Maria Bunda Allah & Bunda Gereja

mariaOleh: Sr.M.Bernardin SFS – Pembaca yang budiman, pada bulan Mei ini, kita mempunyai tradisi iman Katolik yaitu menghormati Bunda Maria dan mengkhususkan satu bulan ini sebagai bulan Maria. Dengan berbekal tema permenungan: “Maria Sebagai Bunda Allah”, kita diajak untuk mendalami misteri Ke-Allahan Kristus yang bangkit serta peranan Bunda-Nya yang juga adalah Bunda Gereja. Dalam Dokumen Konsili Vatikan II,  terdapat Konstitusi dogmatis tentang Gereja (Lumen Gentium) yang menjelaskan dengan cermat tentang peran Santa Perawan Maria dalam misteri Sabda yang menjelma serta Tubuh mistik-Nya, maupun tugas-kewajiban mereka yang sudah ditebus oleh Kristus terhadap Bunda Allah, Bunda Kristus dan Bunda orang-orang yang beriman. Sebab perawan Maria yang sesudah menerima warta malaikat berupa Sabda Allah dalam hati maupun tubuhnya dan serta memberikan hidup kepada dunia, diakui dan dihormati sebagai Bunda Allah. Ketika Allah yang Maha baik dan Maha bijaksana hendak melaksanakan penebusan dunia, setelah genap waktunya, Ia mengutus Putera-Nya, yang lahir dari seorang wanita …. supaya kita diterima menjadi anak (bdk. Gal 4: 4-5).

Adapun persatuan Bunda dengan Puteranya dalam karya penyelamatan itu terungkap sejak saat Kristus dikandung oleh Perawan Maria hingga wafat-Nya. Pertama-tama, ketika Maria berangkat dan bergegas-gegas mengunjungi Elisabet, dan diberi ucapan salam bahagia olehnya karena Maria beriman akan keselamatan yang dijanjikan. Kemudian pada kelahiran Yesus yang menunjukkan kegembiraan Bunda Maria kepada para gembala dan para Majus. Pada waktu ia mempersembahkan Yesus kepada Tuhan di Kenisah, ia mendengarkan pernyataan Simeon tentang Puteranya. Ketika ia bersama Yusup, dengan sedih hati mencari Yesus yang hilang dan menemukan-Nya kembali di Bait Allah. Dalam hidup Yesus di muka umum tampillah Bunda-Nya dengan penuh makna, pada permulaan, ketika pada pesta pernikahan di Kana ia tergerak hatinya oleh belas kasihan, dan dengan perantaraannya mendorong Yesus untuk mengerjakan tanda-Nya yang pertama (lih. Yoh 2:1-11).

Dengan setia, Maria mempertahankan persatuan dengan Puteranya hingga di salib. Ketika ia sesuai dengan rencana Allah, berdiri di dekat salib-Nya (lih. Yoh 19: 25),  di situlah ia menanggung penderitaan yang dasyat bersama dengan Puteranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya ia menggabungkan diri dengan korban-Nya, dan penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya. Akhirnya oleh Yesus, menjelang wafat-Nya di kayu salib, ia dikurniakan kepada murid yang terkasih menjadi Bunda murid tersebut dengan kata-kata:”Ibu, inilah anakmu!” (Yoh 19: 26).

Peran Bunda Maria tidak berhenti di sini. Sebelum hari Pentakosta Maria Bunda Yesus bersama beberapa wanita, para rasul, dan serta saudara-saudara-Nya bertekun sehati sejiwa dalam doa.  (lih. Kis 1: 14). Bunda Maria dengan doa-doanya memohon kurnia Roh, yang pada saat warta gembira dulu sudah menaunginya. Karena kurnia serta keibuan-Nya yang ilahi yang menyatukannya dengan Puteranya, Sang Penebus, dan karena segala rahmat serta tugas-tugasnya, Santa Maria menjadi erat hubungannya dengan Gereja. Maria Bunda Allah menjadi pola Gereja, yakni dalam hal iman, cinta kasih dan persatuan sempurna dengan Kristus. Santa Perawan Maria mempunyai tempat utama dan terlebih secara istimewa memberi teladan sebagai seorang perawan maupun seorang ibu. Sebab dalam iman dan ketaatannya, ia melahirkan Putera Bapa sendiri di dunia, dan itu tanpa mengenal pria. Dalam naungan Roh Kudus sebagai Hawa yang baru, bukan karena mempercayai ular, melainkan karena percaya akan utusan Allah, dan dengan iman yang tak tercemar oleh kebimbangan, Maria telah melahirkan Putera, yang oleh Allah dijadikan yang anak sulung di antara banyak saudara (bdk. Rom 8: 29), yakni umat beriman.

Gereja sendiri merenungkan kesucian Santa Perawan Maria yang penuh rahasia serta meneladan cinta kasihnya, dengan melaksanakan kehendak Bapa dengan patuh, dengan menerima sabda Allah, dan dengan setia pula menjadi ibu. Sebab melalui pewartaan dan baptis, Gereja melahirkan bagi hidup baru yang kekal putera-putera yang dikandungnya dari Roh Kudus dan lahir dari Allah. Dan sambil mencontoh Bunda Tuhannya, Gereja dengan kekuatan Roh Kudus mempertahankan keutuhan imannya, keteguhan harapannya, dan ketulusan cinta kasihnya.

Kebaktian kepada Santa Perawan Maria Bunda Allah selalu dijalankan oleh Gereja, namun secara hakiki berbeda dengan sembah bakti yang dipersembahkan kepada Sang Sabda yang menjelma juga kepada Bapa dan Roh Kudus. Konsili suci mendorong semua putera Gereja, supaya mereka dengan rela hati mendukung kebaktian kepada Santa Perawan Maria, terutama yang bersifat liturgis. Bakti itu bersumber pada iman yang sejati, yang mengajak kita untuk mengakui keunggulan Bunda Allah, dan mendorong kita untuk sebagai putera-puteranya mencitai Bunda kita dan meneladan keutamaan-keutamaannya.

Bulan Mei juga merupakan Bulan Katakese Liturgi (BKL) maka kita diharapkan supaya selama bulan Mei ini liturgi mendapat perhatian khusus: didalami, dirancang, disiapkan, dan dilaksanakan dengan lebih baik. Oleh karena itu, kesempatan yang istimewa ini kita dapat memberi perhatian pula pada liturgi sembah bakti kepada Bunda Maria sebagai Bunda Allah yang juga Bunda Gereja. Marilah kita, umat beriman yang telah diserahkan Yesus kepada Bunda-Nya secara terus-menerus dalam hidup kita meneladan keutamaan-keutamaannya seraya memohon doa-doanya agar kita pun kelak dipersatukan dengan Kristus Puteranya.