Semakin Peduli Pada Sesama Dan Alam Semesta

Oleh: C. Dwi Atmadi – Pada tanggal 2 September, Paroki Sragen genap berusia 56 tahun. Berdasarkan Akta Notaris yang dibuat 56 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 2 September 1957, dibentuklah PGPM (Pengurus Gereja Papa Miskin) Sragen yang perdana. Hal ini merupakan tonggak awal berdirinya Paroki Santa Perawan Maria di Fatima Sragen. Memasuki usia ke-56, apa yang akan kita perbuat ke depan demi perkembangan dan kemajuan Gereja Katolik di Sragen? Tentu saja ini menjadi permenungan kita sebagai umat Allah di Paroki Sragen. Berbekal tema HUT  Paroki Sragen “Meneladan Bunda Maria di Fatima untuk Beriman Semakin Mendalam yang Terwujud di dalam Relasi dengan Sesama dan Alam Semesta”. Inilah beberapa kesaksian warga Sragen yang patut kita simak:


1.  Urip iku Urup

“Hidup itu nyala! Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentulah akan lebih baik.” Itulah filosofi hidup seorang umat Katolik bernama Yohanes Fidelis Sukasno, ketua DPRD kota Solo selama dua periode terakhir, yang splendor veritatis – penuh dengan warna warni pelangi kemanusiaan.

Figur dan tuturnya down to earth, jauh dari sosok seorang pejabat dan tidak tersilaukan oleh gilang gemilang harta dan kekuasaan. Ia lebih memilih untuk tinggal di rumahnya yang coreng moreng di tengah perkampungan padat penduduk di kawasan Gandekan, Jebres daripada di rumah dinasnya yang mentereng. Ia mengakui bahwa dengan tinggal dan tetap berada di tengah perkampungan padat penduduk, ia selalu diingatkan untuk benar-benar dekat dan bersahabat dengan jerit tangis dan aspirasi banyak rakyat yang diwakilinya dan bahkan uang gaji bulanannya sebagai kerap digunakannya untuk membantu pelbagai karya sosial dan kebutuhan masyarakat di sekitarnya.

Selain rutinitas hariannya sebagai ketua DPRD Solo dan sebagai Ketua Badan Anggaran dan Ketua Badan Musyawarah, ia juga aktif menjadi pengurus beberapa kelompok di kota Solo, seperti ketua Komite Sepeda Indonesia (KSI), ketua Keluarga Alumni Universitas Slamet Riyadi (Ganisri) serta ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kota (LPMK), ketua Persatuan Dalang Indonesia (Pepadi) sekaligus ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) di kota Solo ini. Ia menggalakkan adanya program multikultur serta parade atau kirab budaya seperti Solo Batik Carnival (SBC) yang sudah berlangsung lima tahunan ini, sehingga kecintaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan penghargaan terhadap keaneka-ragaman budaya dan agama sungguh-sungguh mendapat ruang yang cukup terbuka di kota Solo dan sekitarnya

.

2. Sapaan Seorang Sahabat untuk Para Sahabat

“Terhadap musuh siapa pun mereka diajarkan untuk tidak pantang menyerah. Akan tetapi, malam ini, sekali lagi kukatakan bahwa pada malam ini, Anda melihat bagaimana mereka merunduk rendah di hadapan Sang Bunda Penolong Abadi mereka. Ya, Bunda Maria.” (Ibu Maria di Lingkungan Mojosari Jetis)
3. Titiplah Namaku dalam Doamu

Foto dari group Support the Priests and the Catholic Church, menjadi sumber inspirasi bagiku untuk menulis di penghujung malam ini. Kawan, mereka berjuang untuk menjaga negara dan tanah air tercinta. Mereka berada di bawah komando, sama seperti yang pernah dikatakan oleh Perwira Romawi kepada Yesus: “Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya” (Luk 7:8). Ya, mereka selalu berada di garda depan untuk menjaga keamanan kita semua, bahkan bila saatnya tiba maka mereka berani memberi nyawa mereka untuk tanah air, untuk sesama anak bangsa yang mereka cintai.

Malam ini kuajak para sahabat untuk berterima kasih kepada mereka lewat untaian doa demi kesehatan dan keselamatan mereka. Ingatlah bahwa setiap saat mereka diutus ke medan laga, istri dan anak-anak mereka selalu berharap bahwa itu bukanlah saat terakhir mereka bertemu dengan suami dan ayah mereka. (Bp. Suparman Lingkungan Jenar)
4. Semuanya karena Cinta Tuhanku

Menemukan foto dua orang kudus, Paus Yohanes Paulus II dan Bunda Teresa dari Kalkuta, terdengar bisikkan suara mereka mengalun lembut di dalam kalbuku. Kupandang lagi foto mereka, dan tak terasa kata-kata ini mengalir menjadi sebuah tulisan pendek yang kukirimkan kepadamu, para sahabat, di penghujung malam ini: “Karena cinta-Nya kami lahir; untuk dan demi cinta-Nya kami hidup dan bersaksi; dan, dalam cinta-Nya kami telah pergi kepada-Nya.”

Lalu, malam ini baiklah kita bertanya kepada diri: untuk siapa dan apa, Anda dan aku masih hidup? Rasul Paulus mengingatkan engkau dan aku: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah” (Flp 1:21-22).

Apakah buah-buah yang telah Anda hasilkan kemarin dan hari ini? Esok masih menjadi kesempatan untuk menghasilkan buah-buah baik sebagai ungkapan iman kekatolikanmu, kawan!
5. Allah Menginginkan Semua Orang Selamat, tapi …

Anda mungkin bertanya: Mengapa aku harus menghadiri Misa esok? Aku akan memberi jawaban kepadamu: “Allah menginginkan engkau selamat, tetapi bagaimana engkau dapat selamat? Injil dalam Misa esok akan menjelaskan kepadamu. Karena itu, bila engkau tidak menghadirinya, engkau akan kehilangan cara yang penting untuk menggapai keselamatanmu.”

Sabar Halim dalam renungannya mengatakan: “Semua harta duniawi yang kita miliki, sekalipun dikumpulkan dari seluruh penjuru dunia, tidak mampu membayar hutang dosa kita kepada Allah Pencipta. Karena itu, Ia sendiri datang membayar hutang dosa kita itu dengan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusannya.” Wow, kita yang berhutang, tetapi Yesuslah yang membayarnya.

Bukankah engkau sungguh berarti di hati-Nya? Selanjutnya Sabar Halim menambahkan:”Allah menginginkan setiap orang selamat: baik raja maupun rakyat, kaya atau miskin, besar atau kecil, maupun mereka yang mencintai uang dan menjadi hambanya. Kita semuanya diberikan tawaran keselamatan dari Allah. Namun, satu hal yang pasti adalah bahwa kita tidak bisa menyembah dua tuan, seperti tertulis dalam Injil esok. Melalui rahmat-Nya kita harus memilih untuk diselamatkan.”

Karena itu, kuingatkan kepada para sahabat: Kawan, keselamatan adalah tawaran Allah atau apa yang kita sebut RAHMAT. Tanggapan saudara dan saya terhadap tawaran itu adalah apa yang kita sebut sebagai IMAN. Yang tak kalah penting dari itu, Iman itu harus nyata atau berbuah atau apa yang kita sebut sebagai PERBUATAN BAIK.

Rasul Yakobus mengingatkan kita semua: “Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati” (Yak. 2:14-26). Matius menulis dengan indah kata-kata Sang Juru Selamat: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam kerajaan sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 7:21). Kehendak Bapa itu adalah ketika kita mau melakukan “Perbuatan-perbuatan kecil dengan cinta yang besar”, seperti ungkapan Beata Teresa dari Kalkuta. Tuhan memberkati para sahabat.

Semoga senantiasa menjadi berkat bagi sesama, masyarakat dan alam semesta.