Arwah Orang Beriman

arrOleh: Ateng Haryanto – Kematian adalah sesuatu yang tidak terelakkan. Cepat atau lambat, entah dengan cara apapun, kita semua akan sampai ke sana. Saat Tuhan memanggil, dari debu akan kembali menjadi debu. Oleh karena itu, sebetulnya aneh kalau orang cenderung enggan membicarakan atau memikirkan tentang kematian, dan bahkan menganggap tabu pembicaraan itu. Bisa jadi, karena umumnya kematian di pandang sebagai suatu hal yang negatif: menakutkan, laksana bayang-bayang kekelaman. Padahal betapa pun kita enggan membicarakannya, toh memang harus kita hadapi; tidak mungkin tidak. Justru karena kematian itu pasti, maka kita perlu bersiap menghadapinya. Buat kita sendiri, paling tidak supaya bila saat itu tiba kita bisa menyambutnya dengan tenang dan hati lapang. Sedangkan buat orang-orang yang kita bisa tinggalkan, paling tidak supaya kita tidak malah menyulitkan mereka. Pernah terjadi, ada seorang ibu meninggal dunia, anak-anaknya kemudian malah bertengkar. Penyebabnya sepele, yang satu ingin jenasah ibu dikremasi, yang lain ingin dikubur. Masing-masing punya alasan dan berkeras dengan pendapatnya. Sang ibu sendiri tidak meninggalkan pesan apa-apa. Kita tentunya tidak ingin pergi dengan meninggalkan masalah! Karena itu, selagi mungkin persiapkanlah apa yang bisa dipersiapkan! Bicaralah terbuka, dan pikirkanlah dengan jernih! Lagi pula, membicarakan atau memikirkan kematian sebenarnya juga baik. Kita akan diingatkan bahwa hidup di dunia ini sangat terbatas, sehingga kita akan terdorong pula untuk memper-gunakannya dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Sebab kalau kita lalai, bisa meyesal kelak. Kita juga akan diingatkan bahwa orang-orang di sekeliling kita tidak selamanya ada bersama-sama kita, sehingga kita juga akan terdorong untuk menghargai mereka selagi ada waktu. Sebab segala sesuatu akan terasa berharga, kalau sudah tidak ada. Namun, kalau sudah tidak ada, ya terlambat! Iman Kristiani juga memandang kematian secara positif. Bukan sebagai tragedi yang harus diratapi dan disesali, tetapi sebagai kesempatan untuk memasuki kehidupan lain yang lebih sempurna. Bukan sebagai peristiwa yang menyeramkan, tetapi sebagai jalan untuk hidup bersama Kristus di rumah Bapa di Surga. Kematian dapat diibaratkan seperti orang yang membongkar kemahnya untuk mendirikan kemah baru di tempat lebih baik. Dalam perjalanan ke Yerusalem menjelang sengsara hingga wafat-Nya di kayu salib, kepada para murid yang menyertai-Nya, Tuhan Yesus berkata: “Janganlah gelisah hatimu, percayalah kepada Allah, percayalah juga pada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” (Yohanes 14:1-2) Ketika itu, rupanya para murid tengah diliputi dengan perasaan galau dan bimbang.Sekian tahun lamanya, mereka mengikuti Dia dengan harapan akan medapatkan kejayaan. Lha kok sekarang Sang Guru malah berbicara tentang salib. ‘Via dolorosa.’ Tentang penderitaan dan kematian-Nya. Begitu juga Rasul Paulus, dalam suratnya menulis: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan, tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: Aku ingin pergi dan diam bersama-sama Kristus – itu jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.” (Filipi 1:21-24) Surat Filipi boleh dibilang adalah surat Rasul Paulus yang sentimental. Bukan saja itulah masa-masa terakhir hidup Paulua. Sekalipun demikian, toh tidak ada nada gentar dan getir di sana. Yang ada adalah sikap optimis. Kematian memang bukan akhir segalanya. Betul, dengan kematian seluruh tugas di dunia ini selesai sudah. Titik! Tidak ada kesempatan ke dua. Seumpama seorang pelari yang mencapai garis finish. Namun, kematian juga adalah awal dari suatu kehidupan yang baru, dunia baru. Maka, marilah kita hadapi kematian bukan dengan wajah muram, hati pedih, dan pikiran suram, tetapi dengan iman, dan pengharapan. Bahwa, ada kehidupan lain yang lebih baik dan lebih sempurna menanti kita. Hidup di dunia adalah kesempatan untuk mengumpulkan bekal bagi kehidupan nanti. Saat kematian itulah masa menuai segala jerih lelah kita selama di dunia. Kalau kita sudah beriman sebenar-benarnya dan berusaha hidup sebaik-baiknya, mengasihi Tuhan dan sesama, kematian paling mengerikan sekalipun tidak usahlah kita takuti. Jadi, sebetulnya bagaimana kita mati itu bukan hal penting. Yang penting adalah bagaimana kita hidup sampai pada kematian kita!