Menjelang Lanjut Usia

kakekOleh : Petrus Sumar IndriantoMobilku berumur lebih dari 5 tahun dan telah menempuh perjalanan sejauh 63.000 kilometer lebih. Sebenarnya menurut ukuran normal, pemakaiannya tidak terlalu diforsir, apalagi hidup dikota kabupaten seperti Sragen ini. Walaupun demikian, mobil ini sudah mulai diganti ini ganti itu. Hari ini yang diganti sepasang shockbreaker belakang, tempo hari kampas rem, timingbelt, dan semua itu memakan biaya jutaan rupiah.

Seperti halnya mobil, manusia juga memerlukan perawatan. Saya yang memasuki usia setengah abad, harus berhati – hati dalam menjalani hidup. Berhati – hati dalam mengkonsumsi makanan, olahraga dan istirahat harus teratur. Tidak boleh seenaknya sewaktu masih muda. Saya pernah protes pada dokter langganan saya, pada saat itu menurut hasil laboratorium, kolesterol saya cukup tinggi, hingga dokter melarang saya mengkonsumsi makan – makanan kesukaan saya, misalnya semacam daging babi plus kulitnya, kepiting, durian, jeroan, sate buntel, gorengan dll pokoknya yang enak – enak menurut saya. “Dokter ketika masih muda saya boleh makan apa aja yang saya suka, tetapi masalahnya saya tidak bisa membelinya karena saya tidak punya uang. Sekarang saya punya uang dan bisa membeli makanan apa saja kesukaan saya  tetapi malah tidak boleh. Jadi kapan dong saya bisa makan enak?” Dokter tersebut cuma tertawa…

Itulah hidup, ketika kita boleh tetapi tidak bisa, sebaliknya kita bisa tetapi tidak boleh. Hidup kita melalui rentang waktu. Yang sudah kita lewati adalah masa lalu. Yang kita jalani adalah masa kini, dan yang kita hadapi adalah masa depan. Keadaan masa kini kita ditentukan oleh masa lalu kita. Dan, apa yang kita lakukan saat ini akan menentukan masa depan kita. Oleh karena itu berhati – hatilah menggunakan waktu, karena waktu yang kita lewati tidak bisa kembali lagi dan bisa mengulangnya. Dan, pukul 7 pagi kemarin berbeda dengan pukul 7 pagi hari ini. Kita pun berubah setiap saat, masalahnya apakah kita berubah menjadi lebih baik atau berubah menjadi lebih buruk.

Oleh karena itu, diusia dari setengah abad ini, saya menyadari bahwa saya telah banyak menyia – nyiakan waktu. Saya sekarang belajar menggunakan waktu dengan baik, karena waktu hidup saya terbatas, makin lama makin sedikit. Apa yang saya lakukan harus berguna dan bermanfaat buat saya sendiri maupun orang lain agar lebih baik. Pengalaman hidup salama lebih dari setengah abad ini seharusnya membuka mata iman saya, bahwa Tuhan menempatkan saya didunia ini untuk menjadi rekan kerja Allah demi terwujudnya manusia yang lebih baik secara jasmani maupun rohani. Memang, fisik semakin menua, namun dengan pengalaman yang semakin panjang seharusnya membuat saya semakin bijaksana untuk menggunakan hidup ini.

“Tuhan, mampukan saya unutuk hidup lebih bijaksana”

Selamat menjalani hidup dengan lebih bijaksana