“TTM – Tribute To Mary, Tribute To Mass”: (Sebuah Pertautan Maria dan Ekaristi)

Oleh: Jost Kokoh Prihatanto Pr

MRI“Totus tuus ego sum et omnia mea Tua sunt.

Accipio Te in me omnia.

Praebe mihi cor Tuum, Maria”

“Aku adalah milikmu

dan segala milikku adalah milikmu.

Engkau kuterima dalam diriku seluruhnya.

Berikan aku hatimu, ya Maria.”

“De maria numquam satisbicara tentang Maria, tak ada habisnya!” Begitulah, aneka-ria wajah Maria digambar-kenangkan dalam pelbagai sequel film, al: Linda Darnell, The Song of Bernadette, 1943; Angela Clarke, The Miracle of Our Lady of Fatima, 1951; Siobhán McKenna, King of Kings, 1961; Olivia Hussey, Jesus of Nazareth, 1977; Verna Bloom, The Last Temptation of Christ, 1988; Maia Morgenstern, The Passion of the Christ, 2004; Keisha Castle-Hughes, The Nativity Story, 2006, dsbnya. Bahkan, seorang William Shakespeare juga memiliki apresiasi kuat terhadap “Maria”. Drama Romeo and Juliet, bagian ke-1, babak ke-5, berisi sebuah dialog, disusun formal dalam bentuk soneta, menggunakan peziarahan ke goa Maria untuk mengungkapkan usaha Romeo merayu Juliet atau juga babak terakhir dari The Winter’s Tale berisi pelbagai instruksi Paulina, yang menempatkan Perdita dalam posisi meminta pada patung Hermione agar mendoakannya, bukankah hal ini mirip dengan para peziarah yang gandrung berdoa di depan patung Maria?

Mengacu pada ensiklik Ecclesia de Eucharistia, Maria jelas terkait-paut dengan Ekaristi dan Gereja mengajak “merenungkan wajah Kristus bersama Maria” serta menganjurkan adanya permenungan wajah Kristus melalui ‘sekolah’ Maria. Ensiklik Ecclesia de Eucharistia (“EE”) sendiri adalah ensiklik terakhir dari Paus Yohanes Paulus II, yang ditempatkan dalam keseluruhan ajaran Gereja mengenai Ekaristi, khususnya dari Konsili Vatikan II. Bagi saya sendiri, Gereja hidup dari Ekaristi tentu saja bukan pertama-tama karena ritus-upacaranya, tetapi terutama karena apa yang dirayakan dalam ritus itu, yakni misteri penebusan Kristus melalui peristiwa sengsara, wafat dan kebangkitanNya. Disinilah, Ekaristi yang menjadi jantung hidup Gereja (EE 3) sekaligus  sumber dan puncak hidup beriman, fons et culmen (LG 11), memiliki arti mendasar yakni: “Elok KArena kRIStus ada di haTI, .” Dan, bukankah Ekaristi menjadi lebih elok jika kita merenung-menungkannya bersama Maria Sang Bunda Ekaristi, Mater Eucharistia? Adapun tujuh “puncta ekaristia” yang terinspirasi dari tujuh maklumat Bunda Maria dalam Injil, yakni:

Pertama, ”Jiwaku mengagungkan Tuhan” (Luk 1:46-47). Sebagai imam muda, saya bertugas pertama kali pada sebuah gereja tua di kawasan Tangerang bersama dua imam Jesuit. Di Tangerang inilah, saya mengenal seorang umat bernama “Sukirman”, yang berarti “sukacita karena iman”.  Adapun, sejak abad XII, dinyata-kenangkan ada lima alasan mengapa Maria bersukacita karena iman, yakni: Kabar Sukacita Nazareth (Lukas 1:30), Momentum Betlehem, Paskah, kenaikan Yesus dan pengangkatan Maria ke surga (Maria Asumpta). Lewat lima sukacita iman inilah, Maria membimbing kita untuk terus ber-“magnificat”, bersyukur setiap kali merayakan Ekaristi (red.Yunani: eucharistia, mengucap syukur), sebab dalam Ekaristilah, kita mengalami tiga jalan cinta Tuhan, yakni:

Via Purgativa (Jalan Pembersihan, ketika kita berdoa tobat dan mendapat absolusi umum, jadi janganlah “kudis-kurang disiplin”, telat ketika ikut ekaristi).

Via Illuminativa (Jalan Pencerahan, ketika kita mendengarkan bacaan suci, mazmur dan homili, jadi janganlah “kuli-kurang peduli”, melantur ketika mendengarkan bacaan dan homili)

Via Unitiva (Jalan Persatuan, ketika kita bersatu dalam doa syukur agung dan menyambut komuni, jadi janganlah “kutang-kurang tanggung jawab”, gaduh ketika berdoa dan menerima hosti).

Jelasnya, bersama ”Maria Bunda Ekaristi”, kita dibersihkan-dicerahkan dan disatukan dengan Kristus dan kurbanNya, dan bukankah sudah sepatutnya kita juga mengenakan semangat Maria: bersyukur atas tindakan kasih Allah yang menyelamatkan “lewat” Yesus, “dalam” Yesus dan “bersama” Yesus?

Kedua, “Aku ini hamba Tuhan”. (Luk 1:38a).

Maria adalah Bunda Ekaristi yang bersemangat “HAMBA”, itulah juga bahwasannya setiap akhir konklav, ada slogan kepausan yang dimunculkan, yakni “Servus Servorum Dei –Hamba dari Semua Hamba Tuhan.” Secara khusus, dalam konteks Ekaristi, Maria sebenarnya sudah menjadi hamba Tuhan yang ekaristis, bahkan sebelum Ekaristi diinstitusikan pada Perjamuan Malam Terakhir, yakni saat “dia mempersembahkan rahim perawannya kepada penjelmaan Sabda Allah” (EE 55). Ya, dengan penjelmaan Sang Sabda menjadi manusia yang dikandungnya, Maria menjadi hamba Tuhan yang telah menyambut tubuh dan darah Kristus, mendahului apa yang disambut juga secara sakramental oleh Gereja dalam Ekaristi. Disinilah, Maria dengan sikap hidup kontemplatif: “menyimpan dan merenungkannya dalam hati” selalu bersadar diri sebagai “tabernakel” karena mengandung Tuhan dalam rahimnya. Kitapun diajak bersadar diri untuk terus berjuang menjadi tabernakel yang hidup karena menyitir kata-kata St. Sirillus yang indah: “Dalam roti dan anggur, janganlah hanya melihat unsur alamiah, sebab Tuhan telah tegas mengatakan bahwa itu adalah tubuh dan darah-Nya: iman memastikan bagimu, kendati indera menunjuk kepada yang lain.” Secara otak atik gathuk, baiklah kalau kita sebagai hamba Tuhan juga semakin bersadar diri akan arti sebuah iman “KATOLIK” (Kristussentris, Apostolik, Tujuhsakramen, Orang kudus, Liturgiekaristi, Inkarnasi, Kitabsuci). Bukankah awal dan akhir dari “KATOLIK” adalah huruf “K” yang bisa berarti” “Kristus-sentris”? Artinya, setiap kali merayakan Ekaristi, kita diajak untuk bersadar diri untuk menjadikan Kristus sebagai dasar, bukan lagi  “ego-sentris” (Gerejanya ber-AC/panas, koornya bagus/fals, waktunya cepat/lama) dan bukan lagi bermental “pastor-sentris” (kalau misa, lihat dulu pastornya siapa).

Ketiga, “Jadilah padaku menurut perkataanMu” (Luk 1:38 b).

Iman Maria sebagai Bunda Ekaristi secara konkret tidak berjalan sendiri tetapi bekerjasama dengan daya jiwa yang lain, termasuk kepasrahan. Kepasrahan ala Maria ini terkait dengan arti nama Maria, “MAu Rendahhati Ikut Allah”. Dengan sikap Maria yang berpasrah dengan penuh kerendahan hati kepada rencana Allah tampaklah adanya kesejajaran antara Fiat Bunda Maria dan Amen umat beriman saat menyambut Tubuh Tuhan. Dimensi kepasrahan juga telah dialami oleh Maria ketika Ia pergi ke Yerusalem untuk mempersembahkan Yesus kepada Allah (Luk 2:22) dan ketika ia harus mendengar nubuat Simeon bahwa jantungnya akan ditusuk oleh suatu pedang karena Anaknya itu akan menjadi “tanda pertentangan”. Yang pasti, kepasrahan lekat dengan kerendahan hati, dan itulah yang kita kenang-rayakan dalam Ekaristi, seperti kata Escriva, “Kerendahan hati Yesus jelas: di Betlehem, di Nazaret, di Kalvari. Akan tetapi, lebih jelas lagi dalam Ekaristi, dalam Hosti terkudus; Lebih daripada di kandang, lebih daripada di Nazaret, lebih daripada di atas salib. Itulah sebabnya mengapa aku harus begitu mencintai Ekaristi.”

Keempat, “Bagaimana mungkin hal itu terjadi, sedangkan aku  belum bersuami.” (Luk 1:34). Maria berani berterus terang, ketika ia resah dan gelisah, takut dan kecut, bingung dan bimbang. Disinilah, dalam konteks Ekaristi, kita diajak berani untuk berterus terang kepada Tuhan, “Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tapi bersabdalah saja, maka saya sembuh.” Bukankah pemazmur berkata bahwa Tuhan mengetahui segala sesuatu yang kita lakukan dan pikirkan? (Mzm 139:2). Baiklah tradisi mengaku dosa sebelum misa atau memohon ampun sebelum menyambut komuni tetap diresap-lakukan karena “sungguh Ekaristi adalah secercah penampakan surga di atas bumi, seberkas sinar mulia dari Yerusalem surgawi yang menembus awan sejarah dan menerangi peziarahan kita” (EE 19). Bukankah untuk menyambut Ekaristi dengan pantas, orang yang berdosa berat harus lebih dahulu mengaku dosa? Dan, bukankah orang yang tidak memiliki disposisi moral yang cukup, (yaitu: terus menerus dan secara nyata hidup dalam dosa berat, Bdk.EE 37 yang mengutip: KHK kan. 915), tidaklah layak untuk menyambut komuni? Oleh karena itu, seperti Maria yang setia ber-”adorasi” di goa Betlehem dan di bawah salib Golgota dengan hening, baiklah kita terus menggemakan kembali pentingnya devosi dan penghormatan terhadap Ekaristi di luar misa serta betapa perlunya kita berdoa (termasuk di luar misa) dan mengadakan devosi- adorasi serta ”ning neng nung” (wening-meneng dan dunung) di depan Tuhan yang hadir dalam Sakramen Mahakudus.

Kelima, “Yesus, mereka kehabisan anggur” (Yoh 2:3).

Kepedulian dalam bahasa Inggris diartikan sebagai “caring” (care=cor=hati), lebih tepat diartikan sebagai per”HATI”an. Maria peduli karena ia punya hati. Singkatnya, Maria tidak egois! Ekaristi dalam bahasa Nouwen, mengajak setiap orang untuk memiliki “4 D”: Dipilih-Diberkati, Dipecah dan Dibagi-bagi. Sebuah sharing: Dulu, ketika masih frater teologi, saya kadang suka makan di angkringan sepanjang StasiunTugu, sekarang ketika saya ke Solo, ada banyak angkringan yang disebut warung“HIK”, yakni “Hidangan Istimewa Kampung”, tapi bagi saya, “HIK” itu bisa berarti lebih yakni “Hidangan Istimewa Katolik”. Bukankah Ekaristi yang kita kenang dan rayakan adalah juga sebuah  “Hidangan Istimewa Katolik”, karena disanalah kita dikuatkan dan  dari sanalah kita diutus untuk berbagi “HIK”, Harapan Iman dan Kasih” secara nyata? Satu indikasi yang mudah dilihat, apakah ekaristi itu membuat hidup kita semakin menjadi “berkat”, dan minimal apakah berkat itu diberikan dengan sukarela atau sukar-rela, dengan “intentio pura” (tulus dan sepenuh hati) atau dengan “intentio pura-pura” (penuh akal bulus dan setengah hati)? Kita mestinya juga terus menumbuhkan semangat “beriman-bersaudara dan berbela rasa” dalam keterlibatan dan keberpihakan terlebih pada orang lemah, tak berdaya, miskin dan tidak punya harapan karena justru dalam dunia seperti itulah, pengharapan Kristen harusnya lebih bersinar!

Keenam, “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian, tidak tahukah Engkau, bahwa ayahmu dan aku resah mencari Engkau? (Luk 2:48).

Yesus kecil pernah tertinggal dan hilang di Bait Allah Yerusalem dan Maria berhari-hari mencari Yesus. Maria mungkin lapar, haus, letih, lelah dan mengantuk. Setelah bertemu, kita ingat jawaban Yesus, ”Mengapa engkau mencari Aku?” Mungkin, jika kita menjadi Maria, kita bisa marah: menjewer kupingnya, mencubit pahanya atau bahkan mendaraskan “litani bentakan” dan “rosario makian”. Tapi Maria? Dia bersabar. Dia berbesar hati! Inilah salah satu semangat ekaristis. Sebuah perayaan Ekaristi selalu mendaraskan doa Bapa Kami, bukan? Dalam doa yang memiliki tujuh permohonan ini, kita candra permohonan yang kelima, “ampunilah kesalahan kami, seperti kami mengampuni yang bersalah kepada kami.” Ekaristi mengajak kita belajar bersabar dan berbesar hati, mengampuni kesalahan orang lain. Baiklah kita ingat filosofi Adel Bestravos: “Kesabaran pada orang lain berarti cinta. Kesabaran pada diri sendiri berarti pengharapan. Kesabaran pada Allah berarti iman.”

Ketujuh, “Apa yang dikatakanNya kepadamu, buatlah itu” (Yoh 2:5).

Hati Maria taat dan penuh dengan rasa damai menunggu rencana dan karya Tuhan. Itulah mungkin salah satu alasan mengapa Maria dijuluki  sebagai “Ratu Pecinta Damai”. Itu sebabnya, setiap perayaan Ekaristi ada salam damai, bukan? Baiklah juga kalau para pastor belajar memberi salam (red. Ibrani: syalom: damai) kepada umatnya, dan setiap umat juga saling memberi salam entah sebelum atau setelah perayaan Ekaristi, sehingga terjadilah apa yang dicita-citakan: “pacem in teris-pacem in cordis, damai di bumi damai di hati.” Dalam bahasa Paus Yohanes Paulus II: “pelbagai perayaan Ekaristi telah memeteraikan pengalaman yang sangat mengesankan bahwa Ekaristi bersifat universal. Benar-benar mendamaikan. Sebab, walaupun Ekaristi dirayakan di gereja desa yang sederhana, Ekaristi senantiasa dirayakan pada altar dunia. Ekaristi mempersatukan dan mendamaikan surga dan dunia. Ia merangkul dan meresapi segenap ciptaan” .

Lebih daripada tujuh puncta ekaristia” di atas, Ekaristi pertama-tama adalah karunia unggulan, karunia maha berharga dari Tuhan sendiri (EE 11), karena dalam Ekaristi, kita merayakan inti misteri iman, yakni misteri wafat dan kebangkitan Kristus dan di atas segalanya, kita memang harus terus menerus belajar pada Maria, “tempat misteri Ekaristi menampakkan diri”. Akhirnya, pertautan Maria dan Ekaristi ini, saya tutup dengan sebuah kalimat devotif khas Amerika Latin: Dios quiere y La Virgen permite, Tuhan Menghendaki dan Bunda Merestui.”

Jost Kokoh Prihatanto, PR

@Gereja St Maria Fatima Sragen

Penulis buku “Carpe Diem Maria”, “Beriman Bersama Maria” dan “3 Bulan, 5 Bintang, 7 Matahari”