Keluarga: 4 Jalan Cinta

Oleh : Romo Jost Kokoh Prihatanto

Kesabaran  pada diri sendiri berarti Harapan

Kesabaran  pada Allah berarti Iman

Kesabaran  pada orang lain berarti Kasih

Desember 2012 dan Mei 2013 ini, kita kedatangan dua seniman Katolik, Arswendo Atmowiloto dan Adi Kurdi yang membesut ”Keluarga Cemara” dengan penggalan liriknya: “Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah, adalah keluarga. Puisi yang paling bermakna adalah keluarga. Mutiara tiada tara adalah keluarga…….”

Lewat penggalan lagu ini, kita bisa membaca salah satu pesan, bahwa keluarga adalah segalanya. Istilah “keluarga” sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu: kula dan warga, “kulawarga” yang berarti “anggota” kelompok/kerabat. Keluarga berarti, kelompok sosial atau lingkungan di mana beberapa individu yang masih memiliki hubungan darah, dimana juga terdapat ikatan, kewajiban, tanggung jawab diantara individu tersebut. Keluarga sendiri adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.

Dalam kacamata Salvicion dan Celis (1998), di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, dhidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.

Yang pasti, Gereja Katolik meyakini bahwa keluarga adalah “gereja mini”. Artinya? Keluarga adalah persekutuan dasar iman dan tempat persemaian iman sejati. Maka, jika Confusius pernah berkata, keluarga adalah akar segala pertumbuhan di masyarakat. Jika Leo XIII berkata keluarga adalah ikatan suci  guna membentuk keluarga sakinah. Jika Thomas Aquinas juga berkata bahwa keluarga adalah ikatan keagamaan yang paling dasar, maka bagi saya sendiri, keluarga bisa berarti sebuah ruang penuh makna dengan empat jalan cinta:

“KEcilkan emosi, LUaskan isi hati, ARahkan ke ilahi dan GAlang Relasi”

-KEcilkan emosi: Inilah sebuah kondisi “BERSABAR”, yakni menahan diri dari berputus asa, meredam amarah jiwa, mencegah lisan untuk mengeluh, serta menahan anggota badan untuk berbuat jahat. Ia muncul dari dalam jiwa, mencegah perbuatan yang tidak baik, kekuatan jiwa yang membuat baik segala perkara. Karena itu nasihat Pengkotbah: “janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada  orang bodoh” (Pengk 9:9) atau nubuat dalam Yak 1:19 : “…setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.“

– LUaskan isi hati: Ini sebuah syarat untuk “BERDAMAI”. Agar rumah dan keluarga kita penuh dengan damai, maka bila kita salah, akui, bila kita benar – tutup mulut. — To keep your home life brimming with love in the marriage cup whenever you’re wrong, admit it, whenever you’re right – shut up!! Itulah salah satu cara untuk kita belajar berdamai dan meluaskan isi hati. Bukankah Benjamin Franklin juga pernah mengatakan bahwa “orang yang memiliki kesabaran juga akan memiliki apa yang dikehendakinya –One who has patience will have whatever he wants.”

– ARahkan pada yang ilahi: Kebiasaan berdoa adalah salah satu caranya:“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Fil 4:13). Disinilah, setiap anggota keluarga diajak untuk membawa semua pergulatan-pergumulan ke dalam tangan Allah. KGK mengatakan: berdoalah setiap hari, terlebih:

a.   Pada pagi hari, untukmempersembahkan hari ini kepadaAllah dan meminta pertolonganNya  dalam menghadapi godaan-godaan hari ini.

b.   Sepanjang hari, terutama ketika ada  godaan.

c.   Pada malam hari, untuk berterima-kasih kepada Allah atas berkat karunia pada hari itu dan untuk meminta ampun kepada-Nya atas dosa-dosayang telah kita lakukan pada hari itu.

d.   Sebelum dan setelah makan.

– Galang relasi:

Paus Yohanes Paulus  II dalam “Familiaris Consortio” pernah menyatakan bahwa terdapat empat tugas keluarga kristiani, al: membentuk persekutuan pribadi-pribadi; mengabdi kepada kehidupan; ikut serta dalam pengembangan masyarakat; juga berperan serta dalam kehidupan dan misi Gereja” Disinilah tampak jelas bahwa setiap anggota keluarga diajak terlibat (tentunya tanpa terlipat) dalam relasi dengan sesama anggota keluarganya, dengan keluarga lain, dan tentunya dengan masyarakat yang lingkupnya lebih luas. Lebih jelasnya, lihatlah arti keluarga dalam bahasa Inggris, FAMILY,  yang berarti, Father and Mother I Love You. Disinilah setiap anggota keluarga diajak untuk menggalang relasi cinta, dan bukan dosa, relasi menuju Tuhan dan surga, bukan menuju setan dan neraka.

Sebagai penutup, adalah sebuah cerita: dua katak terjatuh dalam wadah berisi bubur. Yang satu putus asa lalu tenggelam mati. Yang satu lagi berkata, “Aku memang tak bisa meloncat tapi aku takkan menyerah begitu saja. Aku akan berenang terus hingga tenagaku habis, hingga aku mati dengan puas.” Lalu ia berenang terus sampai bubur menjadi lebih cair, sampai suatu ketika sudah  cukup cair dan … hop, ia berhasil meloncat keluar. Marilah kita juga seperti katak yang berjuang tanpa lelah, berani menjadi keluarga, yang selalu mau bersabar, berdamai, berdoa dan berbagi dengan belajar “KEcilkan emosi –LUAskan isi hati – ARahkan ke ilahi dan GAlang relasi”.