Romo FX. Suyamta Kirnasucitra, Pr

yamtaDi awal bulan September tahun 2013 lalu, Gereja Paroki Santa Perawan Maria di Fatima Sragen kembali disemarakkan oleh kehadiran warga baru, seorang pria lajang yang penuh semangat. Siapakah dia? Ia adalah Romo Fransiscus Xaverius Suyamta Kirnasucitra. Romo yang biasa dipanggil Romo Suyamta (dibaca: Suyamto) ini, lahir di Bantul pada tanggal 21 Desember 1960. Beliau ditahbiskan sebagai Imam Keuskupan Agung Semarang di Kapel Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan, Yogyakarta, pada tanggal 22 Februari 1990 bersama dua orang temannya yang lain. Romo Yamta hadir di tengah-tengah kita menggantikan Romo Yohanes Ari Purnomo yang ditugaskan untuk menjadi misionaris domestik di Keuskupan Ketapang, Kalimantan Barat.

Romo yang pada masa kecilnya senang menari Jatilan ini, memiliki motto hidup yang berdasar pada kitab Yeremia bab 18. Beliau menjelaskan, “Allah adalah tukang periuk. Aku ini gerabahnya, buatan tangan-Nya. Pengalaman pertobatan adalah proses yang menyakitkan. Aku dibentuk oleh Allah sendiri, melalui pengalaman-pengalaman pertobatan. Itulah rasanya diulek seperti tanah liat.”

Pengalaman pastoral sebagai seorang Imam telah dimulai Romo Yamta sejak bulan Maret 1990 di Paroki Kalasan, Yogyakarta. Pada bulan September 1992, beliau diutus untuk berkarya di Paroki Purbowardayan, Surakarta. Berikutnya, per Agustus 1995, beliau bertugas di Paroki Kebondalem, Semarang. Dari kota di daerah utara pulau Jawa, beliaupun diutus untuk berkarya di Paroki Wates, Yogyakarta, pada Juli 1999. Pada bulan Agustus 2003, beliau diutus untuk berkarya di Paroki Kartasura; dan, bertugas di Paroki Kumetiran, Yogyakarta, pada bulan Juli 2007, sampai beliau mendapatkan perutusannya yang baru untuk berkarya di Paroki Sragen per Agustus 2013. Selamat datang di paroki tercinta ini. Semoga Tuhan selalu memberkati hidup dan karya pelayanan Romo Suyamta.***