Buatlah Hati Kami Seperti Hati-mu Ya Yesus

hatiOleh: Romo Yohanes Ari Purnomo, Pr – Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi: Asas-Asas dan Pedoman, artikel 166; mengungkapkan bahwa Gereja merayakan Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus pada hari Jumat sesudah minggu II sesudah Pentakosta. Di samping perayaan liturgis, banyak kegiatan devosional dikaitkan dengan Hati Kudus Yesus. Di antara semua devosi, devosi kepada Hati Kudus dahulu dan sekarang tetap merupakan devosi yang paling populer dan meng-umat dalam Gereja. Dipahami dalam terang Kitab Suci, istilah “Hati Kudus Yesus” menunjuk kepada seluruh misteri Kristus, seluruh keberadaanNya, dan pribadiNya dipandang dalam hakikat terdalamnya: Putra Allah, kebijaksanaan kekal; kasih tak terbatas, pangkal keselamatan dan pengudusan manusia. Hati Kudus adalah Kristus sendiri, Sabda yang menjelma, Juru Selamat yang, dalam Roh, secara hakiki mencakup kasih Ilahi-insani yang tidak terbatas kepada Bapa dan saudar-saudariNya

Berdasarkan uraian berikut, Hati Yesus Yang Mahakudus adalah keseluruhan diri Yesus,yang hadir di tengah-tengah kita sebagai Sang Penyelamat. Dengan demikian, segala penghormatan terhadap Hati-Nya Yang Mahakudus adalah penghormatan terhadap Tuhan Yesus. Penghormatan ini terungkap dalam kegiatan liturgi (dalam Perayaan Ekaristi) maupun bentuk-bentuk kegiatan devosional lainnya. Itu semua merupakan ungkapan iman umat untuk mencintai dan menghormati Hati Yesus Yang Mahakudus yang telah berkenan tinggal di tengah-tengah kita. Ia menyatakan diri-Nya sebagai ‘yang lemah lembut dan rendah hati” (Mat:11:29). Betapa Yesus memiliki hati yang penuh kelembutan dan kerendahan hati. Oleh Hati-Nya yang Mahakudus ini, keselamatan manusia terjadi, yakni ketika tombak tentara menembus lambungNya hingga mengalir darah dan air (Yoh:19:34), simbol dari “sakramen Gereja yang terluka”. Ungkapan dan peristiwa di dalam Injil tersebut menjadi salah satu pengaruh yang amat besar dalam perkembangan devosi pada Hati Yesus Yang Mahakudus.

Di antara umat beriman, devosi kepada Hati Yesus yang Mahakudus ini amat marak dan disukai oleh banyak umat. Ulah kesalehan dengan menghormati Hati Yesus Yang Mahakudus ini membawa umat untuk semakin terarah kepada Hati Yesus, yang penuh kasih, lemah lembut, dan baik hati. Dengan mengarahkan diri pada sosok pribadi utama dengan Hati Termulia itu, kita semua, umat yang berdevosi kepada

Hati Kudus Yesus pun memohon agar memiliki hati seperti hatiNya. Dengan mengarahkan diri pada sosok pribadi utama dengan Hati Termulia itu, kita semua, umat yang berdevosi kepada Hati Kudus Yesus pun memohon agar memiliki hati seperti hatiNya. Dengan demikian, liturgi serta devosi dalam menghormati Hati Yesus yang Mahakudus pun tidak berhenti sebatas aturan serta rumusan doa-doa, tetapi merupakan kerinduan umat beriman akan Hati Yesus Yang Mahakudus, yang akan menjamah, memeluk serta menyertai perjalanan iman umat.

Di tengah konteks sosial masyarakat Indonesia saat ini, baik kiranya jika devosi kepada Hati Yesus Yang Mahakudus ini mendapat perhatian yang cukup serius, mengingat pendidikan hati nurani di negeri ini masih begitu banyak diabaikan. Dengan membiasakan umat beriman berdoa serta menghormati pada Hati Yesus yang Mahakudus, umat diajak untuk memiliki hati seperti hati Yesus, menjadi berkat dan kebahagiaan bagi setiap orang. Ulah kesalehan itu tidak pertama-tama bersifat magis, namun sungguh merupakan pendidikan hati nurani untuk semakin berkiblat pada Kristus, dengan HatiNya yang Mahakudus. Itu semua akan mengarahkan kita untuk memiliki hati baru, hati yang penuh kasih, hati yang berani mengampuni, hati yang berani berkorban, hati yang tulus tanpa pamrih dalam mengabdi, hati yang seperti hati Yesus sendiri.

Memiliki hati sebagaimana hati Yesus yang Mahakudus adalah tujuan akhir dari segenap umat beriman, yakni ketika kita bersatu bersama Kristus di dalam persekutuan kasihNya yang abadi. Meski persatuan itu terpenuhinya kelak jika sudah di surga, namun saat ini pun kita tengah terarah ke sana. Saat sekarang ini, persatuan dengan Kristus yang terjadi adalah di dalam karya kasih dan pewartaan kabar gembira Injil bagi siapapun juga. Secara khusus pula, di dalam Gereja, kita dipersatukan di dalam kasih Kristus, untuk tetap terarah kepada keselamatan, yang memancar dari Hati-Nya Yang Mahakudus

Sudahkah kita sungguh terarah kepada Kristus dengan memohon dan terus berjuang untuk memiliki hati seperti hatiNya? Lantas bagaimana kita tahu tentang hatiNya? Kita bisa mengenali hati Yesus melalui Kitab Suci, melalui panggilan hidup kita sebagai umat beriman yang baik, melalui perayaan liturgi dan devosi-devosi yang akan mengarahkan kita kepada kebaikan sejati. Itulah perjalanan iman kita, yakni semakin memiliki hati seperti HatiNya; memikirkan dengan pola pikir Kristus, dan memandang dengan cara pandang Kristus. Dengan begitu, kita semua akan sungguh-sungguh beriman: mengungkapkan dan mewujudkan iman dalam hidup sehari-hari yang semakin bermakna, entah bagi dunia maupun bagi diri sendiri. Maka marilah kita memohon kepada Kristus: “Ya Yesus, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu” dan biarlah hidup kita sepenuhnya dituntun oleh Hati Yesus Yang Mahakudus.