Kasih itu membawa damai

spirit damaiOleh: Ibu  Ateng – “Something so right”, itu sebuah judul film di TV. Saya tidak ingat kapan persisnya menonton film itu. Yang pasti, sudah lama sekali. Saya masih SLTP waktu itu. Nama tokoh detail lainnya pun saya sudah agak lupa.

Ceritanya begini: ada seorang anak, belum genap tujuh belas tahun usianya. Sebutlah namanya Andrew. Ayahnya seorang pemain rugby terkenal di Amerika. Andrew sangat mengaguminya. Ketika ayahnya mengalami ketidakcocokan dengan ibunya dan lantas pergi meninggalkan rumah, Andrew terpukul sekali. Sifatnya pun berubah nakal dan sukar dikendalikan. Andrew jadi suka membolos, berkelahi dan melawan gurunya di sekolah. Bahkan Andrew juga suka mencuri barang-barang di Supermarket.

Karuan saja ibunya menjadi sedih. Para guru di sekolahnya resah dan kehabisan akal. Mereka lantas berembug, kenakalan Andrew sungguh tak dapat dibiarkan karena sudah di luar batas. Mereka sependapat, Andrew membutuh­kan figur seorang ayah yang bisa diidolakan­nya.

Atas saran Kepala Sekolah, ibu Andrew lalu menghubungi perkumpulan bapak asuh, sebuah lembaga yang me­nyedia­kan jasa para pria dewasa untuk mendampingi dan menemani anak-anak yang telah kehilangan sosok ayah. Seminggu kemudian, datanglah Pak John yang menawarkan diri untuk menjadi bapak asuh bagi Andrew.

Pak John sebaya dengan ayahnya-Andrew, tetapi tidak segagah ayahnya Andrew. Pak John juga tidak bisa bermain rugby seperti ayahnya Andrew. Maka, pak John pun dipandang sebelah mata oleh Andrew. Tidak jarang pak John menjadi bulan-bulanan Andrew. Tetapi Pak John sabar dan tetap me­ngasihi Andrew. Tiap hari pak John menyempatkan diri men­jemput Andrew di sekolah, menemani Andrew bermain, atau mendengarkan cerita-cerita Andrew. Pak John juga tidak pernah lupa saat-saat penting dalam hidup Andrew. Ketika Andrew berulang tahun, pak John ikut menyiapkan pestanya. Ketika Andrew mendapat nilai bagus di sekolah, Pak John memujinya. Ketika Andrew sedih, pak John menghibur Andrew.

Singkat cerita, akhirnya hati andrew pun luluh. Andrew menyadari betapa besar kasih sayang pak John terhadapnya. Di akhir film, Andrew berlari memeluk pak John erat-erat. Andrew menangis bahagia. Tidak ada lagi jarak di antara mereka.

Kasih, seperti yang hendak ditunjuk­kan dalam film tersebut, itulah sesuatu yang paling indah dalam hidup seseorang merasakan kedamaian batin. Tak ada kekuatan yang bisa melampaui kasih.

Agustinus, seorang Bapa Gereja, pernah mengatakan,”Ama, et fac quod vis!” (Mulailah dulu dengan kasih). Jika kasih sudah ada, maka lakukanlah apa saja yang kamu kehendaki.Kasih adalah mutiara yang paling indah dalam hidup seseorang. Kasih merupakan harta yang paling berharga. Tanpa kasih, hidup takkan lengkap, hambar dan kosong. Tanpa kasih, hidup sia-sia.

Ada satu lagi cerita, begini: seorang pemuda Amerika pergi ke Vietnam dalam tugas militer kemahasiswaan. Dua tahun kemudian ia kembali. Karena rumahnya di pinggiran kota, ia tidak bisa langsung pulang. Ia menginap di sebuah wisma, lalu ia menelepon ke rumahnya. Ibunya yang menerima.

“Ma, saya pulang,” katanya.

“Puji Tuhan, Nak. Dua tahun kami menunggumu. Selamat datang kembali di rumah, Nak,” sahut ibunya gembira.

“Ma, boleh tidak saya bawa teman untuk tinggal di rumah kita?”

“O, boleh, Nak. Biarlah temanmu itu tinggal bersama kita. Masih ada kamar kosong di sebelah kamarmu.”

“Tapi, Ma, teman saya itu cacat; kedua kakinya diamputasi kaena me­nginjak ranjau di Vietnam. Tangan kanannya pun sudah tidak ada, terkena pecahan mortir, tinggal tangan kirinya yang tersisa.”

Nada gembira sang ibu langsung hilang, berganti suara kaget dan marah.

“Nak, kamu ini sudah gila, mau-maunya membawa orang cacat begitu tinggal di rumah kita,” kata ibu pemuda itu dengan nada suara tinggi. “Apa kamu tidak punya teman lain yang normal? Kamu sama saja dengan membawa seekor kutu dan menempelkan di atas rambut kepada sendiri. Mama tidak setuju.”

Tiba-tiba telepon itu terputus, tanpa ucapan selamat tinggal dari si pemuda. Esoknya, sang ibu dan suaminya pergi menjemput anaknya. Di depan wisma, mereka melihat ada banyak orang dan polisi. Rupanya ada seorang anak muda yang bunuh diri dengan melemparkan dirinya dari lantai atas. Seorang pemuda tanpa kedua kaki dan tanpa tangan kanan, yang tinggal hanya tangan kiri. Rupanya ketika berbicara tentang temannya yang cacat, ia sedang berbicara tentang dirinya sendiri. Bisa dibayangkan betapa sedih dan luka hatinya saat mendengar ibunya menolak kehadirannya.

Di saku baju pemuda itu ditemukan secarik kertas dengan noda darah,” Mama, Papa, dua tahun lalu saya pergi ke Vietnam dengan membawa kasih. Saya kembali, saya berharap kasih itu masih ada. Tetapi rupanya kasih itu sudah hilang bersama hilangnya kedua kaki dan sebelah tangan saya. Maka, buat apalagi saya hidup.”

Begitulah, tanpa kasih, hidup tiada berarti dan hampa. Pun kalau kita punya otak cemerlang, segudang harta, jabatan dan kedudukan tinggi atau kemampuan khusus yang tidak dimiliki orang lain, tanpa kasih semuanya sia-sia. Seperti dikatakan oleh Rasul Paulus, “sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.” (1 Korintus 13:1).***