Jadikanlah Hati Kami Seperti Hati-Mu

hkyOleh: Frater Roberthus Hendy KiawanBekerja menjadi buruh itu bukan cita-cita. Kalau bermimpi pasti mimpi yang indah misalnya jadi dokter, tentara, pilot, rama, atau presiden sekalipun. Pengalaman menjadi buruh di industri pembuatan sepatu/sandal menyadar-kan saya tentang hat; memperhatikan, hati-hati, memberi hati, juga main hati. Selama 10 hari, saya ditempa. Panas-panas bekerja di depan oven jumbo sebesar empat kali mesin cuci. Tentu berkeringat, gerah, bahkan harus telanjang dada.

Mungkin gara-gara Pak Mandor terlalu percaya. Sejak pertama kali ditatar, saya ditempatkan di sana. Ketika ada teman yang hendak mengganti pekerjaan itu, Pak Mandor menolak. “Ngoven lem ini bukan pekerjaan main-main. Kalau lemnya ga beres bisa rusak semua,” begitu katanya. Dengan seksama pula saya masukkan perlahan-lahan bagian-bagian sepatu/sandal yang sudah di lem oleh tukang di bagian produksi. Ditata rapi. Diatur supaya panasnya merata di bagian-bagian sepatu. Kurang lebih 20 menit dipanaskan, oven dibuka. Nyoooooss… satu demi satu piranti harus dikeluarkan dari oven tanpa sarung tangan. Demikian ritual saya menjadi buruh dalam sepuluh hari.

Seperti ada danau luas di ham-paran tanah padas yang panas, seusai saya memasukkan bagian-bagian yang harus di panaskan, kira-kira 5 menit saya di beri suaka oleh mbak-mbak di bagian packing untuk bersembunyi diantara kardus-kardus. Di sana ada kipas angin, boleh minum dan mencari udara segar. Sesekali karyawati meledek karena mengira saya “anak mami” yang sebegitunya keras bekerja. Tentu saya balas juga. Lama-lama kami jadi dekat. Namun, bagaimanapun saya harus menyembunyikan identitas.

Jam makan siang selalu tepat. Genap tengah hari. Kami semua berhenti bekerja. Sudah menjadi kebiasaan, para karyawan berkumpul di suatu tempat. Tidak ada jatah khusus untuk uang makan bagi kami. Biasa para karyawan dan karyawati membawa bekal tersendiri dari rumah. Bekal apapun mereka bawa. Bahkan ada yang hanya membawa nasi putih saja. Di saat seperti itulah yang membuat saya sangat terharu. Di balik keterbatasan ekonomi, kerja keras, serta pengorbanan untuk keluarga, mereka membuka bekal, dijadikan satu, ikan dan daging disuwir-suwir, lauk-pauk dipotong kecil-kecil, sayur-sayuran dimasukkan ke dalam satu tempat

Saya baru tahu kalau makanan jenis itu dinamakan oblok-oblok. Bukan seperti oblok-oblok dari daun singkong yang saya kenal sejak kecil tapi oplosan dari berbagai macam jenis makanan. Kami makan siang bersama dan canda dan kebahagiaan.

Pengalaman ini sangat unik. Dari sana saya mengenal bagaimana menyatukan hati melalui kesamaan rasa. Masing-masing pribadi mencoba membuka bekal. Apapun bekalnya tidak jadi soal. Tanpa rasan-rasan besar kecil, atau enak tidaknya urunan bekal. Semua merasa nyaman. Makan seadanya. Yang menjadi penting adalah duduk dalam kebersamaan, saling berkelakar, bercerita segala macam hal. Hal itu cukup menjadi pemulih dan kembali menumbuhkan semangat untuk bekerja.

Sayur “oblok-oblok” dari pabrik sepatu itu bagi saya juga menjadi gambaran Hati Kudus Yesus. Seringkali Hati Kudus Yesus digambarkan dengan sebuah hati yang merah merona, terlilit mahkota duri, dan berdarah. Memba-yangkan gambar hati itu rasanya miris. Namun, wajah Tuhan Yesus terpancar sangat teduh. Walau hatinya terluka, kebersahajaan Tuhan Yesus menam-pakkan aura penuh kerelaan menang-gung luka dengan api semangat yang terus membara.

Dalam sayur oblok-oblok itu ada solidaritas. Sekat demi sekat terdobrak. Ada semangat untuk berbagi dan membagi-bagi diri. Merelakan sedikit kesenangan pribadi untuk makan lauk sendiri yang lebih enak. Menyangkal kedagingan dan sikap keakuan. Saya belajar untuk semakin bersahaja menanggapi situasi-situasi sulit. Dalam keadaan terjepit, ketahanan dan belajar menyikapi setiap masalah dengan sederhana dan santai. Kadang kala, yang membuat runyam sebuah masalah dalam diri hati yang kurang tenang dan diri yang mencoba menolak keadaan.

Dalam setiap kondisi yang menjepit, kadang manusia malah cenderung menarik diri. Mencoba untuk memecahkan setiap masalah sendiri. Menjadi sedikit tertutup. Mengisolasi dan bahkan bersarang di tempat yang sekiranya membuat tenang. Memang, kadang kala pemecah suatu masalah terjadi saat tenang. Namun, sering kali yang terjadi saat mencoba mencari ketenangan itu, diri kita menjadi sangat gusar. Suasana sayur “oblok-oblok” di pabrik sepatu itu, menjadikan saya semakin meyakini indahnya saling berbagi hati. Menyatu-kan rasa dengan nyaman dalam satu keadaan penuh cinta. Duduk bersama, bercengkrama, dan menikmati hidup seadanya. Tuhan Yesus, ajarilah hati kami seperti hati-Mu. Amin.