Habis Gelap Terbitlah Terang

kartiniOleh : Romo Robertus Hardiyanta, Pr – Suasana kemeriahan Paskah masih belum berlalu dan rasa capek masih belum hilang, kini bulan baru yakni bulan April sudah tiba. Bulan April selalu identik dengan bulan Kartini atau bulan emansipasi. Ingat Kartini, selalu ingat ungkapan ‘Habis Gelap Terbitlah Terang.’ Bukankah itu Paskah? Setelah mengalami kegelapan makam, pada hari ketiga Yesus bangkit.  Yah, kebangkitan kaum hawa yang dirintis Kartini untuk memperjuangkan hak-hak kaumnya kiranya menjadi salah satu sisi atau wujud kebangkitan yang pada masa ini tetaplah menjadi hal yang relevan, karena kaum hawa masih selalu saja diperlakukan sebagai maklhuk kelas dua.

Masih menjadi bahan diskusi yang hangat di kalangan para Rama melalui ‘mailing list’ (milis), ketika pada hari Kamis Putih yang lalu Bapa Suci kita yang baru: Paus Fransiskus membasuh kaki para tahanan wanita. Kiranya juga banyak komentar dan tulisan di dunia maya tentang pro dan kontra akan tindakan Bapa Suci kita itu. Ini menunjukkan bahwa pada umumnya para ‘petinggi Gereja’ masih mempunyai pandangan yang konservatif dan bahkan diskriminatif. Tindakan Yesus membasuh kaki para murid-Nya 2000 tahun lebih yang lalu tidak lagi dilihat esensinya sebagai tindakan simbolis akan totalitas kasih Yesus kepada umat manusia, tetapi sudah berbias gender.

Dalam pandangan dan ajaran-ajarannya Gereja sebetulnya sudah sangat maju dalam soal kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Dalam hal perkawinan kesetaraan antara suami dan istri sangat ditekankan; dan kiranya Gereja paling maju dalam pandangannya dibandingkan agama yang lain. Namun dalam praksis memang masih selalu menjadi perjuangan, baik oleh kaum hawa sendiri maupun oleh pihak-pihak yang mendukung perjuangan kesetaraan perempuan dan laki-laki.

Dalam Kitab Suci sendiri, bahkan dalam Kitab Kejadian sudah tersirat pandangan akan kesetaraan laki-laki dan perempuan itu. “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja, Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” (Kej 2:18). Dalam proses penciptaan juga disebutkan bahwa Hawa diciptakan dari rusuk Adam. “Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk daripadanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.” (Kej 2:21-22). Hawa diciptakan dari ‘tulang rusuk’ Adam, bukan dari tulang kaki. Di sini kesetaraan begitu nampak.

Sejarah keselamatan umat manusia pun diperankan oleh Maria yang dengan “fiat”-nya (“Fiat mihi secundum verbum tuum: terjadilah padaku menurut perkataanmu) menentukan kehadiran Yesus. Orang pertama yang mendapat kabar suka-cita kebangkitan Yesus pun seorang perempuan, yakni Maria Magdalena, bukan salah satu dari para rasul. Nampaklah di sini bahwa Allah sendiri begitu melibatkan kaum perempuan dalam karya keselamatan-Nya.

Namun rupanya dalam sejarah kehidupan umat manusia peran kaum perempuan masih belum mendapat tempat yang ‘sepadan’. Para pejuang kesetaraan perempuan dan laki-laki (gender) masih banyak mengalami hambatan dan tekanan karena dominasi kaum laki-laki. Di lain pihak kesadaran kaum hawa sendiri akan kedudukan dan martabatnya yang setara dengan kaum laki-laki juga belum dirasakan menjadi hal yang perlu diperjuangkan. Masih banyak kaum hawa yang hanya ‘nrimo’ diperlakukan lebih rendah oleh kaum laki-laki. Perjuangan kesetaraan gender seolah hanya menjadi perjuangan segelintir orang saja.

Di tingkat Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) ada Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan (SGPP), namun hampir di tiap keuskupan sepertinya belum ada, apalagi ‘Komisi Perempuan’. Mungkin memang dianggap tidak perlu karena sudah dengan sendirinya dianggap setara.

Gerakan kesetaraan gender dan pemberdayaan kaum perempuan serasa tak pernah surut karena faktanya kekerasan terhadap perempuan (dan anak) justru makin marak. Di Kevikepan Surakarta kita kenal ada “Jejaring Mitra Perempuan” (JMP) yang mempunyai visi dan misi untuk memperjuangkan kesetaraan dan pemberdayaan kaum perempuan. Dalam kesempatan ini mungkin baik kita sedikit mengenal visi dan misi JMP Kevikepan Surakarta.

Visi   J M P

Jejaring Mitra Perempuan Kevikepan Surakarta bersama semua yang berkehendak baik seturut bimbingan Allah dan teladan Santa Catharina dari Siena bertekad mewujudkan kesetaraan, kecerdasan dan keadilan  perempuan dan laki-laki sebagai citra Allah agar semakin berdaya untuk mencapai kesejahteraan dan peduli terhadap keutuhan ciptaan.

Misi   J M P

–        Menyelenggarakan penyadaran kesetaraan perempuan dan laki-laki  bagi keluarga-keluarga dan masyarakat

–        Menyelenggarakan kegiatan untuk pengembangan dan pemberdayaan perempuan

–        Menyelenggarakan kaderisasi kepemimpinan bagi perempuan dan generasi muda secara terus-menerus dan berkesinambungan

–        Mengadakan pelatihan-pelatihan dalam bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, hukum, politik dan lingkungan hidup untuk meningkatkan sumber daya manusia

–        Melakukan pendampingan dan advokasi terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)

–        Mengembangkan jejaring dan menjalin kerjasama dengan pihak lain

JMP kini juga mempunyai PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di Wilayah Jenawi yang pelaksanaannya dikelola oleh umat Wilayah Jenawi.

Di paroki kita juga ada Tim Kerja Pemberdayaan Perempuan. Dalam semangat Paskah semoga semboyan Kartini ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ selalu memberi inspirasi dan pencerahan kepada kaum perempuan di paroki kita untuk menjadi saksi-saksi kebangkitan. Ketika kaum perempuan bangkit untuk berperan terutama dalam pendidikan iman anak, maka cita-cita ARDAS terutama di tahun iman ini mulai terwujud. Selamat Paskah, Berkah Dalem.