Waktu Untuk Menjadi Sembuh

Oleh: Frater  Rony Suryo N –Di suatu siang, saya menonton teve dan menemukan suatu acara televisi menarik yang berjudul Bondi Vet. Acara impor dari luar negeri ini menceritakan seorang dokter hewan yang berjuang bersama timnya untuk menyelamatkan nyawa hewan-hewan yang sakit dan terlantar. Sang dokter muda yang tampan dan cerdas itu dengan sigap menangani kasus-kasus kesehatan yang diderita oleh para pasiennya: anjing, kucing, bebek, kura-kura, kuda, ular, dll. Semua pasiennya adalah hewan, tapi ia perlakukan secara manusiawi. Lebih heran lagi ketika saya menonton salah satu episode yang menunjukkan usaha pasangan suami istri yang berusaha menyelamatkan nyawa sepuluh anak bebek yang tersesat dan terjebak di tengah-tengah jalan tol yang penuh dengan kendaraan lalu-lalang. Setelah upaya penyelamatan selesai, mereka membawanya ke rumah sakit hewan untuk mengecek apakah anak-anak bebek tersebut mengalami luka. Adegan paling dramatis adalah ketika pasutri tersebut harus berpisah dengan kesepuluh anak bebek tersebut. Si istri menangis sambil mengucapkan salam perpisahan.

Wow! Ironis sekali melihat hal ini, sementara banyak manusia yang -mengutip istilah yang dipakai oleh Rm. Sindhunata- mengalami bestialisasi. Bestialisasi berakar kata dari bahasa Latin bestia, yang berarti hewan. Kini semakin banyak manusia yang seolah hilang kemanusiaannya dan lebih menuruti naluri hewaninya. Korupsi, menurut Rm. Sindhunata, adalah salah satu contoh bestialisasi atau pembinatangan manusia. Korupsi telah menggerogoti nurani manusia dan menjadikan manusia sebagai pemangsa bagi sesamanya. Benarlah itu kata pepatah Latin, homo homini lupus, bahwa manusia menjadi serigala bagi sesamanya.

Media massa saat ini menyajikan kepada kita berita-berita memprihatinkan mengenai kerusakan bumi kita ini. Kerusakan bumi bukan hanya kerusakan bumi sebagai sebuah planet, tetapi juga kerusakan seluruh elemen yang ada di dalamnya. Krisis ekologi mengancam kita dalam berbagai bentuk: banjir, krisis air, hutan gundul, polusi udara, pembuangan sampah, musim yang tidak menentu, dll. Di sisi lain, ada pula permasalahan kemanusiaan yang lain, seperti perang, korupsi, pembunuhan, keserakahan, penindasan, dll. Bencana alam pun kini kita sadari bukan lagi murni karena peristiwa alam sendiri, tetapi juga karena campur tangan manusia. Manusia mulai mencari siapa penyebabnya, tapi lupa untuk mencari siapa yang sanggup mengatasinya.

Sebagai orang Katolik, kita dituntut untuk ambil bagian dalam keprihatinan dunia: alam sekitar maupun sesama manusia. Gereja melalui Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini artikel 1 memberikan kita inspirasi, bahwa kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan dunia merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Iman kepada Allah perlu diwujudnyatakan dalam tindakan konkret yang dapat memberikan sumbangan untuk semakin baiknya kehidupan bersama dan alam sekitar.

Tantangan bagi kita adalah menghadirkan Gereja secara signifikan dan relevan di tengah permasalahan-permasalahan tersebut. Paul F. Knitter secara tegas mengatakan bahwa sebuah agama harus mengembangkan kasih kepada sesama. Jika tidak demikian, maka ada yang tidak berfungsi dari agama tersebut. Permasalahan utama yang dihadapi oleh agama-agama adalah masalah kemanusiaan dan lingkungan. Satu permasalahan yang dihadapi oleh semua agama adalah penderitaan. Saat ada agama yang menolak tantangan penderitaan ini, agama tersebut akan kehilangan kekuatan dan relevansinya. Singkat kata, untuk apa agama tersebut masih dianut? Pertanyaan bagi kita, apakah agama Katolik telah memberikan sumbangan untuk semakin baiknya kehidupan sesama manusia dan alam?

Salah satu usulan sikap yang bisa kita ambil adalah mengembangkan sisi feminim kita sebagai manusia, yaitu sikap peduli dan merawat (culture of caring). Jika Gereja memang disebut sebagai ‘Bunda Gereja’, maka Gereja memang perlu mengembangkan sisi kepedulian ini. Kata care berasal dari bahasa Latin cura yang digunakan dalam relasi cinta dan persahabatan. Di dalamnya terkandung makna kepekaan, pengabdian, keprihatinan serta kegelisahan akan yang dicintai, atau sesuatu yang disukai. Makna-makna ini muncul dari kenyataan bahwa orang yang dicintai itu sangat bermakna bagi orang yang mencintai. Orang yang mencintai ingin menjadi bagian dari orang yang dicintainya. Kepedulian tidak akan menghasilkan perubahan apa-apa, tanpa tindakan nyata. Maka, dibutuhkan suatu budaya (culture: Inggris; cultura: Latin). Dengan budaya, kita membentuk diri dan alam di sekitar kita. Dengan begitu, kepedulian pun tidak hanya berhenti sebagai sikap, tetapi sampai pada tindakan nyata.

Kita sekarang merasakan musim yang tidak menentu: musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya dan hujan yang tidak menenal musim, sehingga membingungkan gareng pung yang ingin berbunyi. Saya tidak tahu, apakah pada akhirnya musim yang tidak menentu ini akan menyebabkan punahnya gareng pung. Bisa saja mereka saling berkelahi karena berbeda pendapat mengenai kapan mereka harus menyanyi. Pada akhirnya, sebagai manusia yang beragama Katolik, marilah kita mengembangkan kepedulian terhadap sesama dan alam sekitar. Kita perlu menyediakan waktu untuk merawat bumi (sesama dan alam sekitar) ini. Bumi ini perlu waktu untuk menyembuhkan diri, setelah sekian lama kita lukai.