Rekoleksi Iman

Paroki  Sragen  (LENTERA) – Tim Kerja Pendamping Iman Umat (PIU) Paroki St. Perawan Maria De Fatima Sragen bekerja sama dengan Panitia Ad Hoc Paskah, Minggu(17/3) menggelar rekoleksi iman di aula SMP Xaverius Sragen.

Di bawah naungan Dewan Paroki Bidang II, Ketua Tim Kerja PIU, FX. Kusunartuti menggalang seluruh umat di empat puluh delapan lingkungan separoki Sragen berhasil menjaring sebanyak 139 personal. Semula terdaftar 142 personal, namun karena suatu hal ada 3 personal tersebut mengundurkan diri. Menurut Ketua Bidang II, P. Widodo, kegiatan rekoleksi iman ini merupakan salah satu dari berbagai rangkain kegiatan di masa Prapaskah tahun 2013. Merupakam momentum tepat di saat masa prapaskah untuk menengok kembali hati masing-masing umat Katolik.

Semangat pengampunan perlu dikembangkan, dengan mengampuni siapa pun termasuk orang yang telah menyakiti hati, seperti yang telah disampaikan Romo Josh Kokoh saat memberikan pengolahan. Di depan ratusan umat Romo Jost mengisahkan betapa besar kasih Paus Yohanes Paulus II kepada semua orang termasuk seseorang yang mencoba ingin membunuhnya, adalah Muhammed yang mencoba menembak Bapa Paus, namun gagal meski harus menyandang cidera berat dari bekas tembakannya. Bapa Paus masih berupaya menemui Muhammed yang telah menembaknya, di penjara tempat Muhammed menjalani hukuman, dan memberi semangat untuk hidup.

Bapa Paus adalah Sang Teladan hidup, di mana beliau tak mempunyai sedikitpun rasa dendam terhadap orang yang memusuhinya. Alasan mempunyai semangat pengampunan menurut romo Josh : dengan mengampuni kita akan mendapat pengampunan menjadi anak-anak Bapa kita. Hal tersebut menurut Romo Josh Kokoh, adalah upaya belajar menjadi orang berbesar hati seturut ajaran Yesus, “ Sesungguhnya hari ini juga engkau ada bersama-Ku di dalam firdaus, “ demikian kata romo Josh menirukan dialog Jesus dengan penjahat yang disalib di sebelahkanan-Nya.

Ini menjadi teladan bagi semua umat Katolik untuk mengasihi semua orang yang pernah berbuat salah, seperti kurang aktif ke gereja, anak yang hamil sebelum menikah, dsb.

Romo Jost mengajak kepada seluruh kita peserta untuk belajar berpeduli, mulai dari lingkungan paling kecil yaitu keluarga. Mulailah dari yang ada, bagikanlah sepenuh cinta dan biarlah Tuhan yang akan menyempurnakannya. (FX. Kusunartuti)