Novena Ngrawoh Putaran Ke-3: “Wungu Dalem Sang Kristus Adamel Bingahing Manah lan Semangat Martosaken Injil”

Ngrawoh (LENTERA) – Perayaan Ekaristi Novena ketiga Ngrawoh dilaksanakan di Taman Doa St. Maria Fatima Ngrawoh, Kamis, (04/04)  . Novena ke-tiga ini dipimpin oleh Romo Robertus Hardiyanta, Pr, Romo Paroki Sragen. Antusias kedatangan pencinta Novena masih luar biasa, walaupun sedikit mengalami penurunan jumlah umat. Mungkin, karena keadaan cuaca yang tidak mendukung. Pertugas koor dari Symphoni Gratia dan liturgi dari Wilayah Gondang yang menambah kekhusukan Novena dan Perayaan Ekaristi tersebut.

Bacaan Injil dalam Ekaristi ini diambil dari Injil Yohanes (Yoh 21:1-14) yang menceritakan kisah ketika Petrus dan beberapa kembali ke pekerjaan awal mereka yaitu sebagai nelayan. Petrus dan kawan-kawan semalam-malaman berusaha menangkap ikan, tetapi hasilnya nihil. Ketika pagi hari ada seseorang di pantai yang menyapa mereka: “Apa kalian punya lauk?” Dan dijawab bahwa mereka tak dapat hasil apa-apa. Lalu orang itu meminta Petrus menebarkan jala ke sebelah kanan perahu dan ternyata didapat banyak ikan yang besar-besar hingga 153 ekor dan bahkan jala mereka hampir koyak. Ketika seorang murid yang dikasihi oleh Kristus mengatakan “itu Tuhan,” Petrus datang untuk menemui Yesus, kemudian diikuti oleh murid-murid yang lain. Para murid tidak ada yang berani bertanya: “Siapakah Engkau” karena mereka tahu bahwa yang ditemui itu adalah Yesus.

Dalam homilinya, Romo Hardi berbicara soal ikan. Romo Hardi membuka homilinya dengan menggunakan perumpamaan tentang jenis-jenis ikan. “Pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu disebut dengan PAUS yang adalah ikan terbesar yang hidup di lautan. Kalau para misdinar itu barangkali bisa disebut dengan cethul (red. larva katak), dan para aktivis gereja itu ya  ikan wader atau lele dan kalau Romo Paroki sendiri mungkin disebut dengan ‘nila’ atau ‘tombro,” Kata Romo Hardi memberi perumpamaan dengan diiringi gelak tawa umat yang hadir.

Romo Hardi juga menjelaskan makna  simbol ikan. Biasanya simbol ikan itu banyak terdapat di Katakombe atau kuburan yang ada di bawah kota Roma, Italia. Di Katakombe tersebut, banyak tulang-belulang para pengikut Kristus yang bersembunyi hingga akhir hayatnya. Dan di dinding-dinding terdapat gambar atau pahatan sederhana berupa dua garis lengkung melumah dan mengkureb yang menyatu membentuk gambaran serupa ikan. Perlu diketahui bahwa simbol ikan ini digunakan lebih dahulu oleh orang Katolik sebelum menggunakan simbol salib seperti sekarang. Dalam bahasa Yunani, ikan adalah ICTUS yang adalah suatu singkatan Iesus Cristos Uieos Soter: Yesus Kristus Sang Penyelamat. Inilah hubungan Kristianitas dengan ikan.

Sebagai kesimpulan dari homilinya, Romo Hardi mengatakan bahwa bahwa ikan punya kelebihan sebagai makhluk yang tetap bertahan hidup dalam berbagai kondisi dan selalu lincah dalam gerak. Ikan hidup berkelompok dan punya solidaritas dengan teman-teman serombongan, dan juga kaya vitamin dan enak, gurih, bikin sehat jika dimakan. Ini menjadi sumber inspirasi bagi kehidupan umat Katolik yang harus dapat hidup dalam kondisi apapun, lincah dalam gerak pelayanan, hidup dalam paguyuban dan punya solidaritas yang tinggi, juga menjadi vitamin bagi hidup bermasyarakat.  (atmadi)