Pesan Iman Di Bulan Kitab Suci

Oleh C. Dwi Atmadi – Tema bulan Kitab Suci 2013 untuk Keuskupan Agung Semarang adalah “Firman-Mu adalah Pelita bagi Langkahku” (Mzm 119:105). Firman Tuhan menjadi pedoman kita untuk menghayati iman dan mendekatkan kita kepada Sang Sumber Iman yaitu Allah dalam Yesus Kristus. perang. Selama bulan September 2013, yang selama ini ditetapkan sebagai Bulan Kitab Suci, kita akan mendalami bersama kekayaan iman tersebut lewat tokoh-tokoh Kitab Suci. Dua tokoh iman dari Perjanjian Lama yang akan kita dalami bersama adalah Abraham sebagai Bapa Umat Beriman dan Musa sebagai utusan Allah untuk membebaskan bangsa Israel dari Mesir. Dari Perjanjian Baru, kita akan mendalami bersama Bunda Maria sebagai tokoh iman yang unggul dan para rasul sebagai tokoh-tokoh iman yang telah berjuang mewartakan Injil sampai akhir hayat mereka.

1. Pesan Iman dari Kisah Panggilan Abraham

a. Abraham dipanggil menjadi Bapa kaum beriman. Dia mengikuti kehendak Tuhan dengan meninggalkan tanah kelahirannya menuju ke Kanaan. Janji dari Tuhan kepada Abraham adalah memperoleh tanah, keturunan yang banyak dan menjadi berkat bagi semua bangsa.
b. Meskipun Abraham tidak menunjukkan penolakan terhadap kehendak Tuhan, namun dia harus mengalami berbagai macam pengalaman yang membuatnya ragu-ragu apakah ke-hendak Tuhan akan terlaksana baginya. Dua kali Sara hampir diperistri oleh raja bangsa lain (Firaun dari Mesir dan raja Abimelek). Selain itu, janji Tuhan untuk memberinya keturunan tidak segera terwujud. Namun demikian, apa yang dijanjikan Tuhan memang akhirnya terjadi. Abraham mempunyai tanah, mempunyai keturunan dan dapat menjadi berkat bagi orang lain.
c. Suatu peristiwa yang menguji iman Abraham adalah ketika Tuhan menghendaki agar Ishak, anak kandung yang dikasihinya, untuk dikorbankan sebagai korban bakaran. Abraham yang sudah berpengalaman menghadapi berbagai pencobaan iman menaati kehendak Tuhan. Berat sekali bagi Abraham untuk mengikuti perintah Tuhan tersebut. Namun, dia mempercayakan semuanya kepada Tuhan. Dialah Allah mahabesar yang mengatur seluruh kehidupan umat manusia. Terbukti bahwa Abraham sungguh taat dan penuh iman akan kehendak Tuhan. Pada akhirnya dia tahu bahwa Tuhan Allah telah mencobai imannya ketika memerintahkan pengorbanan Ishak anaknya.

2. Pesan iman dari Kisah Musa
a. Musa dipanggil sebagai pemimpin bangsanya, namun dengan jujur dia mengakui kelemahannya di hadapan Tuhan.
b. Musa tidak gentar menghadapi tantangan karena percaya bahwa Tuhan menolongnya.
c. Musa harus mengalami banyak protes dari bangsa Israel, namun imannya menjadi kekuatan baginya.
d. Musa menjadi teladan iman bagi bangsanya. Dia menunjukkan gambaran Allah yang peduli pada umat-Nya.

3. Pesan iman dari kisah Maria
a. Bunda Maria adalah Bunda Allah, Bunda Yesus, Bunda Tuhan, Bunda Gereja. Dari ulasan mengenai iman Maria, kita mendapat suatu keyakinan bahwa semua gelar tersebut bagi Maria bukanlah kebanggaan tetapi lebih meruipakan tanggungjawab.
b. Bunda Maria menanggapi panggilan Tuhan dengan mengatakan: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Jawaban Maria atas panggilan Tuhan menunjukkan adanya kesanggupan sekaligus iman. Tanggungjawab Maria begitu besar, namun dia sanggup untuk melaksanakannya karena ada iman yang besar akan Allah yang akan menjadi penolongnya. Bagi Allah tidak ada yang mustahil.
c. Perjalanan iman Maria menunjukkan adanya ketekunan untuk mencari kehendak Allah dan merenungkannya setiap kali ada yang tidak jelas. Mari senantiasa mencari kehendak Allah bagi dirinya pada setiap pengalaman hidupnya.
d. Peristiwa Maria di bawah salib menjadi perwahyuan penting bahwa kita semua adalah putra-putri Maria, dan Bunda Maria adalah Bunda kita semua. Dia tidak berperan meng-gantikan Yesus, tetapi berperan dalam mengantarkan kita kepada iman akan Yesus. Maria juga menjadi pelindung kita di dalam kehidupan di dunia ini sampai pada kehidupan sorgawi.

4. Pesan iman dari Para Rasul
a. Bagaimana dengan kita? Menjadi murid Yesus berarti “mengikuti Dia” dan “tinggal bersama Dia”. Kita tidak hanya datang untuk memahami ajaran-Nya tetapi lebih dari itu. Mengikuti Yesus berarti menyadari bahwa Dia selalu hadir bersama kita, Dia menjadi teladan hidup kita dengan apa yang dilakukan-Nya (bukan hanya apa yang diajarkan-Nya). Bukan ilmunya yang terpenting tetapi pribadi Yesus sendiri. Itulah sebabnya mengapa kehadiran dan kebersamaan dengan Yesus tetaplah menjadi bagian dari pengalaman hidup iman kita sebagai orang Katolik.
b. Yesus mengajar kita bukan hanya dengan sabda-Nya tetapi juga dengan tindakan-Nya dan peristiwa hidup-Nya. Sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus menjadi renungan yang memberi banyak inspirasi. Peristiwa akhir hidup Yesus itu menjadi bukti nyata dari apa yang diajarkan-Nya tentang kasih: “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:12-13). Dia bukan hanya pengajar tentang hukum kasih tetapi juga teladan dari kasih sejati.