Novena Ngrawoh Putaran Ke-4 :” Ibu Maria Tuladhaning Gesang Kanthi Iman”

Ngrawoh (LENTERA) –  Perayaan Ekaristi Novena Keempat-Putaran Ketiga Ngrawoh di laksanakan Kamis ( 09/05) di Taman Doa St.Maria Fatima Ngrawoh. Novena ke-empat ini dipimpin oleh Romo tamu dari Paroki St. Yosef Ngawi yaitu  Romo Yohanes Agus Sulistyo, Pr. Sebelum Ekaristi dimulai, diawali dengan doa Rosario yang dipandu oleh umat Wilayah Lukas Tanon sebagai petugas Liturgi. Cuaca yang cerah sangat mendukung antusias kedatangan umat ( ± 800 orang ) untuk mengikuti dan terlibat dalam Ekaristi Novena keempat ini, apalagi romonya adalah Romo tamu beserta kelompok koor dari Stasi Lukas Jatimulyo Paroki Ngawi dan rombongan umat dari beberapa lingkungan dari Ngrambe , Sine dan sekitarnya dengan Bahasa Jawa lengkap dengan Pengrawit sehingga membuat lebih khusuknya Ekaristi Novena IV tersebut.

Bacaan Injil dalam Ekaristi ini diambil dari Injil Yohanes ( Yoh. 16, 20-23a) :  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu. Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku.

Dalam homilinya, Romo Yohanes Agus Sulistyo, Pr.  membuka homilinya dengan pertanyaan sederhana : ” Kene apa ya lagi usum pilihan lurah ?”( Apakah disini juga musimnya pilihan Kepala Desa), pertanyaan ini untuk menggambarkan isi dari Injil diatas  bahwa duka cita akan berubah menjadi sukacita asalkan segala sesuatu yang kita lakukan didasarkan atas iman dan kasih sayang. Dengan gaya lawakan rohaninya ala mubalek gaya Sragen, Romo Agus juga menggambarkan bahwa : ” Apa yang terjadi jika seorang ibu yang hamil mengatakan bahwa anakku jangan lahir jika kelahiranmu hanya akan membuat kesakitan ibumu?”, ibu ini akan mengalami dukacita (kesakitan/derita) sewaktu hamil hingga melahirkan, tetapi ia akan sangan bahagia ketika anaknya lahir dengan sehat dan selamat. Hal ini tidak akan kita alami apabila cinta kasih yang kita berikan tidak berdasar/berakar pada dasar cinta kasih yaitu demi kesejahteraan bersama. Dalam bahasa jawa ” Tresna kudu gelem lara lapa ” , itulah teladan Bunda Maria dalam hidupnya yang penuh dengan cinta kasih walaupun harus menanggung derita atau duka cita. Bunda Maria mampu mengalahkan segala derita yang ia alami karena bunda Maria punya dasar yang kuat yaitu ” Iman ”

Bunda Maria hidup penuh dengan iman, iman sebagai terang dalam hidupnya itulah keteladanan  yang diberikan kepada kita. Dalam hidup kita memerlukan terang ( pepadhang ) agar dapat sampai pada tujuan dengan selamat. Romo Agus dalam homilinya juga menggambarkan bahwa kita hidup tanpa iman ibarat mobil berjalan tanpa lampu. Dalam hidup kita ada dua hal yang yang sangat kita perlukan sebagai bekal (sangu dalam bahasa jawanya) yaitu Iman dan hidup dalam terang. Iman lebih mantap dan mendalam daripada percaya karena Iman tidak tampak tetapi kepercayaan hanya pada hal-hal yang tampak saja. Hidup artinya tidak mati ,tidak hanya hidup sekarang ( di dunia ) tetapi juaga hidup yang kekal ( tidak ada umur ) yaitu didalam Kerajaan Allah, makanya dalam kehidupan kita ada pepatah jawa yang mengatakan : “Urip neng donya mung sadela aja mingar-minger mengko mundak keblinger”. Bukti hidup yang berdasarkan iman adalah hidup yang penuh kasih sayang, saling mengasihi lebih-lebih mengasihi pada musuh-musuh kita.

Dalam akhir homilinya Romo Agus  mengambarkan bahwa hidup dalam terang itu ibaratnya anak sekolah dengan : Kurikulum : Kerajaan Allah, Mata Pelajaran : Cinta Kasih, PR: Mengampuni, Ujian : Mengampuni yang bersalah pada kita. ( Wil. Lukas Tanon )