Pertemuan III Komisi Keluarga KWI dengan Komunitas Pemerhati Keluarga: “Menyikapi Gadget Masuk Ke Rumah Kita”

Bogor  (LENTERA) – Komisi Keluarga Konferensi Wali Gereja Indonesia  (KWI) mengadakan pertemuan di Cipayung Bogor Pada tanggal 6-8 Juni. Pertemuan ini mengangkat tema: “Menyikapi Gadget masuk ke rumah kita.” Hadir sebagai peserta dalam pertemuan itu sejumlah 166 orang yaitu wakil Keuskupan, Couple For Christ, Paguyuban St. Monica, Komisi keluarga KWI. Romo Agustinus Alfons Duka, SVD Alfons mengatakan tiga hal yaitu 1) fenomena  media digital, 2) Konteks Media digital, 3) Arahan Pastoral gereja universal tentang media digital.

Romo Alfon mengatakan bahwa era digital berarti kembali menggunakan jari yang merupakan evolusi Darwin masa kini. Era digital yaitu berarti beralih dari analog ke digital, dimana seperti jam analog waktu berputar secara perlahan, berbeda dengan waktu digital yang berubah dengan cepat. Karakter Media Digital yaitu kita diarahkan setiap hari oleh media untuk membicarakan hal tertentu sesuai agenda. Misionaris  diera digital, buka sekedar bagaimana menggunakan internet sebagai sarana alat pewartaan kabar gembira (evangelisasi) tetapi terutama bagaimana mewartakan kabar gembira dalam konteks  dimana manusia mengungkap pengalaman dan kehidupannya, juga dalam ruang digital (bukan hanya sekedar menggunakan SMS untuk menyampaikan ayat-ayat injil).

Terdapat kesenjangan media  digital adalah alat bantu untuk connecting people, connecting humanity. Tetapi jika disconnecting maka media tidak berarti. “Jadikanlah tubuhmu, menjadi bait Roh Kudus bukan basis marketing digital. Yesus marah ketika bait allah dijadikan marketing, maka bisa saja Dia tubuh kita yang adalah bait Allah dijadikan marketing,” kata Romo Alfons menyampaikan.

Kesimpulan dari pertemuan itu yaitu  pengaruh media massa di dalam keluarga akan mendekatkan atau justru menjauhkan. Kegagalan dalam komunikasi akan menim-bulkan banyak masalah, dalam keluarga bapak, ibu, anak harus saling terbuka.

Pendidikan iman Evangelisasi bertujuan mem-bangun situasi dan kondisi dalam keluarga. Keluarga menjadi evangelisasi baru yang aktif dan kreatif melalui pengalaman hidup sehari-hari.

Perlu ditumbuh kembangkan nilai-nilai Kristiani dan ajaran gereja katolik dalam keluarga. Komunitas gereja diharapkan semakin berperan dalam pembinaan iman keluarga. Jadi secanggih apapun media digital tidak dapat menggantikan komunikasi manusia. Acara tersebut ditutup pada hari sabtu dengan misa kudus yang dipimpin oleh Mgr. Frans Kopong Kung. (Moko)