Peringatan HPS (Hari Pangan Sedunia) di Gayam

DSC_0320Paroki (LENTERA) – Dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS) yang jatuh pada tanggal (16/10), Gereja Paroki Santa Perawan Maria di Fatima Sragen mengadakan Perayaan Ekaristi di kapel Gayam wilayah Sidoharjo pada tanggal (20/10) dengan mengambil tema :”RABUK, TOYA, SRENGENGE” ”Budaya Nglestantunaken Maneka Warni Tetuwuhan Tuwin Kewan Kangge Nyekapi Kabetahan Tetedhan Ingkang Ndayani Kasarasa” yang kemudian kalau diterjemahkan menjadi : Pupuk, Air, Matahari. Budaya melestarikan keanekaragaman Hayati dan Hewani untuk memenuhi kebutuhan pangan yang sehat. Perayaan tersebut sebagai agenda rangkaian kegiatan Panitia Ad Hoc HUT Paroki Hari Pangan Sedunia dan Penerimaan Sakramen Penguatan. Ekaristi dikemas dalam nuansa serba jawa ala petani termasuk para panitia Ad Hoc yang hadir dan mengenakan pakaian jawa. Mulai dari iringan musik gamelan dan lagu yang dipakai serba gending yang kemudian dipadukan dengan pakaian para petugas liturgi yang semua serba menampilkan bentuk kesederhanaan seorang petani jawa namun tetap sakral saat mengikuti Ekaristi.

Perayaan Ekaristi dimulai pukul 07.30 dipimpin oleh Romo Robertus Hardiyanta, Pr. dengan mengenakan pakaian adat Jawa. Prosesi pembukaan dimulai dengan terlebih dahulu diiringi gending ”Lir Ilir” Dalam homilinya Rm. Hardiyanta menegaskan beberapa pokok utama; Yang pertama, Yesus menjadi makanan dan memberi makan kepada manusia yaitu makanan yang menghidupkan atau memberi kehidupan kekal yakni dalam rupa Roti dan Anggur. Yang kedua, berdasarkan hasir survey mengatakan bahwa dari keseluruhan hidup manusia, doa menempati urutan terakhir dalam prioritas hidupnya. Di contohkan orang yang mendapatkan anugerah hidup 70 tahun, kegiatan tidur menempati urutan pertama  yakni selama 23 tahun. Atau sama dengan 33% hidupnya, yang kedua kerja menempati urutan kedua selama 16 tahun = 22,5 %, nonton TV selama 8 tahun = 11.4%, makan selama 6 tahun = 8.6%, bepergian selama 6 tahun = 8.6%, bersenang-senang selama 4,5% = 6.5, berpakaian selama 2 tahun = 28 dan berdoa selama 0.5 tahun atau hanya 0.7% dari keseluruhan hidup manusia selama 70 tahun. (Ad Hoc HPS) Sehingga banyak orang menganggap doa tidak terlalu penting untuk memberi jalan keluar pada saat manusia terkena masalah.

Romo Hardiyanta juga mengajak supaya kita tekun didalam doa sesuai ajaran Paus pada tahun iman. Selain itu, Romo juga memberi alasan kenapa gereja mau peduli dengan program dunia tersebut. Sehubungan dengan itu, Romo juga mengajak kita supaya ikut menjaga alam semesta terlebih lingkungan di sekitar kita.

Sebelum misa usai, Romo Hardiyanta berkenan mendoakan alat-alat pertanian. Hewan peliharaan,dan tanaman.  Selanjutnya Romo berkenan memberkati alat pertanian, tanaman gratis dan hewan peliharaan yang dimulai dari halaman gereja dan sampai dengan lapangan saat memberkati kambing dan sapi. Setelah Misa selesai dilanjutkan dengan acara ramah-tamah dengan para tamu undangan yaitu muspika, camat dan warga masyarakat sekitar. Selain itu diadakan pemotongan tumpeng oleh Romo Hardiyanta dan kemudian diberikan kepada Bp. Camat. Pada saat ramah-tamah camat sidoharjo Bp. Trilaksono juga berkenan memberikan sambutan tentang kegiatan HPS tersebut. Beliau mengajak kita untuk bersama – sama ikut menjaga alam semesta dan terlebih mampu bekerja sama demi terciptanya suatu kedamaian dan kemuliaan Tuhan. Pada akhir peringatan tersebut juga diadakan pesta umat secara meriah dengan semangat berbagi seperti pesan Romo Hardiyanta sehingga seluruh umat mendapat hak yang sama dan dapat menikmati secara merata. Proficiat buat kita semua