Pemimpin yang demokratis

pemimpin

Tahun 2014 disebut-sebut sebagai tahun pemilu. Beberapa macam pemilihan akan kita lakukan untuk memilih para pemimpin yang kita harapkan, dapat menjadi wakil rakyat. Sosok-sosok calon pemimpin juga mulai dimunculkan secara subur seperti jamur di musim hujan: politisi, artis, walikota, penyanyi dangdut, tukang parkir, pedangang asongan, dan seterusnya. Di negara Indonesia ini, demokrasi memang terasa lebih banyak menimbulkan gejolak. Demokrasi itu selalu noisy, menurut Anies Baswedan. Banyak pikiran dan perasaan perlu dirangkum atas nama persatuan dan perwakilan. Kendati demikian, kita masih mempercayai bahwa demokrasi adalah jalan yang dapat kita gunakan untuk berpartisipasi dalam upaya mencapai kebaikan bersama.

Demokrasi bukan hanya masalah ideologi, sistem atau peraturannya, tetapi juga masalah aktor atau pelakunya. Pelaku demokrasi adalah seluruh rakyat termasuk pemimpin yang akan terpilih. Jika kita membatasi ulasan pada sosok pemimpin, maka kita patut melihat usaha Bennis dan Goldsmith (1997) untuk mendeskripsikan empat kualitas kepemimpinan yang dapat menimbulkan kepercayaan. Keempat kualitas tersebut adalah visi, empati, konsistensi dan integritas. Pertama, kita cenderung mempercayai pemimpin yang membuat visi yang menarik, yaitu pemimpin yang dapat menarik anggota berdasar pada keyakinan dan ilmu pengetahuan dari tujuan organisasi tersebut. Kedua, kita cenderung percaya pada pemimpin yang demokratis dan berempati pada anggotanya, pemimpin yang menunjukkan bahwa mereka mengerti, melihat dan mengalami dunia ini. Ketiga, kita mempercayai pemimpin yang konsisten. Hal ini tidak berarti bahwa kita mempercayai pemimpin yang posisinya tidak pernah berubah. Perubahan dimengerti sebagai proses untuk semakin menjadi signifikan dan relevan. Keempat, kita lebih mempercayai pemimpin yang punya integritas kuat. Apa yang dikatakan sesuai dengan apa yang dilakukan.

Kita dapat menggunakan empat kriteria tersebut untuk menilai para pemimpin yang akan kita pilih dan diri kita sendiri. Orang-orang yang menjadi calon pemimpin tersebut sebenarnya dari sisi leadership tidaklah diragukan lagi. Pengalaman telah membuktikan bahwa mereka telah lolos uji. Yang berbeda dari mereka adalah idealisme, agenda politik, interest, dan proporsi dari semuanya itu. Dan kini, satu hal yang juga berbeda-beda dari mereka adalah penguasaan dan penerapan etika publik yang tepat.

Dalam tradisi Yunani Kuno, orang-orang yang menempati posisi pemerintahan adalah para filsuf, yaitu mereka yang terbiasa mencintai dan berpikir mengenai kebijaksanaan. Filsafat berasal dari kata philosophia yang terdiri dari dua kata, yaitu philo (cinta) dan sophia (kebijaksanaan). Mereka dianggap sebagai orang-orangĀ  yang dekat dengan Yang Transenden. Segala pemikiran dan keputusan yang mereka ambil untuk kepentingan negara pun dianggap sebagai keputusan atau pemikiran dari Yang Ilahi. Sejak awal kebutuhan jasmani mereka, seperti makan dan minum, sudah tercukupi dan tugas mereka hanyalah berpikir. Maka tidak heran jika para filsuf selalu digambarkan sebagai orang yang gemuk. Bercermin dari budaya Yunani ini, kita pun berharap bahwa para pemimpin adalah orang-orang yang tidak lagi ribut atau sibuk mencari pemenuhan harta dan kebutuhan psikologis, tetapi mendedikasikan sepenuh hidupnya demi kebaikan orang banyak. Tidaklah naif jika kita mengharapkan bahwa para pemimpin haruslah dekat dengan Tuhan.

Selanjutnya, marilah kita berharap akan datangnya pemimpin yang selama ini kita nanti-nantikan. Rancangan yang normatif dan idealis biasanya akan terungkap, seperti hal-hal berikut ini. Seorang pemimpin perlu mampu menjawab dengan cermat apa yang menjadi pertanyaan dan persoalan paling fundamental orang-orang yang akan menjadi pengikutnya. Tanpa menyentuh persoalan yang paling mendasar ini, ia ibarat orang yang membangun rumah tanpa pondasi yang kuat. Perlulah ia berani untuk mengangkat persoalan yang krusial dan sensitif dengan kata-kata yang tepat dan kena. Lebih dari sekadar berkata-kata, penjelasan terhadap pertanyaan mendasar itu memang dihayati oleh si pemimpin sebagai bagian dari hidupnya sendiri. Kesaksian hidup memang memiliki sisi pastoral yang sangat kuat.

Seorang pemimpin tidak memiliki kebenaran mutlak untuk selamanya. Tidak ada kepemimpinan yang ajeg, seakan kebenaran hari ini akan berlaku untuk seterusnya. Semua pemimpin beresiko gagal dan jatuh. Paling tidak kita sudah melihat adanya pemimpin yang berhasil, lalu jatuh, kembali pada posisinya, berefleksi dan memperbaiki diri, dan seterusnya. Pemimpin dituntut untuk mau belajar dan memperbarui diri.

Rumitkah kriteria pemimpin yang kita buat? Sebenarnya ada satu jawaban sederhana untuk pertanyaan ini: ia bisa dipercaya. Kepercayaan adalah hal sederhana yang menjadi langka ditemui pada zaman ini. Banyak orang pandai berbicara, tetapi sedikitlah kita dapat menemukan orang yang dapat dipercaya. Para pemimpin dan kita mungkin punya kekurangan dan kelemahan, dan pemimpin tidak dituntut untuk sempurna. Paling tidak, ia bisa dipercaya.