Kasih & Solidaritas Kepada Sesama Wujud Nyata Dari Iman Yang Mendalam & Tangguh

solidaritasOleh : Rm. Robertus Hardiyanta, PrPada bulan Februari 2013 ini, dalam satu pekan ada beberapa momentum berturut-turut yang perlu kita perhatikan. Tanggal 10 Februari 2013 adalah Tahun Baru IMLEK 2564. Sebagian masyarakat kita dan juga umat katolik ada yang merayakannya. Tanggal 11 Februari 2013 adalah Hari Orang Sakit Sedunia ke 21. Bapa Suci Paus Benedictus XVI bahkan menyampaikan pesan khusus untuk peringatan tersebut. Tanggal 13 Februari 2013 umat katolik mengawali masa Prapaskah dengan perayaan Rabu Abu. Tema Prapaskah pada tahun 2013 ini: “Semakin Beriman Dengan Bekerja Keras dan Menghayati Misteri Salib Tuhan.” Tanggal 14 Februari 2013 adalah hari Valentine, khususnya bagi kaum muda merupakan hari yang spesial, merupakan kesempatan untuk saling mengungkapkan kasih dengan pemberian-pemberian dan hadiah.

Dalam kehidupan berparoki, kita juga baru konsentrasi untuk melengkapi personalia Dewan Paroki baru masa bakti 2013-2015. Dewan Paroki baru itu akan dilantik oleh Rama Vikep Surakarta pada hari Minggu, 17 Februari 2013.

Dalam konteks gerejawi Keuskupan Agung Semarang, kita memasuki tahun ketiga pelaksanaan ARDAS 2011-2015; dan dalam konteks Gereja universal, kita berada dalam Tahun Iman yang dimaksud­kan oleh Bapa Suci agar kita lebih mem­perdalam iman dengan mempelajari pokok-pokok iman, lebih sering membaca Kitab Suci dan merayakan ekaristi.

Semua peristiwa di atas tentulah amat sayang kalau kita lewatkan begitu saja untuk hanya memperhatikan salah satu tema untuk kita perhatikan atau kita renungkan. Maka dalam tulisan singkat ini saya berusaha untuk mencari benang merah yang dapat menghubungkan peristiwa-peristiwa tersebut untuk kita ambil hikmahnya.

Apa relevansinya kita ikut meraya­kan tahun baru IMLEK? Sudah barang tentu sebagian dari umat Katolik adalah WNI keturunan Tionghoa yang pasti secara khusus merayakannya. Semenjak almarhum Presiden Gus Dur, perayaan ini bahkan menjadi perayaan dengan hari libur nasional. Keberadaan Saudara-saudari kita WNI keturunan Tionghoa itu adalah bagian dari hidup Gereja. Kalau salah satu anggota bersuka-cita, kita pantas untuk turut bersuka-cita. Namun suka-cita itu harus kita tempatkan dalam konteks iman akan Allah yang mengatur sejarah kehidupan. Dengan kata lain, Gereja menyatakan solidaritas dalam suka-cita iman dengan Saudara-saudari kita itu.

Solidaritas kita tidak hanya kita nyatakan dengan mereka yang bersuka-cita, tetapi juga dengan mereka yang sedang berprihatin, yakni mereka yang sakit, bahkan ini justru yang jauh lebih penting karena Kristus solider dengan kita manusia berdosa dalam penderitaan-Nya di kayu salib. Bapa Suci Paus Benedictus XVI dalam pesannya pada Hari Orang Sakit Sedunia ke 21 mengulas Injil Lukas 10:25-37, perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati. Kita diajak untuk menjadi solider dengan mereka yang menderita karena berbagai macam hal tanpa memandang siapakah kita dan siapakah mereka.

Di sinilah ada titik temu dengan tema APP, karena kita diajak menghayati salib Tuhan melalui kerja keras. Pen­deritaan adalah bagian dari peng­hayatan iman yang paling dalam yang mesti kita nyatakan kepada sesama kita, terlebih mereka yang sakit dan menderita. Melalui pelayanan kepada orang sakit dan men-derita kita berharap bahwa mereka yang dilayani mengalami kasih Allah yang nyata dan mereka yang melayani dengan tulus menjadi pernyataan kasih Allah.

Sementara itu hari Valentine secara tidak langsung sebenarnya adalah harinya orang kristen, karena ajaran Kristus itu adalah cinta kasih. Ketika kita saling mengasihi, Allah ada di tengah-tengah kita. “Jika ada cinta-kasih, hadirlah Tuhan.” Maka sudah sepantasnya kita juga turut merayakannya. Cinta kasih yang paling dalam adalah solidaritas kita dengan mereka yang kecil, lemah, miskin, tersisih dan difabel. Hanya agak disayangkan bahwa perayaan hari Valentine biasanya lebih bernuansa cinta dalam dimensi relasi antara laki-laki dan perempuan, dibandingkan dengan rasa kemanusiaan.

Semua perayaan di atas tentu sudah sepantasnya dibingkai dalam iman kristen dalam kerangka Tahun Iman yang kita rayakan hingga 24 November 2013. Ini sekaligus juga bisa menjadi wujud nyata pelaksanaan ARDAS KAS 2013-2015, terutama dalam mewujudkan iman yang mendalam dan tangguh sebagai salah satu kata kunci dalam ARDAS tersebut.

Maka kasih dan solidaritas adalah dasar dan inti dari semua peristiwa yang kita alami dan kita rayakan pada bulan ini dan kita harap menjiwai semangat dan pelayanan kita dalam mempersiapkan diri menyongsong perayaan Paska dan menanggapi secara nyata adanya Tahun Iman. Semoga! Berkah Dalem.***