Rekoleksi OMK Sragen: “Jadilah Semua Satu.”

jam

Jambangan (LENTERA) – Rekoleksi  OMK kali ini mengambil tema ‘’Jadilah semua satu’’. Rekoleksi OMK, Sabtu (19/01) s/d Minggu (20/01) pada kesempatan ini berbeda dengan rekoleksi sebelumnya, bedanya hanya berjalan 2 hari dan acaranya tidak melelahkan seperti tahun kemarin.

Berangkat bersama dari gereja pukul 14.15, peserta rekoleksi kali ini lumayan banyak yaitu berjumlah 45 orang. Sesampai disana ada breaking ice supaya suasananya menjadi hangat dan tidak saling malu. Setelah itu ada perkenalan dari fasilitator yaitu Frater Hendy, Mas Leo dan Mas Dodik dan dibantu oleh Ajik dan Mbak Melinda sebagai Korlap.

Acara rekoleksi memang  dikemas dengan persiapan dari kita oleh kita untuk kita, jadi panitia juga menjadi peserta dalam rekoleksi. Lalu gantian peserta yang mengenalkan diri dari nama dan lingkungan mana. Ternyata, setelah itu ada perkenalan sesi 2 yaitu disuruh mencari nama baru, dan nama baru itu yang akan ditulis dalam cocard dan merupakan nama panggilan  selama rekoleksi 2 hari itu. Setelah perkenalan singkat itu, peserta diminta untuk keluar dari area dekat gereja mencari sebuah benda/membayangkan sebuah benda, benda tersebut sesuai yang diinginkan, dan diminta untuk menggambarkannya pada notes yang telah disediakan. Selang beberapa menit diluar, diminta untuk masuk lagi ke dalam gereja, dan membuat sebuah doa dari benda yang digambar tadi, seolah – olah benda itu memohon doa kepada Tuhan, dan juga disertai dengan diskripsi benda itu, misalkan dilengkapi dengan kelebihan dan kekurangan benda itu.

Peserta diberi waktu beberapa menit untuk membuatnya, setelah waktunya habis mereka dibagi dalam kelompok, masing-masing kelompok berjumlah ± 10 orang. Dalam kelompok mereka diberi kertas manila besar dan sebuah spidol, diminta untuk menggabungkan benda2 yang digambar supaya menjadi sebuah rangkain cerita yang mengandung refleksi hidup dan dipresentasikan di depan teman-teman dan fasilitator. Saat presentasi inilah saat yang paling menyenangkan karena bisa beradu pendapat dan saling bertanya, sesekali juga bercanda memojokkan kelompok lain.

Selesai presentasi, makan malam bersama, setelah makan dan istirahat sejenak sesi selanjutnya yang jauh diduga sebelumnya ternyata seru sekali, sesi nonton film, film yang berjudul ‘’Into the Wild’’yang dalam bahasa Indonesia artinya ‘’menyatu dengan alam’’. Film ini diperankan oleh anak muda (Chris) yang setelah lulus wisuda kabur dari rumah, dia tidak suka dengan tekanan2 yang ada di rumahnya, keluarganya yang begitu kaya lebih mementingkan hal materi dibanding sebuah perhatian yang sesungguhnya. Sampai akhirnya dia meninggal.

Selesai film itu, Romo Ari membantu peserta untuk mencoba memahami nilai – nilai apa yang bisa diambil dari film tersebut. Dalam sharing yang disampaikan Romo bahwa dari film itu bahwa kita adalah muda, yang tak lain seperti Chris. Keberanian­nya mengikuti jalan apa yang dia inginkanlah perlu ditiru, dan tentunya dalam wadah yang benar, di dalam lingkup Gereja. Berefleksi tentang menemukan ‘’nyala’’/ pilihan di dalam hati, ikuti apa kemauan kita, dan melakukan kemauan suara hati kita.

Romo Ari juga berpesan bahwa sebagai OMK jangan malu memberontak ketika kita mempunyai dasar dan alasan yang benar. Boleh juga ‘’mbeling’’ asalkan berkarakter. Di film itu juga diceritakan bahwa selama perjalanan Chris yang berjumpa dengan banyak orang, dapat ditarik juga bahwa alam yang dia cintai juga menyadarkan bahwa manusia di luar sana yang ia jumpai juga ada yang baik. Di akhir hidup Chris yang sendiri di dalam bus di tengah hamparan tumbuhan dan pepohonan menyadarkanya bahwa kebahagiaan yang nyata adalah ketika dapat dibagikan.

Setelah sharing bersama Romo Ari, adalah waktu untuk tidur. Dan hari kedua keesokan harinya misa yang dimpin oleh Romo Ari juga. Umat di daerah Jambangan pun turut ikut dalam misa. Dari kotbah Romo, peserta bisa mengambil makna bahwa ada banyak jalan bagaimana hati kita terbuka dengan sebuah mukjizat dalam hidup, yang mungkin kita alami juga bahwa terjadinya mukjizat bukan serta merta adanya sukacita yang penuh, mungkin dari pengalaman hidup yang kurang menyenang­kan bisa menghadirkan mukjizat di tengah-tengah banyak orang. Dinamika selanjutnya ialah fasilitator mengarahkan peserta untuk menggambar grafik sejarah hidup masing-masing dari lahir sampai saat itu. Dan menulisnya menceritakan sedetailnya-detainya apa saja yang terjadi selama perjalanan hidup kami. Entah itu saat mengalami perasaan yang jatuh, pengalaman yang tidak mengenakkan ataukah sedang bahagia, atau sedang dalam hal apa saja dituliskan didalamnya.

Saat dinamika yang dipimpin oleh Romo Jost kami juga belajar banyak hal, yaitu ketika kita orang muda harus dituntut menjadi orang muda Katolik yang berdaya­guna, bermakna, berdaya tahan. Berdayaguna ketika kita hadir dalam lingkungan sosial kami bisa berguna bagi orang – orang disekitar kami, Bermakna ketika orang muda Katolik yang banyak berefleksi, tetapi juga memberikan reaksi, menjadi orang muda Katolik yang mudah melihat keadaan sekitar namun juga bisa memaknai orang lain, pengalaman, dan setiap perjumpaan. Berdaya tahan, yaitu orang yang berubah karena informasi, dan transformasi yang tentunya membuat perubahan dalam pribadi peserta. Banyak refleksi dari Romo Jost yang dibagikan kepada peserta, salah satunya yang paling diingat ketika kita sedang dalam kondisi sakit, dalam kekhawatiran, dalam keadaan jatuh dan tertekan, atau ingin berubah atas gaya hidup tidak baik kita selama ini, yang diperlukan adalah ‘’Back to Your God’’, ‘’kembalilah kepada Tuhan’’. Seakan kata yang singkat itu memberikan jawaban mantap bagi peserta dengan memandang segala kekurangan masing-masing, seakan segala hal jelek yang pernah kita lakukan akan selalu diampuni Tuhan. Menyadarkan bahwa memang lahir kita di dunia ini adalah berkat Tuhan, sebagai kewajiban seorang manusia untuk tetap setia dan berbuah terhadap karyaNya bagi kita.

Sungguh pengalaman rekoleksi yang luar biasa. Terlebih selama di sana ketiga Romo yang hadir menjadi semangat para peserta. Selain itu Dimana pengolahannya yang menuju dari perjalanan hidup kami, bahwa semua orang mempunyai masa lalu/pengalaman jatuh dan menyenangkan. Tetapi bagaimana kita sebagai orang muda Katolik mampu berefleksi dari pengalaman tidak mengenakan dan mengampuni dari pengalaman sakit itu, menjalani hidup baru, yang menjadikan kita kuat di masa depan.

Dinamika diakhiri dengan pemilihan 6 formatur, demi kelanjutan kepengurusan OMK. yaitu Andreas Gogo (Mojo Kulon), Fransisca Andwi (Krapyak), Felicitas Dian (Gawan), R.M Yudhi (Banyuning), Valentina Deni (Kutorejo), Angela Dian (Ngrampal). Maturnuwun. Berkah Dalem. (Etta)