Frater Hieronymus Rony Suryo Nugroho

roniHieronymus Rony Suryo Nugroho. Memang agak panjang dan boros karena ada dua kata Rony di dalamnya. Saya biasa dipanggil Fr. Rony. Saya lahir di Bogor pada hari Minggu Pon, 4 Februari 1990 dari pasangan Bapak Ambrosius Suparjana dan Ibu Maria Regina Muryanti. Orang tua saya kini tinggal di Boro. Ada yang tau daerah Boro? Boro itu bukan Borobudur, apalagi Malioboro. Boro itu salah satu desa yang ada di gugusan pegunungan Menoreh, dan dekat dengan Sendangsono. Saya ini satu lingkungan dengan Rm. Kurnia yang beberapa tahun yang lalu pernah menjalani masa TOP di tempat ini juga.

Saya memiliki dua orang kakak, satu laki-laki dan satu perempuan. Kakak pertama saya, Raymundus Nonnatus Mujito (Raymond), kini sudah berkeluarga dan tinggal di Jakarta bersama istri dan satu orang anak laki-lakinya. Kakak saya yang kedua, Maria Emeryta Worohapsari (Ryta), kini tengah menjalani masa pendidikan tahun kedua di Novisiat Suster-suster Kongregasi Abdi Kristus (AK) di Ungaran.

Dulu keluarga kami tinggal di Bogor. Pada tahun 1998, kami pindah ke Boro untuk mengurus kakek dan nenek (orang tua dari bapak) yang sakit-sakitan. Ibu, kakak peremuan, dan saya sudah lebih dahulu pindah ke Boro, sedangkan bapak saya baru tetap melanjutkan pekerjaannya sebagai guru SD sampai pensiun pada tahun 2011 yang lalu. Kakak laki-laki saya sejak tahun 1996 tinggal dan bersekolah di Jakarta, jadi dia tidak pernah mengalami perpindahan ke Yogyakarta.

Saya yang adalah lulusan SD dan SMP Pangudi Luhur Boro, telah menjalankan pendidikan sebagai calon imam di SMA Seminari Mertoyudan. Setelah lulus dari Seminari Mertoyudan, saya menjalankan pendidikan di Seminari Tahun Orientasi Sanjaya, Semarang, dan selanjutnya di Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan.

Demikian perkenalan singkat mengenai diri dan keluarga saya. Per 15 Juni 2013, saya diutus untuk menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral di Paroki Sragen ini. Di tempat ini saya akan tinggal bersama saudari-saudara sekalian selama satu tahun. Saya mohon bimbingan dari Anda sekalian. Jangan ragu untuk menegur saya kalau sikap atau perkataan saya kurang pas. Kita saling mendoakan, ya…. Matur nuwun dan Berkah Dalem.