ALLAH: Alfa Dan Omega, Awal Dan Akhir!

Oleh Rm. F. X. Suyamta, Pr

api-pencucianPengantar

Hidup bahagia menjadi dambaan setiap orang, tetapi tidak semua orang mempunyai gambaran yang sama tentang  kebahagiaan.   Ada pendapat yang mengatakan bahwa bahagia itu disamakan dengan hidup serba kecukupan, tidak ada masalah dan tidak kurang suatu apapun. Siapa yang tidak ingin kaya, punya tempat tinggal (rumah), ada kendaraan, anak isteri menyenangkan, pekerjaan lancar, teman banyak, apa-apa tersedia dan kelak kalau mati masuk surga? Seperti yang diimpikan oleh banyak anak muda: Lahir dari keluarga kaya, muda foya-foya, tua kaya raya, kalau mati masuk surga! Hahaha, orang bilang itu uakeh tunggale (banyak macamnya-red.), banyak yang mau! Persoalannya adalah pernahkah orang belajar untuk mencari tahu, bagaimana bisa mendapatkan semuanya itu? Semua orang tentu tahu peribahasa ini: ”hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai”, ”berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Tidak ada yang gratis dalam hidup ini! Untuk mencapai sukses orang butuh usaha keras, melalui proses dan mengikuti berjalannya waktu. Maka, segala usaha untuk memaksakan diri, bahkan dengan cara kekerasan untuk menjadikan diri kaya hanya akan dijawab dengan kekacauan (tindak kejahatan, korupsi) dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat.

Bahayanya Sekularisme

Sebuah dokumen penting ditulis oleh Paus Pius XI, yaitu Quas Primas (1925). Ensiklik ini dikeluarkan untuk menanggapi munculnya gejala materialisme, atheisme, dan sekularisme. Intinya, Bapa Suci mengajak seluruh umat Kristiani untuk menempatkan Kristus di dalam hidup masing-masing sebagai Raja Semesta Alam. Arus sekularisme cenderung menganggap Allah tidak ada. Jika Kristus menjadi Raja Semesta Alam, berarti Dia merajai manusia sebagai individu, keluarga, komunitas, pemerintah dan bangsa-bangsa. Ensiklik ini dikeluarkan ketika penghormatan terhadap Ekaristi, terhadap Kristus dan Gereja, sedang melemah.

Dalam hidup ini manusia sering memperhitungkan untung rugi terhadap pengorbanan yang dilakukan. Dia berpikir: Jika saya memberi, saya akan kekurangan.  Bagaimana mengatasinya? Atau, bagaimana kalau ternyata saya ditipu? Tapi sadarkah bahwa setiap kita memberi, ada sepercik suka cita di hati? Sungguh tidak bisa dibayangkan, apa yang terjadi bila dalam hidup bersama tidak ditemukan cintakasih, pelayanan dan pengorbanan. Orang bisa hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, apalagi tidak ada sesuatu yang berarti kecuali materi dan segala hal yang berbau duniawi. Pernah ada umat yang mengajukan usul kepada Bapak Uskup, agar semua imam itu digaji saja. Harapannya ialah supaya mereka bisa bekerja dengan lebih baik dan bersemangat. Apa jawaban diperoleh dari Bapak Uskup? Beliau berkata: ”Memang tidak ada uang untuk menggaji para imam, tetapi kalau semua hanya dihargai dengan uang, lalu dimanakah letak dedikasi, pengabdian, dan pengorbanan? Bukankah hal itu jauh lebih berarti dan berdaya daripada uang? Mother Teresa pernah berkata: “Lakukan apa yang menjadi bagianmu, dan jangan berpikir apa yang akan kau dapat, bila ingin memberi, lakukan saja karena semuanya akan kembali kepadamu juga”. Tuhan itu tahu apa yang harus dilakukan, tidak usah didikte, semuanya akan terjadi dan indah pada waktunya!

Aktualitas Iman

Injil memberikan gambaran tentang apa yang akan terjadi pada akhir jaman: Anak Manusia akan menjadi hakim bagi semua bangsa, dan bahwa mereka yang telah berbuat baik kepada-Nya akan mendapat pahala, sedangkan yang tidak punya kepedulian akan dihukum. Banyak orang tidak menyadari bahwa perlakuan kepada salah seorang yang paling hina sama dengan perbuatan yang dilakukan terhadap-Nya. Kisah yang ditampilkan oleh penginjil Matius (Mat 25, 31-46) ini tidak dimaksudkan untuk memberi tahu apa yang akan terjadi pada akhir jaman. Ini bukan pengetahuan mistik tentang akhir zaman, tetapi sebuah pernyataan bahwa hidup di zaman sekarang ini ada hubungannya dengan zaman yang akan datang, sejauh orang mau menjadi “saudara” Yesus sekecil dan sehina apapun, sehingga orang lain akan selamat bila kita membiarkan diri menjadi jalan terang bagi mereka melalui perbuatan baik dan karya pelayanan sehari-hari. Jika orang lain melihat integritas diri kita niscaya mereka akan memperlakukan kita dengan baik dan memperoleh keselamatan. Jadi, bukan karena perbuatan baik mereka kepada kita yang menyebabkan mereka mendapat hadiah dan ganjaran dari Allah, tetapi karena mereka melihat kebaikan dalam diri kita dan menjadi percaya. Inilah maksud dari universalitas keselamatan, jadi tekanannya bukan pada soal berbuat baik untuk bisa mendapatkan ganjaran, tetapi justru ini merupakan panggilan sekaligus tantangan untuk mengikuti Yesus sebagai umat terpilih.

Kemurnian motivasi

Identifikasi Raja dengan kaum Kecil-Lemah-Miskin-Tersingkir-Difabel (KLMTD) dalam perumpamaan Injil  tentu saja mengejutkan mereka yang akan diadili. Mereka terkejut karena menolong dan memperhatikan kaum KLMTD sama dengan menolong Tuhan sendiri. Artinya, selama ini mereka melakukan kebaikan bukan karena identifikasi Tuhan di dalam KLMTD tetapi karena melihat bahwa orang-orang itu sungguh membutuhkan pertolongan. Dialog ini secara tidak langsung menunjukkan kemurnian motivasi orang-orang benar itu dalam berbuat baik. Sebaliknya terjadi pada kelompok di sebelah kiri Raja. Mereka tidak peduli dengan kaum KLMTD. Oleh karena itu, mereka terkejut karena tidak menolong kaum KLMTD sama dengan tidak peduli dengan sang Raja sendiri.

Tuhan Yesus menegaskan pesan perumpamaan eskatologis tersebut dengan menuntut kesediaan umat untuk saling mengasihi, memperhatikan dan memberi pertolongan. Raja sendiri kemudian mengatakan: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.”

Penutup

Ada kisah tentang seekor ulat dan pohon mangga: Seekor ulat yang kelaparan terdampar di tanah tandus. Dengan lemas ia menghampiri pohon mangga sambil berkata: “Aku lapar, bolehkah aku makan daunmu?”. Pohon mangga menjawab, “Tanah di sini tandus, daunku pun tidak banyak. Apabila kau makan daunku, nanti akan berlubang dan tidak kelihatan cantik lagi. Lalu aku mungkin akan mati kekeringan. Tapi baiklah, kau boleh naik dan memakan daunku. Mungkin hujan akan datang dan daunku akan tumbuh kembali”. Ulat naik dan mulai makan daun-daunan. Ia hidup di atas pohon itu sampai menjadi kepompong dan akhirnya berubah menjadi kupu-kupu yang cantik. Ia pun kemudian menyapa pohon mangga: “Hai pohon mangga, lihatlah aku sudah menjadi kupu-kupu. Terima kasih karena telah mengizinkan aku hidup di tubuhmu. Sebagai balas budi, aku akan membawa serbuk sari hingga bungamu dapat berbuah”.

Pohon mangga tidak mengharapkan sesuatu ketika membiarkan ulat memakan daun-daunnya. Namun, ulat tidak bisa tinggal diam ketika ada panggilan tugas menantang. Demikianlah hidup ini terasa lebih indah kalau orang berani peduli terhadap sesama. Akan terjadi hal-hal yang menakjubkan dan tidak pernah direncanakan sebelumnya. Sebab semua harus kembali kepada Allah, sumber dan tujuan hidup, Dialah awal dan akhir segala sesuatu. Berkah Dalem!