Menjadi selalu Baru dalam Hidup melalui Momen Refleksi

peace-faith-and-hope-mdOleh: Rm. Yohanes Ari Purnomo, Pr – Setiap kali pergantian tahun, kita diingatkan tentang perjalanan waktu yang telah kita lalui. Setiap orang berusaha melihat kembali perjalanan dan perjuangan yang telah dibuat pada tahun yang telah berlalu. Dengan melihat perjalanan sebelumnya, orang kemudian merencanakan suatu perubahan ataupun program untuk tahun berikutnya. Moment untuk melihat kembali perjalanan hidup selanjutnya itu adalah momen refleksi. Socrates, seorang filsuf besar Yunani, pernah berkata: “hidup yang tidak pernah direfleksikan adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi”.

Momen refleksi adalah momen untuk memaknai hidup yang layak dihidupi. Dan momen refleksi itu terbentang dalam perjalanan waktu yang terus melaju.Lalu apa arti dari hidup yang direfleksikan itu? Hidup yang direfleksikan adalah hidup yang dilihat senantiasa dilihat kembali, direnungkan, disyukuri dan kemudian dijadikan bekal untuk perjalanan selanjutnya. Momen refleksi ini adalah momen belajar untuk sesuatu yang semakin bermakna dalam kehidupan ini. Ini semua amat mungkin terjadi bagi manusia karena manusia memiliki akal budi, kehendak dan perasaan.

Manusia bisa mengenali setiap perjalanan yang dia buat selama hidupnya, dari waktu ke waktu. Pengenalan ini merupakan kerja dari akal budi. Setelah mengenali, manusia mulai merasakan dan menimbang, apa yang telah berhasil, yang tidak berhasil, yang masih diperjuangkan, dan yang hendak diciptakan. Dan setelah mengetahui serta memutuskan apa yang dirasakan memberi makna bagi hidupnya, manusia pun merancang perjalanan selanjutnya. Saat itu, kehendak pun mulai berperan dalam menentukan langkah-langkah berikutnya dalam melanjutkan pencarian makna hidup ini.

Dalam hidup rohani beriman Katolik, momen refleksi terus menerus menjadi bagian vital yang tidak bisa ditinggalkan. Bahkan Yesus sendiri pun selalu melakukan momen refleksi ini di sepanjang hidupNya. Ketika Yesus pergi ke tempat sunyi untuk berdoa, Ia sebenarnya tengah melakukan momen refleksi ini dan kemudian mensyukurinya di dalam doa. Sisi spiritualitas manusia menjadi bagian terakhir dari refleksi ini, yang akan menjadi daya bagi perjuangan selanjutnya. Pada sisi spiritualitas, manusia merangkum setiap perjalanannya dan mempersembahkannya kepada alur Sang Pencipta, untuk kembali berjalan sesuai dengan kehendakNya. Pada saat itu, manusia diajak untuk berhadapan dengan dirinya sendiri serta Sang Pencipta. Momen refleksi dengan disertai syukur kepada Tuhan ini akan menuntun untuk berjalan ke masa depan.

Dalam hidup beriman Katolik, setiap hari kita pun diajak untuk melakukan momen refleksi itu, dengan Ekaristi harian berikut bacaan kitab suci hariannya. Waktu-waktu dengan momen refleksi itu dibuat sebagai bagian dari perjuangan manusia untuk mensyukuri penyertaan Tuhan setiap hari dan juga wujud memuliakan nama Allah dari hari ke hari. Realitas itu akan menuntun langkah manusia dari waktu ke waktu dalam memaknai hidupnya.

Dengan selalu memaknai hidupnya dari waktu ke waktu inilah, manusia akan selalu berjumpa dengan sesuatu yang baru setiap hari, dan dengan demikian pula, diajak untuk selalu memiliki hati baru, semangat baru, yang semakin terarah kepada kehendak Tuhan, berdasarkan iman, pengharapan serta kasih. Manusia tengah berziarah menuju kepada makna hidupnya yang sejati, yakni Tuhan sendiri.

Dan sebagai pengikut Kristus, kita bersyukur sebab hari Natal, kelahiran Sang Juruselamat, berdekatan dengan waktu pergantian Tahun. Sesudah merayakan Natal, kita merayakan Tahun baru. Kelahiran selalu merupakan hal yang baru, dan itu menandakan adanya pengharapan akan keselamatan. Tahun baru juga merupakan momen dimana Tuhan senantiasa memberikan waktu serta pertumbuhan dan juga kelahiran-kelahiran baru. Maka, sebagai orang Katolik, hendaknya Natal dan Tahun baru selalu menjadi momen refleksi yang kan melahirkan semangat baru dalam menapaki perjalanan demi perjalanan hidup selanjutnya. Biarlah Tuhan selalu terlahir di hati kita masing-masing, menjadikan segala sesuatunya baru, seperti tahun yang baru pula.

Dengan Perayaan Natal serta Tahun Baru, biarlah setiap orang kembali tekun belajar, demi langkah selanjutnya yang lebih baik. Biarlah jiwa ini semakin diterangi olehNya melalui momen refleksi yang terus menerus terjadi. Sebab memang sebenarnya hidup ini layak untuk dihidupi, dengan kita melakukan momen refleksi dari waktu ke waktu, serta mensyukurinya. Dengan begitu, kita akan selalu bertumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih, menjadi orang yang paling berbahagia di dunia ini karena selalu mampu bersyukur dalam setiap situasi apapun.***