Masa Prapaskah: Masa Pertobatan dan Pemurnian

askahOleh: Rm. Yohanes Ari Purnomo, Pr – Dalam menghayati iman Katolik, kita selalu dituntun oleh Gereja Universal untuk mengalami karya keselamatan Allah yang hadir dalam sejarah. Karya keselamatan Allah yang hadir dalam sejarah ini tertuang dalam perayaan liturgi dan sakramen yang kita terima. Liturgi dan Sakramen itu menjadi daya hidup yang membawa pada pengudusan serta penyelamatan umat beriman. Perayaan keselamatan ini disusun sedemikian rupa dalam sebuah siklus penanggalan yang disebut sebagai kalendarium liturgi.


Puncak dari misteri perayaan karya keselamatan Allah dalam sejarah ini adalah Misteri Paskah dalam Perayaan Paskah. Pada perayaan misteri Paskah ini, kita mengalami kembali Sabda Allah yang berpihak pada kita secara total, dalam sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus.

Dalam tradisi Katolik, masa sebelum merayakan Pekan Suci (rangkaian Perayaan Paskah) disebut sebagai masa Prapaskah. Pada masa itu, segenap umat diajak untuk bertobat, matiraga, dan berderma terhadap orang-orang yang berkekurangan. Masa prapaskah dilewati oleh umat Katolik dengan berpuasa, berpantang dan juga meningkatkan olah rohani baik dengan berdoa, retret, rekoleksi, maupun berbagi dengan saudara yang berkekurangan. Masa prapaskah adalah masa persiapan untuk merayakan Perayaan Paskah. Pada masa prapaskah ini, umat diajak untuk mengalami pertobatan dan juga pemurnian, agar boleh menerima misteri agung penyelamatan dalam sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus.

Pada masa Prapaskah, segenap umat diajak untuk memiliki hati seperti hati Yesus yang berkenan menderita sengsara demi keselamatan umat manusia. Dengan demikian, pada masa prapaskah ini, segenap umat beriman diajak untuk memiliki semangat pertobatan, semangat cinta kasih, dan juga pemberian diri bagi sesama. Masa prapaskah adalah kesempatan untuk berdamai kembali dengan Tuhan dan sesama yang relasinya sempat terganggu karena dosa. Pada masa Prapaskah ini segenap umat diajak untuk berbalik dari hidup kebiasaan lama, dan mengenakan hidup kebiasaan baru yang selaras dengan kehendak Tuhan. Pada masa Prapaskah ini pulalah, segenap umat diajak untuk membersihkan diri dari segala dosa dengan mengalami pertobatan, menyerah di hadapan Tuhan dan mengandalkan Tuhan.

Pertobatan adalah seruan hakiki dari pewartaan Kerajaan Allah, supaya segenap manusia diselamatkan.Dalam Katekismus Gereja Katolik Artikel 1427 dikatakan “Yesus menyerukan supaya bertobat. Seruan ini adalah bagian hakiki dari pewartaan Kerajaan Allah: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil !”.(Mrk 1:15). Di dalam pewartaan Gereja seruan ini ditujukan pertama-tama kepada mereka yang belum mengenal Kristus dan Injil-Nya. Tempat pertobatan yang pertama dan mendasar adalah Sakramen Pembaptisan. Oleh iman akan kabar gembira dan oleh Pembaptisan (Bdk. Kis 2:38.) Orang menyangkal yang jahat dan memperoleh keselamatan, yang adalah pengampunan segala dosa dan anugerah hidup baru”

Selain mewartakan Kerajaan Allah, pertobatan juga merupakan anugerah Allah atas begitu besarnya kasih Allah bagi manusia. Pertobatan pertama-tama bukan karena usaha manusia belaka, melainkan anugerah Allah. Oleh karena belas kasih Tuhan, kita yang berdosa ini dipanggilNya kembali untuk berbalik kepadaNya. Tentang hal ini, Katekismus Gereja Katolik artikel 1428 menyebutkan: “Seruan Yesus untuk bertobat juga dilanjutkan dalam hidup orang-orang Kristen. Pertobatan kedua adalah tugas yang terus-menerus untuk seluruh Gereja; Gereja ini “merangkum pendosa-pendosa dalam pangkuannya sendiri: Oleh karena itu Gereja perlu selalu penyucian dan sekaligus harus dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan” (LG. Mengusahakan pertobatan itu bukan perbuatan manusia belaka. Ia adalah usaha “hati yang patah dan remuk” (Mzm 51:19), yang oleh rahmat diyakinkan dan digerakkan (Bdk. Yoh 6:44; 12:32)., untuk menjawab cinta Allah yang berbelaskasihan, yang lebih dahulu mencintai kita (Bdk. 1 Yoh 4:10”).

Maka marilah kita menghayati masa prapaskah ini dengan membangun pertobatan sejati, membangun serta memperbaharui hidup kita dari waktu-ke waktu, sambil tetap teguh dalam iman, tegar dalam pengharapan serta berkobar dalam kasih, bahwa Tuhan selalu mengasihi kita, dan kehendak satu-satunya bagi kita adalah agar kita bertobat, menjadi murni, dan akhirnya diselamatkan.***