Mari Menjadi Teladan

Oleh: Frater Rony Suryo Nugroho

“Aku minta kepadamu, saudara-saudara, jadilah sama seperti aku, sebab aku pun telah menjadi sama seperti kamu. Belum pernah kualami sesuatu yang tidak baik dari padamu.” (Gal. 4: 12)

teladan

Kutipan ini memang terkesan sombong, seolah diriku adalah yang paling baik. Orang lain diajak untuk menjadi sama seperti diriku. Memangnya, siapakah diriku ini, sehingga orang lain harus sama sepertiku? Dan mengapa aku pun menjadi sama sepertimu? Kata ‘sama’ menjadi poin penting dari kalimat ini. Paulus mengajak umat Galatia untuk menjadi sama seperti dirinya, karena dirinya pun telah menjadi serupa dengan mereka. Gaya bahasa ini merupakan gaya yang biasa digunakan pada konteks tempat dan zaman itu. Memang, gaya ini terkesan tidak biasa dan sombong untuk zaman sekarang.

Perlu adanya keberanian untuk berani mengungkapkan ajakan ini. Ajakan ini mengandung konsekuensi bahwa diri kita harus layak untuk ditiru oleh orang lain. Proses meniru dimulai dari proses melihat, mendengar dan merasakan. Orang lain mendapatkan kejelasan informasi dan menyimpannya di dalam diri, menjadikannya sebagai miliknya sendiri, dan melakukannya sebagai hasil proses imitasi. Selama proses ini berjalan, terjadi proses mengambil pertimbangan.

Bercermin dari ajakan Paulus tersebut, ajakan untuk menjadi sama dengan diri kita dapat diartikan sebagai ajakan untuk menjadi teladan. Hal ini dapat menjadi perhatian bagi hidup harian kita. Untuk menjadi teladan, seseorang perlu memiliki integritas diri yang kuat. Apa yang dikatakannya harus sesuai dengan apa yang dilakukannya. Sekadar kata-kata tidaklah cukup untuk membawa perubahan; diperlukan contoh tindakan yang dapat dilakukan dan ditiru. Tidak perlulah berbagai macam hal secara panjang lebar dikatakan; cukuplah kita melakukan apa yang kita katakan tersebut. Ada ungkapan yang mengatakan: satu tindakan lebih bermakna dari pada seribu kata-kata.

Sebelum menjadi teladan, seseorang harus menginternalisasikan terlebih dahulu suatu nilai yang diyakininya. Nilai tersebut dihidupi dan dijadikan sebagai miliknya, sehingga tindakan yang dilakukannya asli muncul dari dalam dirinya sendiri. Bahaya untuk menjadi teladan adalah munculnya sikap bertopeng, memperlihatkan tindakan yang artifisial karena dilihat orang. Ketika tidak ada lagi orang yang melihat, tindakan itu pun tidak dilakukan lagi.

Kita membutuhkan keteladanan dalam berbagai segi. Orang-orang yang lebih tua memang perlu menjadi teladan bagi orang-orang yang lebih muda; namun lebih dari itu, setiap orang perlu menjadi teladan bagi orang lain, menawarkan nilai positif yang dihayatinya kepada orang-orang di sekitarnya. Menjadi teladan bukan lagi menjadi kewajiban orang yang usianya lebih tua kepada yang lebih muda, tetapi kewajiban setiap orang. Kita semua, sebagai warga Gereja, dapat belajar satu sama lain, saling melengkapi dan menguatkan. Dengan begitu, Gereja kita ini tetap menjadi community of learners yang selalu terbuka terhadap perbaikan dan perkembangan ke arah yang lebih baik.

Berbagai keteladanan dapat saling kita bagikan: kesalehan, kepekaan, kedisiplinan, keheningan, kegembiraan, kesabaran, kerendahan hati, ketegasan, tanggung jawab, kebersihan, ketekunan, keramahan, dll. Dengan begitu, kita tidak akan kekurangan bahan untuk dipelajari.