Wedangan Pattimura 2 : Urip Iku Urup: Gereja yang Hidup dan Menjadi Terang

Paroki Sragen (LENTERA) – Gereja sebagai persekutuan umat Allah, mempunyai tugas signifikan yaitu keterlibatannya di dalam hidup berbangsa dan bernegara, terutama dalam kegiatan politik. Menanggapi hal itu, Paguyuban Wedangan Patimura 02, Paroki St. Perawan Maria Sragen, mengadakan acara Ngomong Politik (Ngom-Pol) dengan tema: Urip Iku Urup, Minggu (21/5). Dalam kata sambutannya, Pastor Robertus Hardianto, Pr, Pastor Paroki Sragen, mengatakan bahwa menghayati hidup sebagai bangsa masyarakat dalam kehidupan yang begitu plural dan majemuk serta kehidupan berbangsa dan bernegara adalah tanggung jawab umat Katolik dan ini satu pilar dari Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang (ARDAS KAS).

Dalam Wedangan Patimura 02 ini, menghadirkan pembicara: sebagai moderator Andreas Kosasih, Ketua DPRD Solo: Yohanes Sukasno, Mantan Ketua PMKRI Nasional: Stefanus Asat Gusma, dan Konsultan Senior Lembaga Management Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia: Dr. Ir. Ignatius Heruwasto. Hadir sebagai tamu undangan Benny Sabdo, Dr. George Aditjondro, Pastor Greg. Soetomo.

Pembicara pertama, Yohanes Sukasno mengatakan bahwa umat Katolik jangan anti dan alergi dengan politik, justru umat Katolik harus aktif dalam berpolitik, walaupun dunia politik identik dengan hal yang kotor, kelam, dan korupsi. Sukasno berkata umat Katolik seharusnya tidak boleh terprovokasi dengan dorongan untuk tidak menggunakan hak suara dalam pemilu (Golput). Jika umat Katolik golput, kesempatan ini akan digunakan oleh ‘teman-teman di kolam sana’ untuk dapat memenangkan anggota legislatif atau kepala pemerintahan daerah, yang akan berdampak pada penetapan Perda-perda dan undang-undang yang merugikan umat Katolik itu sendiri.

Asat Gusma mengatakan bahwa Umat Katolik harus menghidupi peran sosial sebagai entitas kebangsaan, bagian yang tidak terpisahkan dari Indonesia dengan terus menegakkan empat pilar Indonesia: Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar 45. Asat menekankan bahwa jika ingin urip iku urup (menjadi terang bagi sesama) orang Katolik harus menampilkan nilai hidup yang nyata di masyarakat, berani berjejaring, reaktualisasi pemikiran tokoh-tokoh bangsa, dan terus-menerus belajar Kristus yang mau merendahkan diri sebagai manusia biasa yang juga mau blusukan.

Heruwasto menyampaikan data-data peta aspirasi politik di Daerah Pemilihan (Dapil) V Jawa Tengah pada tahun 2013 yaitu 75% masyarakat merasakan kehidupan semakin sulit, 70% masyarakat mengatakan tidak yakin bahwa partai politik. 75% masyarakat menaruh harapan pada partai nasionalis dalam hal kebangkitan Indonesia, 35% masyarakat rentan terhadap serangan fajar atau money politic. Heruwasto menekankan politik adalah suatu pelayanan tetapi dalam kekuasaan dengan menampilkan kekuasaan Tuhan, dan mengesampingkan kekuasaan diri sendiri.

Benny Sabdo mengatakan bahwa kiprah politik orang Katolik di era Reformasi masih sangat sedikit dibandingkan dengan di era Orde Lama dan Orde Baru, tetapi gerakan orang Katolik semakin menyebar di daerah-daerah. Benny Sabdo mengatakan tugas orang Katolik itu adalah membersihkan hal kotor di dalam politik.

Diskusi terus berlanjut dengan topik-topik menarik, misalnya Heruwasto mengatakan bahwa korupsi itu dapat hilang dengan adanya pengelolaan yang baik yaitu dengan cara masuk ke dalam budaya dan sistem pengelolaan yang baik juga kepemimpinan yang baik. Sistem itu tidak berpengaruh banyak dalam perubahan dan menghilangkan korupsi, kepemimpinanlah yang sangat berpengaruh dengan perubahan. Misalnya: Jepang, China. Kebudayaan dan kepimimpinan yang mempunyai kekuatan merubah bangsa khususnya Indonesia. Jika orang mengimani spiritualitas Doa Bapa Kami: Berilah kami rejeki secukupnya pada hari ini, tentu saja orang tidak ingin mencari rejeki yang lain.

Gusma menanggapi tentang money politic dalam hubungannya pemilihan calon legislatif sebagai dengan jawaban bahwa perjuangan politik dimaknai sebagai perjuangan bersama mewarnai panggung politik, dalam rangka membersihkan hal-hal yang kotor di dalam politik.

Sukasno mengatakan bahwa sistem undang-undang tentang pilihan langsung menyebapkan kekacauan politik dengan munculnya money politic, partai dengan biaya besar dapat mendorong calon legislatif untuk mencalonkandiri dengan member modal 10 milyar. “Jika orang jujur menjadi anggota legislatif, hanya mengandalkan hasil gajinya. seseorang belum tentu dapat membeli mobil Toyota Inova dalam satu periodenya,” kata Yohane Sukasno menambahkan. Acara ditutup oleh Pastor Jost. Kokoh Prihartanto, Pr, dengan memberikan 3 K: komunitas yang berkualitas, kapasitas, karitas yang nyata di dalam kehidupan. (Red)