Aku Haus…

hausOleh: Frater Hendy Kiawan – Aku Haus: Inilah salah satu dari perkataan Tuhan Yesus menjelang akhir hayat-Nya. Menyayat dan sangat perih. Dengan terengah, Dia masih mengeluarkan kata sebagai wujud ungkapan kemanusiawian yang begitu dasariah;“Aku haus!”

Merenungkan satu frasa ini membuat saya hanyut dalam keseluruhan kisah penyaliban Tuhan yang keji.  Ada kesan lebih dari ungkapan manja ketika menggarap visualisasi kisah sengsara Tuhan. Kata-kata ini sungguh mengena. Kaya akan makna. Seolah Tuhan sangat rapuh dengan segala titik kelemahan manusia. “Aku haus!” menyadarkan saya akan dimensi titik nol menjadi manusia sejati. Dia memberanikan diri memohon pertolongan karena tubuh-Nya yang sangat lemah sudah tak mampu lagi berbuat sesuatu di atas salib. Bayangkan saja; tubuh tercabik-cabik, darah segar selalu keluar, terpaku dengan gerak terbatas, merasa ditinggalkan oleh banyak orang, diolok-olok, dan akhirnya menghayati misteri perutusan-Nya di atas salib.

Jika kita menelisik lebih jauh dari perbandingan teks Kitab Suci, kata-kata “Aku haus!” dalam Injil Yohanes 19: 28 juga terdapat dalam kitab Mazmur 22: 16 yang berbunyi “kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletak­kan aku”. Nuansa Mazmur ratapan ini, juga menjadi bahasa Tuhan untuk me­ngungkap­kan keadaan diri-Nya. Yesus ikut ambil bagian dalam penderitaan manusia yang paling rendah. Dengan “Aku haus!”, Ia pun hendak meratapi segala yang terjadi dalam diri-Nya.

Tentang Kehausan

Secara medis rasa haus dikarenakan oleh adanya perubahan kadar garam dari darah kita. Ternyata dalam otak kita terdapat sensor “pusat haus”. Bagian ini akan memberikan respon pada jumlah garam dalam darah dan ketika terjadi perubahan kadar garam tersebut, “pusat haus”  akan segera memberikan pesan ke bagian belakang tenggorokan.  Maka, munculah pesan yang dilanjutkan ke otak dan menimbulkan kombinasi perasaan yang kita sebut dengan istilah haus.

Rasa haus akan menuntut kita untuk segera mencari kelegaan.  Tidak lain hanya dengan “minum”. Konon setelah ledakan bom atom kota Hirosima dan Nagasaki, penduduk dua kota itu harus meminum air dengan zat-zat beracun untuk memuaskan dahaga mereka. Bahkan, (amit-amit nyuwun sewu) saat terjadi kekeringan besar di Afrika, orang rela meminum air seni dari hewan. Hal ini menjadi bukti bahwa masing-masing mahluk hidup akan berjuang dengan segala daya dan upaya guna mencari kelegaan dan air yang membawa mereka kepada kehidupan.

Setiap orang pasti pernah merasa haus. Rasa itu memberikan ketidak­nyamanan pada tubuh. Membuat gerak terganggu dan selalu ingin menuntut kelegaan. Itu masih dalam tataran fisik. Ternyata kehausan juga menjangkiti dimensi batin manusia. Jiwa terpenjara oleh berbagai macam hal sehingga seolah-olah manusia tertuju pada kerinduan dan kepentingan-kepentingan untuk melegakan dirinya. “Pusat haus” terletak  tidak hanya menyerang bagian belakang tenggorokan tapi sudah merambah hingga ke hati. Titik sensor manusiawi tidak lagi terjadi secara natural tapi sudah konspirasi.

Kehausan Spiritual

Ahli spiritual menyatakan bahwa saat ini banyak manusia yang mengalami kekeringan rohani. Dunia sekarang seperti padang gurun. Dalam bahasa keren kaum spiritualis dinamakan desetifikasi (desert= gurun) rohani. Waktu-waktu berjalan dengan sangat panas. Manusia menjadi sibuk. Gerah dengan segala tuntutan, kehendak diri, dan kepentingan. Dari segala segi didesak untuk bertahan dalam dunia yang menggelisahkan. Masalah datang bertubi-tubi. Manusia hilang kendali. Ada dua keteganan yakni selalu ingin menuruti atau mencoba  berlari.

Tantangan kehausan ini menyerang berbagai macam pihak. Tanda-tanda zaman sudah mengungkapkan dimana ada kecenderungan beberapa manusia berada dalam kebingungan untuk menenteram­kan batinnya sendiri. “Pusat haus” justru ada di titik lemah manusiawi dan masing-masing orang punya pusat hausnya sendiri-sendiri. Istimewanya, roh jahat selalu tahu “pusat haus” tersebut. Pelan-pelan dia merongrong kehidupan kita. Menuruti kelegaan yang tiada batasnya membuat hidup makin kocar-kacir.

Kelegaan Abadi

Solusi menarik juga datang dari inspirasi pemazmur “Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah kering dan tandus, tiada berair” (Mazmur 63:2). Cerminan pemazmur ini dapat menjadi bahan kita untuk melihat diri kita. Banyak kehausan dalam diri membuat jiwa terkekang dan tubuh pun mengikuti kerinduan jiwa itu. Kita yang rapuh dan punya “pusat haus” ini diajak untuk kembali mengarahkan “pusat haus” kita kepada Sang Sumber Air Hidup Sejati.

Sebenarnya kita sudah tahu pusat kelegaan itu. “Barangsiapa minum air ini, ia tidak akan haus lagi, tetapi barangsiapa munum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terun menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal,” (Yohanes 4: 13-14).

Di atas salib, Tuhan Yesus mem­berikan pencerahan kepada kita semua. Dalam titik nol penderitaan manusia, Tuhan Yesus mampu untuk mengarahkan “pusat kehausan”-Nya tidak kepada orang-orang di sekeliling-Nya, tidak pula kepada anggur asam yang diberikan oleh prajurit sebagai kelegaan, tapi kepada Bapa yang Ia sapa ketika akhir hayat-Nya Eloi…Eloi…***