gadis Yahudi, korban holocaust Nazi diantara 1.500.000 anak lainnya. “Suatu hari, perang gila ini kan usai, waktunya akan tiba bagi kami tuk menjadi manusia kembali.”. Banyak diantara mereka ada dalam ketidakpastian dan penantian. Mereka terpisah dari afeksi pun harta benda. Terpinggir oleh ganasnya arus zaman. Terceraikan dari kerabat dan sahabat. Tersingkirkan dari orangtua. Mereka saling merindukan, saling ingin menghadirkan dan menghibur.

Di sekitar kita, banyak juga anak, seperti Atik, yang bagaikan jatuh dari langit, karena tak jelas siapakah orang tuanya. Anak itu tidak tahu, bahkan mungkin memang tidak boleh tahu dan jangan sampai tahu. Belum lagi, ditilik dari soal abortus, hasil riset Allan Guttmacher Institute melaporkan bahwa setiap tahun sekitar 55 juta bayi digugurkan (1 hari: 150.658 bayi, 1 menit:105 nyawa bayi direnggut). Wajah-wajah mungil itu mesti hidup dalam bayang-bayang suram, padahal mereka adalah anak yang diperkenankan bertingkah polah nakal tanpa harus dihukum. Ini adalah fakta. Ini realitas sosial sejati. Dan, tugas kita adalah bagaimana menajamkan pesan Natal ditengah pelbagai ketimpangan sosial yang carut marut. Sayang, benar-benar sayang kalau pesan Natal betul-betul….nyaris tak terdengar.

Bersama Natal, kita diajak me­nyongsong tahun baru 2013. Tahun yang bukan hanya merupakan “deretan waktu”, melainkan juga “tantangan mutu”. Bukan hanya “kronos” melainkan juga menurut istilah Yunani “khairos”, yaitu kesempatan, kemungkinan, rahmat dan perutusan. Itulah yang mestinya juga kita tanggapi dengan sikap yang terbuka, karena: Bukankah dalam kisah natal, bayi Yesus mau terbaring diantara orang-orang sederhana dan lemah? Bukankah Ia mau menjadi lemah bersama kita, dengan tangan lemah terulur dan terbuka lebar? Bukankah tatapan mata hangat dan usapan tangan lembutnya seolah menyapa siapa saja yang memandangnya? Kalau manusia membutuhkan Allah, itu hal biasa, bukan? Tapi, di Natal ini tampaklah bahwa Allah juga membutuhkan manusia. Dan inilah yang luar biasa! Inilah kado Natal bagi kita. Tuhan datang dalam kelemahan. Ia menjadi teman seperjalanan, dalam pergulat-geliatan hidup kita.

Disinilah, Natal bukan hanya menjadi kenangan masa lalu atau sekedar kenangan historis akan kelahiran seorang bayi. Tapi, Natal lebih menjadi kelahiran rahmat dalam kehidupan harian kita: menjadikan “segala-galanya baik” (Markus 7:37): Harmonis dalam keluarga, aktif dan bahagia dalam kehidupan menggereja dan berpeduli pada mas­yarakat sekitar. Pacem in terris, pacem in cordis. Damai di bumi, damai di hati!

Fiat Lux!

@ Romo Jost Kokoh Prihatanto, Pr