Pengusaha Muda Terlibat dalam Hidup Menggereja

999482_10200568616150115_1926922604_nOleh Robertus Hardiyanta, PrPada dasarnya, iman itu mencakup tiga hal, yakni: 1) pengetahuan atau pemahaman tentang hal-hal pokok yang diimani; 2) penghayatan: bagaimana relasi dengan Allah menjadi hidup dalam ritme hidup sehari-hari dan 3) perwujudan iman: bagaimana iman mendorong atau memotivasi seseorang untuk berbuat atau bertindak dan bertingkah-laku. Melalui tulisan singkat ini, saya tidak ingin membahas ketiganya secara detail, tetapi hanya ingin mengajak pembaca Lentera untuk melihat lebih jauh tentang keterlibatan seseorang dalam hidup menggereja (dan juga memasyarakat) sebagai bentuk atau perwujudan iman

Yang jelas, antara pengetahuan, penghayatan, dan perwujudan iman, ketiganya tidak dapat dipisahkan. Perwujudan iman dalam bentuk keterlibatan dan kepedulian, baik dalam hidup menggereja maupun memasyarakat, adalah buah dari iman yang hidup, yang dihayati dalam relasi dengan Allah melalui pengalaman mistik yang dalam dan didasari oleh pengetahuan iman yang benar agar pengalaman mistik itu tidak menjadi “klenik”. Maka kalau hanya sedikit orang terlibat dalam kehidupan bersama (berpaguyuban), jangan-jangan pengetahuan dan penghayatan imannya perlu ditingkatkan, selain juga perlu dikaji apakah “iklim” dalam hidup bersama itu cukup kondusif untuk memungkinkan orang di dalamnya mau terlibat. Seringkali dalam hidup bersama itu, ada suasana atau iklim yang tidak membuat nyaman kalau orang mau terlibat, sehingga lebih baik orang menarik diri daripada menjadi bahan pergunjingan, walaupun niatnya sungguh-sungguh tulus.

Sebetulnya kita tidak perlu berbicara “ngaya wara” tentang bagaimana pengusaha muda perlu terlibat dalam kehidupan menggereja maupun memasyarakat. Keusukupan Agung Semarang mengajak kita untuk berpastoral berdasarkan data – hanya patut disayangkan bahwa tindak lanjut dari pengolahan data paroki kita hingga kini tidak jelas sampai di mana. Dari data yang ada, kita bisa mengetahui adanya data berapa orang di paroki kita ini yang tergolong sebagai pengusaha muda dan juga jenis usahanya. Mereka itu bisa diundang dan dikumpulkan bila memungkinkan untuk diajak bicara tentang keprihatinan hidup menggereja dan memasyarakat kita. Tentu saja dari sudut pandang mereka sebagai usahawan.

Menurut hemat saya yang paling relevan adalah membahas dampak kenaikan harga bahan bakar minyak terhadap harga-harga kebutuhan pokok dan biaya hidup yang makin tinggi dan mungkin tak tertanggung-kan. Hidup menjadi semakin sulit bila orang tidak menjadi kreatif dalam menata ekonomi keluarga dan memperoleh “income” ekstra untuk menopang kehidupan ekonomi keluarga. Itulah bidang yang menjadi kompetensi para usahawan (muda).

Enterpreneurship adalah istilah yang pada akhir-akhir ini menjadi populer untuk mengatasi kesulitan hidup ekonomi yang makin carut-marut di negeri kita ini. Peluang usaha macam apa yang paling memungkin-kan untuk dapat dilakukan, bagaimana memperoleh modal, bagaimana manajemen atau pengelolaannya? Bila wirausaha itu di bidang produk suatu barang atau makanan ke mana dan bagaimana memasarkannya, dengan siapa harus menjalin jejaring? Bila usaha itu di bidang jasa bagaimana kiat-kiatnya untuk mendapatkan pelanggan sebanyak mungkin, bagaimana memelihara relasi dengan para pelanggan? Terus terang ini kan bukan bidangnya Rama sebagai rohaniwan. Para usahawan jauh lebih berpe-ngalaman dalam hal ini.

Tulisan ini tidak lebih hanya sekedar membuka wawasan para pembaca melainkan juga dalam perwujudannya mestinya menjadi kompetensi Tim Kerja Dewan Paroki, terutama yang berkaitan dengan pengembangan sosial-ekonomi. Itulah salah satu tugas dari Tim Kerja dalam Dewan Paroki: memikirkan, meren-canakan program kerja, melaksanakan dan mengevaluasi apa yang sekiranya perlu untuk diprogramkan. Apabila kita mengharapkan keterlibatan para usahawan (muda), tim kerja dalam Dewan Paroki bisa jemput bola. Bila dalam RAPB yang dicanangkan pada awal tahun tidak tercantum program kerja itu, kita perlu melihat kembali apakah perlu diadakan revisi program kerja kalau memang ada hal yang lebih mendesak dan relevan untuk diprogramkan.

Salah satu butir Arah Dasar KAS 2011-2016 adalah “optimalisasi peran kaum awam”.  Gereja  juga bukan hanya berkutat dalam kegiatan ‘seputar altar’, tetapi bagaimana kegiatan di ‘seputar altar’ itu mendorong atau memotivasi orang untuk ‘pergi ke pasar’  ARDAS ini sudah memasuki tahun ketiga dan kalau hidup umat, Dewan Paroki tidak proaktif, segala sesuatu bergantung pada Rama, Gereja kita tidak akan signifikan dan relevan.***