Rancangan Tuhan di dalam Paskah

paskahOleh : Ibu Ateng – Seorang anak mengamati ibunya yang sedang membuat kruistik; lukisan dari benang wol yang dirajut menyilang kecil-kecil. Dari bawah tampak kusut tidak berbentuk. Benang merah, hitam, putih, biru berseliweran tidak jelas.

“ibu sedang membuat apa sih?” tanya si anak heran. “ini namanya kruistik. Ibu selesaikan dulu ya, nanti kamu liat sendiri hasilnya.” Sang ibu melanjutkan pekerjaannya. Setelah selesai sang ibu meletakan kruistik itu di atas meja lalu memangku anaknya.”

“Lihat, bagaimana hasilnya?” kata sang ibu.

“Wah, bagus sekali,”seru anak itu. Dari atas, ia melihat sebuah lukisan indah dari benang wol berwarna-warni yang tersusun rapi. Sangat berbeda dengan ketika ia melihatnya dari bawah.

Begitulah juga hidup kita. Dari sudut pandang kita, hidup ini mungkin kelihatan kusut masai. Rupa-rupa kesulitan menghadang, dan penderitaan terus mendera. Seperti kruistik yang terlihat dari bawah ; benang-benang wol berseliweran tidak beraturan. Kita tidak tahu yang ini untuk apa, yang itu kenapa ada disitu.

Akan tetapi, sesungguhnya Tuhan sedang merancang sesuatu yang baik ; sebuah lukisan yang indah. ”RancanganKu,”demikian firman Tuhan,”adalah rancangan damai sejahtera. Bukan rancangan kecelakaan. Untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”(Yeremia 29:11).

Barangkali, hidup sekarang tampaknya kusut masai ; berat dan sumpek rasanya. Namun, sabarlah jalani kehidupan dengan tetap berpengharapan. Tuhan tidak tinggal diam. Pada saatnya nanti, cepat atau lambat, Dia akan menjadikan semuanya itu indah (Pengkhotbah 3:11a).

Akan tetapi, kalau rancangan Tuhan itu baik adanya, lalu kenapa hidup kita tidak selalu mulus? Jalan yang kita lalui tidak selalu berujung keberhasilan ; malah tidak jarang kita mengalami benturan?

Ada dua kemungkinan.

Pertama, mungkin memang kesalahan kita sendiri. Kita tidak cukup sadar dengan kesulitan dan tekanan hidup yang ada, lalu kita mengambil jalan pintas; mencari jalan aman dan gampang. Bahkan sampai harus mengorbankan iman kita. Atau kita tergiur dengan kilau kesenangan dan kenikmatan jasmani, lalu kita menanggalkan kebenaran yang kita yakini selama ini.

Kita ibarat seorang pemain film yang tidak mau mengikuti scenario yang sudah digariskan oleh sutradara ; suka suka sendiri, menuruti kehendak diri sendiri, mengikuti jalan sendiri. Maka kalau kemudian peran kita berantakan, ya salah sendiri. Jangan salahkan sutradara.
Lalu, apa kita tidak boleh berusaha ; nrimo saja didera rupa-rupa kesulitan dan tekanan? Bukan begitu. Berusaha tentunya perlu dan harus. Namun, baiklah kita sadari segala usaha kita dengan iman kepada Tuhan. Jadi, kalau kita menderita ; menderitalah sebagai orang beriman. Kalau kita menghadapi tantangan dan godaan, hadapilah sebagai orang beriman.

Kedua, mungkin “ceritanya” memang belum selesai. Apa yang kita anggap sebagai ujung, bisa jadi bukan ujung yang sebenarnya ; artinya, masih ada “jalan” atau “cerita” sambungnya. Jadio, apa yang kita rasakan sebagai kepahitan atau kepedihan, bisa jadi kemudian justru membawa keindahan ; seperti pelangi yang muncul setelah hujan turun di siang hari.

Hidup kita laksana sebuah film. Saat ini kita,”sang lakon,” mungkin saja tengah berkubang dalam duka dan nestapa. Namun tunggu, itu belum berakhir. Nanti diujung cerita, Tuhan,” Sang Sutradara,”sudah merancang sesuatu yang indah. Maka tetaplah berjalan dengan peran kita, panggilan dan “mission” kita. Jangan memaksa untuk membuat bskenario atau “jalan cerita” sendiri.

Kata kunci renungan ini : bila musibah menimpa, janganlah kita berputus asa ; siapa tahu itu membawa keberuntungan. Sebaliknya, bila kemujuran menghampiri, janganlah kita lupa diri ; siapa tahu ujungnya malah bencana. Yang terpenting, dalam suka atau duka ingatlah selalu akan Tuhan. Dia yang sudah di Salib untuk kita. Dia juga sudah Bangkit untuk kita. Selamat Paskah, Happy Easter.***