Sosialisasi Pemilih Pemula: Gereja Tak Lepas dari Kepentingan Negara

Paroki Sragen (LENTERA) – Tim Kerja Mitra Perempuan Paroki St. Perawan Maria Di Fatima Sragen menggelar acara sosialisasi pemilih pemula sebagai salah satu langkah positif menuju perubahan bangsa, di ruang aula Sekolah Menengah Pertama Saverius Sragen, Minggu (12/5). Ketua Tim Kerja Mitra Perempuan, Cornelia Dwi Lestari , bekerja sama dengan Komisi Pemilihan Umum ( KPU ) Kabupaten Sragen mengatakan bahwa acara ini merupakan realisasi program kerjanya.

Sasaran utama kegiatan ini adalah kaum muda yang pada Pilkada Jawa Tengah, 26 Mei mendatang sudah berhak menggunakan hak suaranya, dengan kriteria  beruia 17 tahun (atau lebih) dan atau sudah /pernah menikah. Jumlah undangan yang hadir dalam acara sosialisasi tersebut berjumlah 106 orang, antara lain terdiri dari kaum muda, ketua-ketua wilayah, ketua-ketua  lingkungan, dan orang tua yang mem-punyai anak usia pemilih pemula.

Gereja Katolik sadar betul bahwa dirinya bagian dari masyarakat Sragen dan tak lepas dari keikutsertaannya dalam berpartisipasi aktif terhadap jalannya Pemilu Kepala Daerah Jawa Tengah yang akan dilaksanakan Minggu (26/5) mendatang. Romo Robertus Hardiyanta Pr mengatakan bahwa  umat Katolik Paroki Sragen, terutama kaum mudanya (terutama kepada Pemilih pemula) menjadi pemilih cerdas dalam menggunakan hak suaranya dan jangan  golongan putih (golput)Pemilihan Umum Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengan (Pilgub Jateng) 2013 ini adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat Propinsi Jawa Tengah untuk memilih Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengan periode 2012-2018.Pilgub Jateng ini diselenggarakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945.

Penyampai materi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sragen, Ngatmin Abbas, S.Ag, M.Ag, menekankan begitu pentingnya pemilih pemula (siswa SMA /SMK ) untuk berpartisipasi dalam pemilu. Partisipasi pemilih pemula tersebut dalam aspek pembelajaran cukup strategis terutama aspek koknitif dan afektif terhadap pendidikan politik. Aspek koknitif dan afektif itu muncul dengan menjabarkan arti pentingnya kehadiran seorang pemimpin dalam suatu wilayah (Gubernur) yang mendapatkan dukungan suara dari para pemilih di wilayah tersebut. Dengan menyalurkan hak suaranya tersebut, pemilih pemula turut berpartisipasi menentukan seseorang yang akan mendapat mandat atau amanah untuk menjadi pemimpin wilayah dalam periode tertentu. Dengan demikian, pemilih pemula sadar bahwa suaranya sangat penting dan berharga demi kemajuan bangsa. (Andre AS)