Model kepemimpinan Kristiani

Oleh: Romo Robertus Hardiyanta, Pr

tanganBerbicara tentang kepemimpinan sesungguhnya ada banyak model. Tiap model kepemimpinan mempunyai kekhasan dan keunikan. Ki Hajar Dewantara merumuskan kepemimpinan dengan 3 ungkapan terkenal: “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani.” Seorang pemimpin ketika berada di depan harus memberi teladan, di tengah-tengah yang dipimpin membangun kehendak atau menumbuhkan kemauan, di belakang menjadi penyemangat atau pemberi support. Sementara itu dalam dunia yang berkembang saat ini ada begitu banyak model kepemimpinan yang dikembangkan.

Sebagai orang yang menjadi anggota Gereja, tentunya model kepemimpinan Yesus Kristus adalah yang selayaknya kita ikuti. Model kepemimpinan Yesus Kristus bahkan dijadikan model oleh banyak pemimpin dunia; dan rupanya kepemimpinan Yesus hingga saat ini masih sangat relevan untuk diterapkan. Yesus Kristus bahkan diyakini sebagai seorang pribadi yang memiliki strategi kepemimpinan yang luar biasa dan belum ada yang menandingi. Hal itu terbukti bahwa hingga hari ini separuh lebih dari penduduk dunia menjadi pengikut-Nya.

Terlalu banyak untuk meneladan dan memperoleh gambaran yang lengkap mengenai kepemimpinan Yesus Kristus. Praktis seluruh Injil, baik dari apa yang dikatakan maupun yang dilakukan oleh Yesus Kristus adalah contoh kepemimpinan yang selalu relevan untuk diteladan. Kepemimpinan Yesus Kristus adalah kepemimpinan yang unik. Yesus Kristus sendiri mengatakan bahwa Dia adalah seorang Guru, tetapi juga seorang Gembala. Sebagai seorang Guru Yesus Kristus mengajar murid-muridnya tidak seperti para Rabbi Yahudi. Sebagai Gembala, Yesus Kristus pun tidak seperti gembala yang biasa. Hampir setiap peristiwa atau adegan dalam Injil menunjukkan kepemimpinan Yesus yang sangat unik dan luar biasa.

Namun demikian pada dasarnya dapatlah dikatakan bahwa kepemimpinan Yesus Kristus mempunyai beberapa ciri.

Ciri yang pertama sering diistilahkan bahwa kepemimpinan Yesus Kristus adalah kepemimpinan paritisipatif. Dalam memimpin Yesus Kristus melibatkan murid-murid, dan tidak bertindak seorang diri. Hal ini sangat nampak dalam mukjizat pergandaan roti misalnya. Yesus meminta para murid untuk memberi makan kepada orang banyak, menggandakan roti yang dibawa murid-murid dan meminta murid-murid membagikan kepada orang banyak. Yesus Kristus mempunyai otoritas kepemimpinan, tetapi tidak bertindak otoriter (lawan kepemimpinan partisipatif).

Ciri kedua kepemimpinan Yesus adalah kepemimpinan yang mengem-bangkan atau memberdayakan atau sering disebut dengan istilah empowering. Yang amat jelas dari ciri kepemimpinan ini adalah bahwa Yesus mengutus murid-murid dan mereka diberi daya kekuatan untuk mengusir setan dan melenyapkan segala penyakit. Yesus Kristus tidak ingin menjadi pemimpin “one man show” Murid-murid pun bahkan bisa melakukan seperti yang dilakukan-Nya.

Ciri ke tiga kepemimpinan Yesus Kristus adalah kepemimpinan yang membawa perubahan atau sering disebut sebagai kepemimpinan transformatif. Orang yang mengalami perjumpaan dengan Yesus Kristus mengalami perubahan total. Sebagai contoh Bartimeus, si buta itu, setelah bertemu dengan Yesus ia tidak lagi buta, tidak lagi pasif dan duduk di pinggir jalan, melainkan melihat, aktif dan mengikuti Yesus Kristus dalam perjalanan-Nya mewartakan Kerajaan Allah. Masih banyak contoh lain dalam Injil bahwa kepemimpinan Yesus Kristus membawa perubahan baik dalam cara pandang, perubahan realitas, bahkan perubahan substansial  (terjadi mukjizat).

Kepemimpinan gerejawi terutama dalam memimpin jemaat atau umat selayaknya berkiblat pada kepemimpinan Yesus Kristus sendiri. Yang tidak mudah dan kiranya harus dicari dalam bentuk-bentuk kongkritnya adalah bagaimana menerapkan ciri-ciri kepemimpinan tersebut dalam konteks jemaat atau umat saat ini. Inilah tugas kita untuk menemukan dan menerapkan kepemimpinan Yesus Kristus dalam gereja kita dewasa ini.

Sebagai tolok ukur bila kepemim-pinan itu baik, tentu harus makin banyak orang yang terlibat dalam kehidupan menggereja, makin banyak orang diberdayakan atau berkembang dalam kemampuan dan terjadi perubahan yang signifikan, ada kemajuan baik secara kuantitatif maupun kualitatif dalam kehidupan jemaat.

Semoga dengan makin sering membaca Kitab Suci, para pemuka jemaat makin belajar bagaimana semestinya memimpin umat, karena dalam Kitab Suci terutama Injil kita dapat belajar untuk menjadi pemimpin model Yesus Kristus.***