“Membangun Keluarga Kristiani Sejati”

Oleh: Ibu Ateng – Sepasang suami istri mengeluh rumahnya terlalu kecil. Tiga orang anaknya tidak punya kamar sendiri-sendiri. Tidur harus berjejalan, belajar bergantian. Lalu mereka berdua menemui Pasrtor Paroki dan menceritakan keadaan rumah tangga mereka.

“Tuhan kok tidak peduli dengan keluarga kami Romo. Padahal kurang apa saya dan suami dalam berkerja keras dan memohon. Kami mesti bagaimana lagi?” tanya mereka.

“Saya punya cara untuk mengatasinya, asal bapak dan ibu menuruti semua kata-kata saya,” kata Romo Paroki.

“Kami janji Romo, asal kami bisa bernafas lega.”

“Ajaklah semua keponakan dan sepupu Bapak ibu menginap di rumah Bapak ibu. Minggu depan bapak ibu datang lagi kemari.”

Walau heran, suami istri itu mengikuti kata-kata Romo Paroki. Mereka pulang, lalu mengajak semua keponakan dan saudara sepupu mereka untuk menginap di rumah mereka.

Seminggu kemudian mereka datang kembali kepada Romo Paroki.

“Waduh Romo, rumah kami tambah sumpek. Bagaimana ini?” keluh mereka.

“Bapak Ibu masih mau mengikuti kata-kata saya?” tanya Romo.

“Tentu Romo, pokoknya asal kami bisa menarik nafas lega.”

“Begini, Bapak Ibu kan memiliki beberapa ekor kambing dan ayam, bukan?”

Nah, coba bapak ibu bawa masuk hewan piaraan itu ke rumah. Minggu depan bapak ibu kembali kesini.

Benar-benar nasehat gila. Akan tetapi, karena sudah janji bapak ibu itu menuruti juga apa yang dikatakan Romo.

Seminggu kemudian mereka datang lagi kepada Romo Paroki dengan wajah kusut mawut.

“Rumah kami tambah tak karuan. Sekarang apa lagi nasehat Romo?” tanya mereka putus asa.

“Sekarang Bapak Ibu pulang. Semua keponakan dan sepupu pulangkan ke rumah mereka. Kambing dan ayam kembalikan ke kandang,” sahut Romo.

Bapak ibu itu menurut ; memulangkan keponakan dan sepupunya, mengembalikan ternak ke kandangnya. Besoknya mereka datang ke Romo dengan wajah cerah.” Rumah kami tidak sumpek lagi sekarang. Kami bisa menarik nafas lega, Romo,” kata mereka gembira.

Seperti bapak ibu itu, kalau kita mau membuka hati dan pikiran, sesungguhnya ada banyak alasan untuk bersyukur.

Mungkin keluarga kita tidak secemerlang keluarga lain, rumah kita tidak semegah dan seluas rumah lain, kendaraan yang kita milikipun satu-satunya sepeda motor butut.

Namun, kita masih bisa makan sehari tiga kali ; padahal ada banyak orang yang susah tidur nyenyak dan banyak lagi. Semua itu patut kita syukuri . Hal itu menunjukan bahwa hidup kita tidak seburuk atau semalang yang kita bayangkan.

Kita hanya kurang menghargainya. Kurang bersyukur dan menganggap semua itu biasa saja. Baru kalau sudah tidak ada, kita kelabakan. Maka, marilah kita menghargai semua yang kita punya selama masih ada. Sekecil apapun itu, jangan melihat pada yang tidak ada. Hidup kita akan terasa lebih ringan dan nikmat, kalau kita iringi dengan rasa syukur.

Pertanyaan untuk kita renungkan : kalau Tuhan sudah begitu banyak memberikan anugerah-Nya kepada kita, lalu apa yang sudah kita berikan kepada-Nya?! Apa balasan kita?

Sekarang mari kita bayangkan Tuhan berdiri dihadapakn kita dan bertanya,” aku sudah memberikan kepadamu kehidupan, kemampuan ini dan itu, pekerjaan, kepandaian, keluarga, rejeki, waktu, bahkan yang paling utama bagi manusia : keselamatan ! Lalu apa yang kamu lakukan untu Aku?!”

Kita menganggap segala yang ada pada kita adalah milik kita pribadi. Padahal semua itu adalah anugerah Tuhan. Seperti kata Rasul Paulus,” Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia : Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (Roma 11:36).