Dicari: seorang pemimpin

Oleh : Ibu Ateng Haryanto

leaderKetika kita bicara tentang “pemimpin”, ada banyak tokoh dalam Kitab Perjanjian Lama yang dapat menjadi contoh,terlepas dari segala kekurangan dan kelemahannya, sebut saja sebagai contoh: Musa, Yosua, Debora dan Gideon. Mereka semua adalah pahlawan di zamannya masing-masing.

Ada sebuah dongeng tentang seorang pemimpin yang terkenal amat bijak di sebuah desa. Suatu kali Tuhan mengunjunginya dan berkata kepadanya: “Pergilah ke ujung timur desa, kamu akan menemui orang yang paling saleh di desa itu,” kata-Nya. “Ia pastilah seorang petapa yang hebat,” pikir pemimpin itu. Ia pun pergi ke tempat yang dimaksudkan tersebut. Ternyata di sana ia hanya menemukan seorang petani sederhana. “Mungkinkah petani ini yang disebut orang yang paling saleh dan bijak di desa ini?” kata pemimpin itu di dalam hati. Ia lalu mengamati gerak-gerik si petani. Pagi-pagi buta petani itu bertekun di dalam doa, lalu, petani itu berangkat ke sawah dan bekerja dengan tekun, sampai matahari terbenam. Pada malam hari, sebelum tidur petani itu kembali bertekun di dalam doa. Begitulah kegiatan yang dilakukan oleh petani tersebut setiap harinya.

“Tuhan!” protes si pemimpin itu, “Engkau bilang bahwa petani itu adalah orang bijak dan saleh, padahal dalam sehari, petani itu cuma dua kali ia berdoa kepada-Mu?”

Kata Tuhan menjawab, “Isilah gelas ini dengan air sampai penuh, lalu bawalah berkeliling desa. Airnya tidak boleh tumpah sedikitpun!” Walaupun tidak mengerti apa yang diperitahkah oleh Tuhan, pemimpin itu tetap melakukan apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya. Sekembalinya ke rumah, Tuhan bertanya kepada pemimpin itu, “Tadi, seberapa sering kamu mengingat Aku?” Jawab pemimpin itu, “Tidak sekalipun. Aku sibuk menjaga air di dalam gelas agar tidak tumpah.”Kata Tuhan “Kau kalah dengan petani itu, di tengah kesibukkannya saja si petani mengingat Aku dua kali, kenapa kamu tidak?”

Seberapa sering kita mengingat Tuhan di tengah segala aktivitas dan rutinitas kita sebagai pemimpin: pemimpin diri sendiri, pemimpin keluarga, hingga pemimpin bagi orang lain, sebegitu jugalah kadar kasih kita kepada Tuhan.

Menjadi seorang pemimpin yang baik hendaknya memiliki karakter yang mumpuni, yaitu: pertama,  pemimpin harus punya pandangan yang objektif. Jika memang benar, ya mengatakan yang benar, jika salah, ya mengatakan salah.

Lawan dari sifat objektif adalah subjektif yang mempunyai arti mencampur adukkan  penilaian dengan perasaan pribadi. Benar atau salah, baik atau buruknya sesuatu lebih ditentukan oleh perasaan suka atau tidak suka, bahkan ditentukan oleh kedekatan hubungan, semisal teman akrab, saudara. Kalau seseorang (misalnya: kerabat dekat, saudara, teman) itu disukai dan dianggap selalu benar – seakan tidak ada celanya, seseorang itu dibela mati-matian. Namun, sebaliknya, jikalau seseorang itu tidak disukai dan bahkan tidak punya hubungan apa-apa dengan dirinya, seseorang itu dianggap selalu salah, seakan-akan di dalam diri orang itu tidak ada kebaikan sama sekali, mungkin orang itu akan dicela habis-habisan. Orang yang subjektif tidak layak menjadi pemimpin!

Kedua, setia pada komitmen. Andai saja kita tahu bahwa Tuhan akan senang kalau kita menjadi pemimpin yang jujur, pemimpin yang bebas dari KKN (korupsi, kolusi, nepotisme), pemimpin yang setia dengan janjinya, pemimpin bertanggung jawab dalam pekerjaannya, tentu saja kita akan melakukan hal itu dengan gembira dan semangat. Akan tetapi, besarnya komitmen kita sebagai pemimpin harus dilakukan sebagai wujud cinta kasih kita kepada Tuhan.

Ketiga, tidak ambisius mengejar kekuasaan. Di dalam dunia ini, ada banyak pemimpin yang hanya memikirkan kekuasaan dan kepentingan pribadi, hal itu berlangsung dari dulu hingga sekarang. Yang membutakan diri kita terhadap kenyataan adalah ketika melihat bahwa ada orang lain yang lebih potensial dan lebih pantas dari kita, kita malah melihat orang itu sebagai ancaman untuk disingkirkan. Inilah contoh dari rasa ambisius. Di dalam hidup kita, ada banyak masalah ditimbulkan yang faktor penyebabnya adalah karena pemimpin yang ambisius mengejar kekuasaan, dan tidak mampu untuk menahan diri. Kejahatan, pertikaian antar kelompok masyarakat kerap terjadi karena pemimpin yang memiliki rasa ambisius; hanya mengikuti emosi pribadi, dan tidak menggunakan akal sehat.

Tidak gampang! Tidak mudah! Namun, jawabanya jelas. Andai saja semua pemimpin di dunia ini memiliki ketiga kriteria tadi, akan betapa damainya dunia ini atau minimal tidak akan seburuk sekarang, sebab tidak dapat disangkal bahwa hal-hal buruk yang terjadi di muka bumi ini paling banyak disumbang oleh para pemimpin yang buruk.