Hidup Berlandaskan Sabda Allah

Oleh: Yohanes Ari Purnomo, Pr – Dalam Tradisi Gereja Katolik di Indonesia, bulan September adalah bulan untuk memberi perhatian kepada Kitab Suci dalam hidup beriman. Apakah dalam bulan-bulan lain Kitab Suci tidak diperhatikan? Tentu tidak. Bulan Kitab Suci Nasional yang diadakan setiap bulan September lebih merupakan bulan yang dikhususkan bagi umat beriman untuk semakin memiliki habitus dalam akrab dengan Kitab Suci. Tujuan dari diadakannya Bulan Kitab Suci Nasional itu adalah agar umat memiliki waktu khusus dalam mengakrabi Kitab Suci dan kemudian hidup beriman mereka diinspirasi oleh Kitab Suci. Harapannya, habitus baru umat beriman yang akrab dengan Kitab Suci ini pun menginspirasi untuk hidup selalu berlandaskan Sabda Allah.

Inspirasi dan Kebenaran Kitab Suci

Kitab suci merupakan buku iman yang mewartakan tentang Sabda Allah yang hadir di tengah-tengah manusia dalam diri Kristus. Dengan begitu, kebenaran dan inspirasi Kitab Suci mengajak segenap umat beriman untuk mengenal Yesus, Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup; dan akhirnya hidup seturut sabda itu. Dengan demikian, Kitab suci memuat Sabda Allah dalam diri Kristus, yang ditulis oleh para penulis Kitab Suci berdasarkan ilham Roh Kudus. Mengenai hal ini, Katekismus Gereja Katolik, artikel 105 menulis demikian: Allah adalah penyebab Kitab Suci. “Yang diwahyukan oleh Allah dan yang termuat serta tersedia dalam Kitab Suci telah ditulis dengan ilham Roh Kudus”. “Bunda Gereja yang kudus, berdasarkan iman para Rasul, memandang kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru secara keseluruhan, beserta semua bagian-bagiannya, sebagai buku-buku yang suci dan kanonik, karena ditulis dengan ilham Roh Kudus (lih. Yoh 20:31; 2Tim 3:16; 2Ptr 1:19-21; 3:15-16), dan dengan Allah sebagai pengarangnya, serta dalam keadaannya demikian itu diserahkan kepada Gereja” (DV 11). Dengan demikian, Kitab Suci dalam Gereja merupakan panduan iman untuk semakin mengarahkan diri pada Kristus, Sang Sabda Allah, Wahyu Ilahi, bagi seluruh umat beriman.

Kitab Suci itu mengajarkan kebenaran karena yang diwartakan adalah Sabda Allah sendiri di dalam diri Kristus. Nilai-nilai serta ajaran yang termuat di dalamnya adalah kebenaran dan kehidupan, sehingga amat pantaslah untuk dihayati dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dalam hidup beriman. Mengenai hal ini, Katekismus Gereja Katolik artikel 107 menulis demikian: Kitab-kitab yang diinspirasi mengajarkan kebenaran. “Oleh sebab itu, karena segala sesuatu, yang dinyatakan oleh para pengarang yang diilhami atau hagiograf (penulis suci), harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus, maka harus diakui, bahwa buku-buku Kitab Suci mengajarkan dengan teguh dan setia serta tanpa kekeliruan kebenaran, yang oleh Allah dikehendaki supaya dicantumkan dalam kitab-kitab suci demi keselamatan kita” (DV 11).

Dengan demikian, sebagai umat beriman, kita menyakini dengan sungguh bahwa tidak ada kekeliruan dalam Kitab Suci yang akan mengantarkan kita kepada kebenaran serta keselamatan sejati. Meski begitu, Gereja tidak mengajak kita semua untuk memiliki pengertian tentang kesakralan teks itu melulu (atau buku), melainkan Sabda Allah itu terungkap di dalam ‘pribadi’ yakni Kristus. Sabda itu hidup dan berdinamika dalam kehidupan kita karena Sabda itu menjadi manusia dan hidup. Kitab Suci membawa kita untuk mengenal dan mengalami sabda Allah itu, sebagaimana tertuang dalam Katekismus Gereja Katolik artikel 108: Tetapi iman Kristen bukanlah satu “agama buku”. Agama Kristen adalah agama “Sabda” Allah, “bukan sabda yang ditulis dan bisu, melainkan Sabda yang menjadi manusia dan hidup” (Bernard, hom. miss. 4,11). Kristus, Sabda abadi dari Allah yang hidup, harus membuka pikiran kita dengan penerangan Roh Kudus, “untuk mengerti maksud Alkitab” (Luk 24:45), supaya ia tidak tinggal huruf mati. Oleh karena alasan inilah Gereja perlu memberi perhatian pada Sabda Allah yang tertulis dalam Kitab Suci. Supaya inspirasi dan juga kebenaran yang diwartakannya, semakin menjadi daya hidup dan juga pilihan sikap dari umat beriman dalam mengalami dan mewartakan Sabda Allah.

Bulan Kitab Suci Nasional 2013 Keuskupan Agung Semarang

Dalam upaya mengajak umat untuk memiliki habitus dalam mendalami warta Kitab Suci, Gereja Katolik Indonesia mengajak segenap umat beriman untuk mengkhususkan bulan September sebagai Bulan Kitab Suci Nasional. Pada Bulan Kitab Suci Nasional tahun 2013, Lembaga Biblika Indonesia dari  Konferensi Wali Gereja Indonesia mengajak segenap umat beriman untuk lebih akrab dengan Kitab Suci dengan mengkhususkan bulan September 2013 sebagai bulan “Kitab Suci dalam Keluarga”. Tujuannya, Kitab Suci pun mendapat perhatian dalam hidup keluarga sehingga keluarga pun hidupnya terinspirasikan dari kebenaran yang tertuang dalam Kitab Suci. Harapannya, dengan semakin akrab pada Kitab Suci, umat beriman mulai dari anak-anak, remaja, orang muda, dan juga orang dewasa semakin mampu merefleksikan iman mereka berdasarkan terang Kitab Suci.

Sementara itu, Keuskupan Agung Semarang dalam rangka Bulan Kitab Suci Nasional tahun 2013 ini mengajak segenap umat beriman di KAS untuk merenungkan tokoh-tokoh iman dalam Kitab Suci yakni: Abraham, Musa, Bunda Maria dan juga para rasul. Hal ini dilatarbelakangi oleh dicanangkannya tahun 2013 sebagai tahun Iman oleh Bapa Suci Benediktus XVI yang artinya mengajak segenap umat beriman untuk menggali kembali dan menghayati kekayaan iman yang dimiliki oleh Gereja. Dalam konteks Bulan Kitab Suci Nasional, kekayaan iman itu terungkap dari kisah perjuangan iman tokoh-tokoh dalam Kitab Suci.

Dalam rangka mendalami serta mengakrabi Kitab Suci, Komisi Kitab Suci Keuskupan Agung Semarang mengajak segenap umat beriman untuk menggunakan bulan September 2013 sebagai bulan yang dikhususkan untuk kegiatan pendalaman iman berdasarkan Kitab Suci. Adapun pendalaman itu bisa dilakukan dalam kelompok-kelompok teritorial maupun kategorial. Metode pendalamannya pun bisa bervariasi, seperti: Lectio (membaca kitab suci), Meditatio (meditasi berdasarkan teks tertentu), Oratio (berdoa menggunakan Kitab Suci) dan Contemplatio (kontemplasi berdasarkan Kitab Suci). Metode-metode ini merupakan cara dalam menghayati iman yang tertulis dalam Kitab Suci, supaya umat beriman semakin mengenal, dan memahami maksud Allah dalam diri Kristus, dan kemudian menjadi daya hidup sehari-hari dalam memperjuangkan kebenaran dan kehidupan.

BKSN Jangan Sekedar Kegiatan Rutin! (BKSN di Paroki St. Perawan Maria Sragen)

Lantas bagaimanakah Bulan Kitab Suci Nasional ini dihayati, dilakukan, dikembangkan di Paroki St. Perawan Maria Fatima Sragen? Semoga BKSN yang sudah tersusun rapi dari tingkat Nasional hingga paroki ini tidak hanya tinggal sebagai kegiatan rutin saja. Jangan sampai BKSN hanya dihayati untuk  sekedar ‘mengisi kesibukan’ di Gereja pada setiap bulan September. Oleh karena itu, saya mengajak segenap umat semua untuk menjadikan moment BKSN ini sebagai bulan yang membuat kita semakin akrab dengan Kitab Suci dan hidup berdasarkan olehnya. Hidup berlandaskan pada Kitab Suci bukan semata-mata taat secara harafiah pada kata per kata yang tertulis di dalam Kitab Suci, tetapi dicerahkan olehnya. Pencerahan itu berarti kita mampu mengambil nilai-nilai serta keutamaan yang terkandung dalam Kitab Suci itu demi kehidupan yang semakin relevan serta signifikan bagi semesta. Dengan demikian, Sabda Allah  tidak hanya tertulis dalam huruf pada lembar-lembar kertas tetapi pada hidup manusia, pada hidup orang beriman Katolik.

Marilah kita menggunakan moment Bulan Kitab Suci Nasional ini sebagai saat dimana kita kembali kepada akar iman kita yakni Kristus, yang terwartakan dalam Kitab Suci. Dengan semakin mengakrabi Kitab Suci, akhirnya kita pun boleh mengenal dan memahami Kristus serta perjuanganNya dalam melaksanakan Karya Kasih Allah. Akhirnya, dengan mengenal serta memahami Kristus sebagai Sang Sabda, kita pun selalu hidup olehNya, di dalamNya, yang membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Dengan hidup selalu berlandaskan pada Sabda Allah, kita tengah bergerak menuju kepada Kerajaan Allah. Dan kita pun diutus untuk selalu mewartakan Injil keselamatan itu kepada siapa saja, secara khusus bagi bumi Sukowati yang tercinta ini.