B. B. M: Bulan, Bintang & Matahari

Oleh: Rm. Jost Kokoh Prihatanto
Salve, Regina, Mater misericordiae!
Vita, Dulcedo, et Spes nostra! Salve.
Salam, ya Ratu, ya Bunda Kerahiman!
Hidup, penghiburan dan pengharapan kami. Salam.

Ada sepenggal guritan cerita pendek dari wiracarita Ramayana yang sudah dikenal-kental sekian puluh abad yang lalu. Epik ini datang dari budaya Hindu di kaki pegunungan Himalaya ke Pulau Jawa yang lalu berkembang-mekar menjadi bagian kultur Jawa melalui media wayang yang penuh jiwa. Di situ dikatakan bahwa Rama Wijaya (yang tak lain adalah titisan Dewa Wisnu) sedang memberikan petuah bestari kepada Raja Alengka yang baru, Gunawan Wibisana. Adapun isi petuah bestari itu berupa delapan butir kata sebagai delapan pondasi dalam gulat geliat kehidupan. Tiga kata diantaranya, yakni: Bulan, Bintang dan Matahari (Bdk. Wahyu 12:1, “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang PEREMPUAN berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya”).
Tercandra, tiga sifat dasar dari Bulan, Bintang dan Matahari, yakni:
1. Berdaya guna:
Mereka memberi faedah atau manfaat kepada orang lain. Bulan (Chandra): menciptakan suasana teduh, damai, cinta, sabar dan indah. Bintang (Kartika): memberi arah atau menjadi teladan. Matahari (Surya): menerangi, memberi kehangatan, menghidupkan dan menumbuhkan. Bukankah Maria juga berguna bagi orang lain? Rahimnya berguna bagi Yesus lahir. Permintaannya berguna untuk terjadinya mukjizat yang pertama di desa Kana. Doanya juga berguna bagi banyak umat yang “sedang kekurangan anggur”: letih, lesu dan berbeban berat. Dalam bahasa yang merupakan kalimat terakhir St.Bernadeth Soubiroes, sebelum dia meninggal di hari Paskah 1879, “Voyes comme’est simple, il suffit d’aimer” (lihatlah bagaimana sederhananya semua yang kau lakukan untuk mencintai).
2. Berdaya makna:
Donato ergo sum (Aku berbagi maka aku ada!). Bukankah dengan berbagi, hidup kita menjadi lebih bermakna? Lihatlah “Bulan, Bintang, dan Matahari”: Setiap hari mereka setia berbagi bagi sesama dan semesta. Setiap pagi, matahari berbagi sinar dan kehangatannya. Setiap malam, bintang juga tetap setia berbagi kerlap-kerlipnya, dan bulan juga setia berbagi sinarnya untuk menerangi bumi. Bukankah Bunda Maria juga selalu hadir untuk berbagi cahaya sejak awal mula Gereja? Ia setia ada pada saat Kabar Sukacita ketika dalam kesediaannya yang bersahaja, dengan hati yang tulus murni, mengizinkan Putra Allah mengambil daging dalam rahimnya yang perawan. Bunda Maria juga setia ada di bawah kaki salib, sementara Putranya, Juruselamat kita, menebus dunia sebagai bagian dari rencana keselamatan Allah. Di sana ia ditunjuk untuk menjadi ibu dari mereka semua yang dihantar kepada hidup melalui wafat Putra tunggalnya (Yoh 19:26-27). Bahkan, pada hari raya Pentakosta, ketika misi apostolik Gereja dimulai, ketika para murid kehilangan Yesus, Bunda Maria setia berbagi kehadiran dan doa bersama mereka. Jelasnya, Maria senantiasa menjadi “PAM – Pupuk yang menyuburkan, Air yang menyegarkan dan Matahari yang menghangatkan.” Ia berbagi kasih untuk segarkan yang lelah, tenangkan yang resah, lipurkan yang sendu dan hidupkan yang layu. Ia adalah gejala yang menakjubkan. Di tengah segala macam budaya patriarki, Maria menjulang dan bercahaya. Tak satu bintang pun meredupkannya. Ia terus hadir tanpa banyak bicara, mengiringi perjalanan Gereja dengan segala ruwet renteng-nya.
3. Berdaya tahan:
Bulan, Bintang, dan Matahari tidak diskriminatif. Matahari tidak hanya menghangatkan bangsa-bangsa tertentu, bulan dan bintang tidak hanya menyejukkan agama-agama tertentu. Meski diabaikan dan tidak diperhatikan, dilupakan dan diluputkan serta kadang dianggap menyilaukan, mereka tetap terus bersinar-pendar. Meski kadang terluka dan kecewa, bukankah Maria juga terus bersinar dan tidak tertutup hanya bagi hati orang Nazaret di kampung halamannya atau hati bangsa Israel tanah airnya? Maria terbuka hati dan tangannya bagi siapa saja. Bagi Michaelangelo dengan Pieta-nya, bagi Andre Manika dengan Negeri di Awan-nya, bagi Piyu-Padi dengan Mahadewi-nya, bagi The Beatles dengan Let It Be-nya, dan pastinya bagi semua umat Sragen di Bumi Sukowati dengan segala harapan dan suka dukanya. Ex astris, scientia venit, dari bintang-bintang, datanglah pengetahuan!
“Bulan, Bintang dan Matahari!” Inilah salah satu dari pelbagai keutamaan yang bisa kita berikan kepada seorang wanita utama bernama Maria yang kerap berjubah biru dalam wajah pasrah-haru. Ia sungguh “berguna, bermakna dan berdaya tahan”: O clemens, o pia, o dulcis Virgo Maria. Ia Perawan yang rahim, penuh belas kasihan dan manis. Ia adalah nama yang saat disebutkan tak mengenal akhir, de Maria numquam satis! Lebih dari dibicarakan, melainkan diteladani, diikuti, diejawantahkan, dibumikan secara aktual saat ini atau sampai nanti saat Putranya datang lagi. Bunda Maria adalah segalanya, dan segala kekatolikan terkait dengan Bunda Maria, bukan?
Maria memang hanya mempunyai satu gagasan. Satu-satunya gagasan, sederhana tapi luhur tiada hingganya, yaitu: Maria selalu “memikirkan” Tuhan. Ia “memikirkan Tuhan” lewat, dalam dan bersama Yesus. Lewat jalan biasa inilah, tanpa mukjizat dan tanpa ekstase, Maria telah berjalan untuk memandu kita menuju surga karena ia menjadi “tanda yang kelihatan dari rahmat yang tak kelihatan” (the visible sign of an invisible grace).
Akhirnya, bersama HUT Paroki St Maria Fatima Sragen yang ke-56, semoga kita juga bisa semakin disadarkan sekaligus disandarkan untuk selalu menempatkan diri sebagai anak yang membutuhkan ibu, sekaligus terus belajar menjadi seperti “Bulan, Bintang dan Matahari”, yang berguna, bermakna dan berdaya tahan di tengah ruwet renteng-nya hidup harian kita. Tuhan jelas membutuhkan kita untuk mengubah dunia dan gereja menjadi lebih baik. To make a Better World. Seperti idaman Michel Jackson. “Heal the world, make a better place, for you and for me and the entire human race.” Ya, semoga demikian adanya, seperti kutipan dari Kitab Perjanjian Lama, Kejadian 1:3, Fiat Lux, Jadilah Terang.
Ibu, murnikan suaraku
dengan sertamu
dalam angin beku
yang menguji danau
menjadi kristal
Ibu, murnikan suaraku
dengan doamu
dalam tanah debu
yang menguji raga
menjadi Manusia
Ibu, murnikan suaraku
dengan teladanmu
dalam lidah api
yang menguji logam
menjadi mulia
Ada sepenggal guritan cerita pendek dari wiracarita Ramayana yang sudah dikenal-kental sekian puluh abad yang lalu. Epik ini datang dari budaya Hindu di kaki pegunungan Himalaya ke Pulau Jawa yang lalu berkembang-mekar menjadi bagian kultur Jawa melalui media wayang yang penuh jiwa. Di situ dikatakan bahwa Rama Wijaya (yang tak lain adalah titisan Dewa Wisnu) sedang memberikan petuah bestari kepada Raja Alengka yang baru, Gunawan Wibisana. Adapun isi petuah bestari itu berupa delapan butir kata sebagai delapan pondasi dalam gulat geliat kehidupan. Tiga kata diantaranya, yakni: Bulan, Bintang dan Matahari (Bdk. Wahyu 12:1, “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang PEREMPUAN berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya”).

Tercandra, tiga sifat dasar dari Bulan, Bintang dan Matahari, yakni:

1. Berdaya guna:
Mereka memberi faedah atau manfaat kepada orang lain. Bulan (Chandra): menciptakan suasana teduh, damai, cinta, sabar dan indah. Bintang (Kartika): memberi arah atau menjadi teladan. Matahari (Surya): menerangi, memberi kehangatan, menghidupkan dan menumbuhkan. Bukankah Maria juga berguna bagi orang lain? Rahimnya berguna bagi Yesus lahir. Permintaannya berguna untuk terjadinya mukjizat yang pertama di desa Kana. Doanya juga berguna bagi banyak umat yang “sedang kekurangan anggur”: letih, lesu dan berbeban berat. Dalam bahasa yang merupakan kalimat terakhir St.Bernadeth Soubiroes, sebelum dia meninggal di hari Paskah 1879, “Voyes comme’est simple, il suffit d’aimer” (lihatlah bagaimana sederhananya semua yang kau lakukan untuk mencintai).

2. Berdaya makna:
Donato ergo sum (Aku berbagi maka aku ada!). Bukankah dengan berbagi, hidup kita menjadi lebih bermakna? Lihatlah “Bulan, Bintang, dan Matahari”: Setiap hari mereka setia berbagi bagi sesama dan semesta. Setiap pagi, matahari berbagi sinar dan kehangatannya. Setiap malam, bintang juga tetap setia berbagi kerlap-kerlipnya, dan bulan juga setia berbagi sinarnya untuk menerangi bumi. Bukankah Bunda Maria juga selalu hadir untuk berbagi cahaya sejak awal mula Gereja? Ia setia ada pada saat Kabar Sukacita ketika dalam kesediaannya yang bersahaja, dengan hati yang tulus murni, mengizinkan Putra Allah mengambil daging dalam rahimnya yang perawan. Bunda Maria juga setia ada di bawah kaki salib, sementara Putranya, Juruselamat kita, menebus dunia sebagai bagian dari rencana keselamatan Allah. Di sana ia ditunjuk untuk menjadi ibu dari mereka semua yang dihantar kepada hidup melalui wafat Putra tunggalnya (Yoh 19:26-27). Bahkan, pada hari raya Pentakosta, ketika misi apostolik Gereja dimulai, ketika para murid kehilangan Yesus, Bunda Maria setia berbagi kehadiran dan doa bersama mereka. Jelasnya, Maria senantiasa menjadi “PAM – Pupuk yang menyuburkan, Air yang menyegarkan dan Matahari yang menghangatkan.” Ia berbagi kasih untuk segarkan yang lelah, tenangkan yang resah, lipurkan yang sendu dan hidupkan yang layu. Ia adalah gejala yang menakjubkan. Di tengah segala macam budaya patriarki, Maria menjulang dan bercahaya. Tak satu bintang pun meredupkannya. Ia terus hadir tanpa banyak bicara, mengiringi perjalanan Gereja dengan segala ruwet renteng-nya.

3. Berdaya tahan:
Bulan, Bintang, dan Matahari tidak diskriminatif. Matahari tidak hanya menghangatkan bangsa-bangsa tertentu, bulan dan bintang tidak hanya menyejukkan agama-agama tertentu. Meski diabaikan dan tidak diperhatikan, dilupakan dan diluputkan serta kadang dianggap menyilaukan, mereka tetap terus bersinar-pendar. Meski kadang terluka dan kecewa, bukankah Maria juga terus bersinar dan tidak tertutup hanya bagi hati orang Nazaret di kampung halamannya atau hati bangsa Israel tanah airnya? Maria terbuka hati dan tangannya bagi siapa saja. Bagi Michaelangelo dengan Pieta-nya, bagi Andre Manika dengan Negeri di Awan-nya, bagi Piyu-Padi dengan Mahadewi-nya, bagi The Beatles dengan Let It Be-nya, dan pastinya bagi semua umat Sragen di Bumi Sukowati dengan segala harapan dan suka dukanya. Ex astris, scientia venit, dari bintang-bintang, datanglah pengetahuan!
“Bulan, Bintang dan Matahari!” Inilah salah satu dari pelbagai keutamaan yang bisa kita berikan kepada seorang wanita utama bernama Maria yang kerap berjubah biru dalam wajah pasrah-haru. Ia sungguh “berguna, bermakna dan berdaya tahan”: O clemens, o pia, o dulcis Virgo Maria. Ia Perawan yang rahim, penuh belas kasihan dan manis. Ia adalah nama yang saat disebutkan tak mengenal akhir, de Maria numquam satis! Lebih dari dibicarakan, melainkan diteladani, diikuti, diejawantahkan, dibumikan secara aktual saat ini atau sampai nanti saat Putranya datang lagi. Bunda Maria adalah segalanya, dan segala kekatolikan terkait dengan Bunda Maria, bukan?
Maria memang hanya mempunyai satu gagasan. Satu-satunya gagasan, sederhana tapi luhur tiada hingganya, yaitu: Maria selalu “memikirkan” Tuhan. Ia “memikirkan Tuhan” lewat, dalam dan bersama Yesus. Lewat jalan biasa inilah, tanpa mukjizat dan tanpa ekstase, Maria telah berjalan untuk memandu kita menuju surga karena ia menjadi “tanda yang kelihatan dari rahmat yang tak kelihatan” (the visible sign of an invisible grace).
Akhirnya, bersama HUT Paroki St Maria Fatima Sragen yang ke-56, semoga kita juga bisa semakin disadarkan sekaligus disandarkan untuk selalu menempatkan diri sebagai anak yang membutuhkan ibu, sekaligus terus belajar menjadi seperti “Bulan, Bintang dan Matahari”, yang berguna, bermakna dan berdaya tahan di tengah ruwet renteng-nya hidup harian kita. Tuhan jelas membutuhkan kita untuk mengubah dunia dan gereja menjadi lebih baik. To make a Better World. Seperti idaman Michel Jackson. “Heal the world, make a better place, for you and for me and the entire human race.” Ya, semoga demikian adanya, seperti kutipan dari Kitab Perjanjian Lama, Kejadian 1:3, Fiat Lux, Jadilah Terang.

Ibu, murnikan suaraku
dengan sertamu
dalam angin beku
yang menguji danau
menjadi kristal

Ibu, murnikan suaraku
dengan doamu
dalam tanah debu
yang menguji raga
menjadi Manusia

Ibu, murnikan suaraku
dengan teladanmu
dalam lidah api
yang menguji logam
menjadi mulia